RADAR KUDUS - Belakangan ini, media sosial dihebohkan dengan fenomena yang menarik perhatian banyak warga Bekasi dan Depok, Jawa Barat.
Mereka beramai-ramai datang ke sejumlah lokasi untuk mengikuti prosedur pemindaian retina mata, yang konon dihadirkan oleh aplikasi bernama World App.
Namun, yang membuat antrean ini semakin mencuri perhatian adalah imbalan berupa uang tunai yang diberikan kepada siapa saja yang bersedia melakukan pemindaian retina mata.
Baca Juga: 12 Jam yang Menegangkan: Proses Evakuasi Tragis Pendaki Jember dari Jurang Maut Gunung Saeng
Angka nominal imbalan yang dijanjikan bervariasi, berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu per orang, tergantung lokasi dan kebijakan masing-masing tempat.
Salah satunya, di kawasan Jalan Juanda, Bekasi, terlihat banyak warga berdatangan untuk berpartisipasi dalam pemindaian tersebut.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada Bekasi, warga Depok juga turut memeriahkan situasi serupa.
Di media sosial, akun-akun seperti @depokhariini mengunggah foto lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat pemindaian retina mata aplikasi World App.
Salah satu warga bernama Dewi menyebutkan, “Di sini kalau berhasil scan retina, kita dapat uang Rp 300 ribu. Banyak yang datang kesini,” katanya.
Baca Juga: Lirik dan Makna Arti Lagu No Na - Shoot (+62)
Apakah Ini Sekadar Pencarian Uang Sampingan, Atau Ada Risiko Tersembunyi?
Sementara sebagian besar warga merasa uang tunai yang ditawarkan menarik, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya memberikan pandangannya terkait aplikasi World App.
Menurutnya, aplikasi semacam ini bisa saja aman jika dikelola dengan benar. “Jika pengelolaan data dilakukan dengan baik, dan diaudit oleh lembaga independen yang terpercaya, aplikasi ini dapat sangat berguna,” kata Alfons.
Alfons lebih lanjut menjelaskan bahwa teknologi seperti World App memiliki potensi untuk menangani masalah yang selama ini dihadapi di Indonesia, seperti penyalahgunaan akun bot atau buzzer yang kerap digunakan untuk kepentingan politik.
“Sistem biometrik dalam World App bisa mendeteksi aktivitas yang mencurigakan dan mencegah penyalahgunaan identitas,” ujarnya.
Selain itu, Alfons menekankan bahwa teknologi ini juga dapat membantu mencegah praktik pemalsuan dokumen identitas, seperti KTP, SIM, atau paspor.
Meskipun seseorang bisa mengganti identitasnya, biometrik yang terekam tetap akan sama dan bisa terdeteksi oleh sistem.
Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Biaya Haji Turun Lagi, Menag Nasaruddin: Kita Akan Evaluasi Semua Komponennya
Isu Keamanan Data Pribadi dan Potensi Kebocoran
Tentu saja, ada kekhawatiran terkait dengan data pribadi yang bisa bocor jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Mengenai hal ini, Alfons menjelaskan bahwa selama data tersebut dienkripsi dengan baik dan dikelola oleh institusi yang dapat dipercaya, seharusnya tidak ada masalah besar.
Dia juga mengingatkan bahwa data pribadi orang Indonesia sudah banyak yang dikelola oleh pihak asing, seperti aplikasi Google Maps dan Waze, yang memiliki risiko bocor jika disalahgunakan.
“Mengenai data pribadi yang dikelola oleh pihak luar, sebenarnya sudah banyak data warga negara Indonesia yang disimpan oleh perusahaan asing.
Pemerintah juga harus lebih menyadari potensi bahayanya jika data tersebut bocor,” katanya.
Alfons juga berpendapat bahwa seharusnya pemerintah Indonesia bisa memanfaatkan sistem seperti World App, dengan beberapa penyesuaian agar data biometrik warga negara Indonesia tetap berada di dalam negeri dan diawasi dengan ketat.
"Jika aplikasi ini bisa memenuhi persyaratan keamanan dan menyimpan data di Indonesia, maka pemerintah bisa mendukungnya, dan teknologi ini bisa memberikan manfaat besar bagi negara," tambahnya.
Antara Peluang dan Risiko
Fenomena antrean untuk pindai retina mata demi imbalan uang tunai memang menarik banyak perhatian, namun juga menyimpan berbagai potensi risiko, baik dari segi keamanan data pribadi maupun penyalahgunaan identitas.
Aplikasi seperti World App menawarkan solusi yang menarik, namun perlu ada pengawasan dan regulasi yang jelas dari pemerintah agar teknologi ini bisa digunakan dengan aman.
Sebagai masyarakat, penting untuk tetap waspada dan cerdas dalam memilih teknologi yang digunakan, serta memastikan bahwa data pribadi kita dikelola dengan aman.
Keamanan siber adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam era digital ini.
Editor : Mahendra Aditya