RADAR KUDUS - Stadion Allianz Turin seakan berubah jadi arena penuh ketegangan pada Sabtu (27/9) malam WIB. Juventus yang diunggulkan justru harus puas dengan hasil imbang 1-1 melawan Atalanta.
Laga ini bukan sekadar duel Serie A biasa, melainkan potret masalah mendasar Juventus: dominan dalam penguasaan bola, namun rapuh saat menghadapi serangan balik.
Atalanta, meski harus mengakhiri pertandingan dengan 10 pemain, berhasil membuat publik tuan rumah cemas hingga menit terakhir. Andai bukan karena gol Cabal di menit ke-78, Bianconeri bisa saja pulang dengan wajah tertunduk di hadapan puluhan ribu tifosi sendiri.
Baca Juga: Imbang Lagi! Juventus Ditahan Atalanta, Cabal Jadi Pahlawan Setelah Nyaris Tumbang di Kandang
Serangan Bertubi-Tubi Juventus yang Gagal Jadi Gol
Sejak menit pertama, Juventus tampil garang. Pierre Kalulu hampir membuka keunggulan lewat sundulan keras yang membentur tiang pada menit kedua.
Teun Koopmeiners kemudian menguji refleks Marco Carnesecchi, kiper Atalanta yang tampil luar biasa sepanjang malam.
Gelombang serangan La Vecchia Signora terus berdatangan. Vasilije Adzic melepaskan tembakan jarak jauh di menit ke-16, disusul Khephren Thuram tiga menit kemudian.
Namun, berkali-kali percobaan itu mentah di tangan Carnesecchi yang tampak berada di performa puncaknya.
Carnesecchi seakan menjadi tembok tak tertembus. Setiap kali Juventus melepaskan ancaman, ia selalu muncul dengan penyelamatan penting. Atmosfer di Allianz Stadium berubah: frustrasi mulai terasa meski laga belum setengah jalan.
Baca Juga: Son Heung-min & Bouanga: Duet Maut LAFC yang Onfire di MLS, Akankah LAFC Hancurkan St. Louis Lagi?
Gol Sulemana yang Membungkam Allianz
Ketika semua mengira babak pertama berakhir tanpa gol, Atalanta justru melukai tuan rumah. Dalam injury time, Juventus kehilangan bola di lini pertahanan akibat blunder Adzic.
Kamaldeen Sulemana, yang memanfaatkan kesalahan itu, langsung bergerak cepat.
Dengan skill individu mumpuni, Sulemana mengecoh Federico Gatti dan melepaskan tembakan rendah yang menembus celah pertahanan.
Bola tak mampu dihentikan Michele Di Gregorio, membuat Allianz Stadium terdiam seketika. Skor 0-1 menutup babak pertama, dan Juventus masuk ruang ganti dengan kepala tertunduk.
Babak Kedua: Juventus Mengejar, Atalanta Bertahan
Tertinggal di kandang membuat Juventus bermain lebih agresif setelah turun minum. Mereka menggempur dari berbagai sisi, namun Atalanta tampil disiplin dengan blok pertahanan rapat.
Tim tamu bahkan hampir menambah gol. Pada menit ke-62, sundulan Mario Pasalic dari situasi sepak pojok memaksa Di Gregorio melakukan penyelamatan gemilang. Situasi itu membuat para pendukung Juventus semakin was-was.
Meski mendominasi, Juventus terlihat buntu. Serangan yang mereka bangun selalu kandas sebelum mencapai target. Carnesecchi terus menjadi sosok yang menakutkan di bawah mistar Atalanta.
Baca Juga: Klasemen MLS Wilayah Timur 2025 Terbaru, Inter Miami Gagal Pangkas Poin dengan Pemuncak Klasemen
Cabal Hadir Sebagai Penyelamat
Kebuntuan Juventus baru pecah di menit ke-78. Joao Mario mengirimkan umpan silang ke kotak penalti yang gagal dihalau dengan sempurna oleh Odilon Kossounou. Bola liar jatuh tepat di kaki Juan Cabal.
Tanpa ragu, bek asal Kolombia itu melepaskan tembakan keras. Berat Djimsiti berusaha menutup, tetapi bola sudah lebih dulu meluncur deras ke gawang. Gol itu disambut sorakan lega para tifosi Juventus. Cabal, yang biasanya bekerja di lini belakang, malam itu tampil sebagai pahlawan tak terduga.
De Roon Dikartu Merah, Juventus Tetap Mandul
Hanya semenit setelah gol penyama, Atalanta mendapat pukulan telak. Marten de Roon diganjar kartu kuning kedua akibat pelanggaran terhadap Weston McKennie. La Dea harus bertahan dengan 10 pemain dalam sisa laga.
Seharusnya kondisi itu bisa dimanfaatkan Juventus. Namun, meski unggul jumlah pemain, mereka tetap gagal menemukan gol kemenangan. Serangan demi serangan berakhir sia-sia, hingga peluit panjang memastikan skor akhir 1-1.
Tren Imbang, Juventus dalam Tekanan
Hasil imbang ini menambah catatan kurang meyakinkan Juventus. Sebelum laga ini, mereka sudah ditahan Borussia Dortmund di Liga Champions dan Hellas Verona di Serie A.
Tiga hasil seri beruntun menimbulkan pertanyaan besar: apakah Juventus benar-benar siap bersaing memperebutkan scudetto musim ini?
Secara klasemen, tambahan satu poin membuat mereka duduk di posisi kedua dengan 11 poin. Namun, tren mandek ini bisa jadi penghalang serius jika tidak segera diperbaiki.
Di sisi lain, Atalanta dengan sembilan poin tetap menjaga posisi di papan atas dan menunjukkan mental tangguh meski bermain di kandang lawan.
Sorotan Individu: Dua Kiper, Dua Cerita
Laga ini juga menyuguhkan duel menarik antara dua kiper: Michele Di Gregorio di kubu Juventus dan Marco Carnesecchi dari Atalanta.
Di Gregorio memang sempat kecolongan oleh gol Sulemana, tetapi penyelamatannya terhadap sundulan Pasalic menjaga asa Juventus tetap hidup.
Sementara itu, Carnesecchi tampil sebagai bintang Atalanta. Ia melakukan serangkaian penyelamatan krusial, mulai dari sundulan Kalulu, tendangan Adzic, hingga percobaan Koopmeiners. Tanpa performanya, Atalanta hampir pasti kalah.
Analisis Taktik: Juventus Kurang Kreatif, Atalanta Disiplin
Secara taktik, Juventus unggul jauh dalam penguasaan bola. Namun, penguasaan itu sering terjebak dalam permainan monoton: bola berputar dari sayap ke tengah tanpa tusukan tajam. Kurangnya kreativitas lini tengah membuat mereka kesulitan menembus pertahanan rapat Atalanta.
Sebaliknya, Atalanta menunjukkan betapa pentingnya disiplin bertahan. Mereka tahu sulit bersaing dalam penguasaan bola, sehingga fokus pada blok rendah dan serangan balik cepat. Hasilnya, meski kalah dominasi, mereka berhasil mencetak gol dan nyaris membawa pulang kemenangan.
Hasil 1-1 ini mungkin hanya satu poin, tetapi maknanya jauh lebih besar. Juventus harus segera menemukan solusi agar dominasi mereka tidak lagi berakhir dengan frustrasi.
Mengandalkan keberuntungan atau penyelamatan pemain belakang seperti Cabal bukanlah strategi jangka panjang.
Bagi Atalanta, meski kehilangan dua poin di menit akhir, hasil ini tetap terasa seperti kemenangan kecil.
Bermain di kandang Juventus dengan 10 pemain dan pulang dengan satu angka adalah bukti karakter tim yang tangguh.
Serie A musim ini masih panjang, tetapi laga di Turin menjadi pengingat bahwa Juventus belum benar-benar siap melaju mulus. Mereka butuh lebih dari sekadar penguasaan bola—mereka butuh efektivitas.
Editor : Mahendra Aditya