RADAR KUDUS — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mematangkan rencana besar substitusi energi rumah tangga nasional.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proyek uji coba pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi dalam kemasan tabung 3 kilogram kini telah memasuki fase krusial, yakni pengujian tahap ketiga.
Program ini digulirkan sebagai langkah taktis pemerintah untuk menekan ketergantungan impor dan membengkaknya beban subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung melon.
Baca Juga: Aturan Baru Pilpet Jepara Hapus Uang Jaminan, Ini Kata Ketua DPRD
Kendati menawarkan efisiensi ekonomi yang tinggi, Menteri Bahlil secara asertif mewanti-wanti masyarakat agar memahami bahwa karakteristik CNG sangat berbeda dengan LPG konvensional.
Ia menekankan aspek keamanan (safety) wajib menjadi prioritas utama sebelum energi alternatif ini benar-benar didistribusikan ke dapur-dapur rumah tangga.
Perbedaan Tekanan Ekstrem: Gas Melon vs Tabung CNG
Menteri Bahlil menjelaskan bahwa perbedaan paling mendasar antara kedua jenis gas tersebut terletak pada besaran tekanan di dalam tabung penyimpanan.
Jika tekanan pada tabung LPG 3 kg biasa tergolong rendah karena gas disimpan dalam bentuk cair, hal sebaliknya berlaku pada CNG yang disimpan dalam bentuk gas murni dengan kompresi yang sangat tinggi.
Atas dasar itulah, standardisasi teknologi tabung menjadi fokus yang tidak boleh ditawar dalam riset mendalam ini:
-
Besaran Tekanan: Tabung CNG 3 kilogram dirancang untuk mampu menahan tekanan ekstrem berkisar antara 200 hingga 250 bar.
-
Aspek Keamanan: Mengingat tingginya tekanan tersebut, pemerintah harus memastikan material tabung dan katup (valve) memiliki kekuatan mekanis yang jauh lebih kokoh dibandingkan tabung LPG biasa guna mengantisipasi risiko kebocoran.
-
Garis Waktu Kebijakan: "Ini kita harus sangat hati-hati. Nah, kalau sudah uji coba selesai, Insyaallah di bulan Juli ini selesai, baru kemudian akan kita umumkan secara resmi ke publik," ujar Bahlil Lahadalia saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Potensi Efisiensi: Lebih Murah 40 Persen, Pangkas Subsidi Rp30 Triliun
Sisi Keunggulan CNG: Di balik tantangan teknisnya, CNG menyimpan potensi luar biasa sebagai penyelamat fiskal negara.
Bahlil menjamin bahwa harga jual CNG untuk sektor domestik akan jauh lebih ekonomis, yakni berkisar 30 hingga 40 persen lebih murah daripada harga keekonomian LPG.
Efisiensi harga yang signifikan ini diyakini akan membawa dampak domino positif terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dalam menekan kebocoran subsidi energi.
Bahlil kemudian memberikan rincian kalkulasi matematis terkait proyeksi penghematan kas negara:
-
Beban Subsidi Saat Ini: Anggaran subsidi LPG nasional saat ini berada pada angka yang sangat besar, yakni berkisar antara Rp86 triliun hingga Rp90 triliun per tahun.
-
Rasio Penghematan: Jika program substitusi CNG ini mampu menyerap pasar domestik dan berjalan optimal dengan asumsi rata-rata efisiensi minimal 25 hingga 30 persen.
-
Dana APBN yang Diselamatkan: Pemerintah diproyeksikan mampu melakukan penghematan anggaran atau efisiensi fiskal sebesar Rp27 triliun hingga Rp30 triliun setiap tahunnya.
Tantangan Ukuran Tabung dan Langkah Inovasi Pemerintah
Pemanfaatan CNG sebenarnya bukan merupakan hal yang asing dalam lanskap energi Indonesia.
Sektor transportasi massal (seperti busway dan bajaj gas) serta sejumlah industri komersial skala besar seperti hotel dan restoran telah lebih dulu memanfaatkannya dengan aman selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Selamat dari McLaren yang Terbelah Dua, Begini Kondisi Andra ST dan Robby Pantjoro
Namun, ketika teknologi ini hendak diturunkan ke skala rumah tangga, tantangan utamanya terletak pada dimensi fisik gawai penyimpanan.
Karakteristik tekanan gas yang sangat tinggi secara teoretis membutuhkan tabung yang tebal, berat, dan berukuran besar.
Oleh karena itu, inovasi pengemasan CNG ke dalam ukuran mini 3 kilogram yang sedang diuji coba oleh pemerintah saat ini menjadi kunci utama agar energi baru ini tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga praktis dan ergonomis untuk digunakan oleh ibu rumah tangga. (*)