RADAR KUDUS – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan nasional.
Berdasarkan data terbaru mengenai indeks literasi di awal tahun 2026, NTT secara mengejutkan berhasil menempati peringkat pertama nasional dalam kategori minat baca.
Pencapaian ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan menjadi penghalang bagi masyarakat di wilayah kepulauan ini untuk membangun kedekatan dengan jendela dunia melalui buku.
Baca Juga: Tertawa Sebagai "Olahraga Ringan": Rahasia Membakar Kalori Hanya dengan Kegembiraan
Keberhasilan ini merupakan buah dari konsistensi panjang dan kolaborasi lintas sektor yang dilakukan secara masif selama beberapa tahun terakhir, mengubah stigma lama dan menjadikan literasi sebagai identitas baru masyarakat NTT.
Pencapaian membanggakan ini tidak diraih secara instan. Semangat membaca yang tumbuh subur di NTT didorong oleh kuatnya inisiatif di tingkat komunitas.
Kehadiran ribuan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar hingga ke pelosok desa menjadi tulang punggung utama.
Relawan literasi di NTT dikenal sangat militan dalam menjemput bola, mulai dari menyediakan perpustakaan apung di wilayah pesisir hingga literasi berkuda di kawasan pegunungan.
Selain itu, program Kampung Literasi yang diinisiasi oleh pemerintah daerah bersama lembaga swadaya masyarakat terbukti efektif dalam mendekatkan buku ke kehidupan sehari-hari anak-anak maupun orang dewasa.
Dukungan dari lembaga pendidikan, perpustakaan daerah, serta berbagai organisasi internasional juga memberikan dampak signifikan.
Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di NTT memungkinkan masyarakat tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mendapatkan keterampilan baru dari apa yang mereka baca.
"Kami melihat adanya pergeseran budaya di NTT. Membaca bukan lagi sekadar tugas sekolah, melainkan sudah menjadi bagian dari kebutuhan sosial dan gaya hidup masyarakat di berbagai kabupaten," ujar salah satu perwakilan pengamat literasi nasional.
Meski telah memimpin di puncak minat baca nasional, para pemangku kepentingan mengingatkan bahwa perjalanan literasi NTT masih panjang.
Fokus saat ini mulai dialihkan pada penguatan literasi di bidang lain, terutama numerasi dan literasi digital, yang masih memerlukan perhatian khusus agar seimbang dengan kemampuan membaca.
Ketimpangan akses infrastruktur digital di beberapa pulau terluar juga menjadi catatan penting agar capaian prestasi ini dapat tersebar secara lebih merata dan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan seperti Kupang.
Baca Juga: Kebangkitan "Retro-Tech": Mengapa Gen Z Kini Berbondong-bondong Kembali ke Earphone Kabel?
Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk terus menjaga momentum ini dengan menambah anggaran untuk pengadaan koleksi buku yang relevan dengan kebutuhan lokal serta meningkatkan kualitas tenaga pustakawan di desa-desa.
Ke depan, diharapkan capaian ini menjadi pemantik bagi provinsi lain di Indonesia untuk lebih serius dalam menumbuhkan budaya membaca.
Dengan keberhasilan ini, NTT kini menjadi role model nasional yang membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan kemauan kuat, budaya literasi dapat tumbuh subur di mana saja. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna