Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

India Akui Bagikan Koordinat Fregat Iran yang Karam Dihantam Kapal Selam AS

Ghina Nailal Husna • Selasa, 10 Maret 2026 | 15:58 WIB

India Akui Bagikan Koordinat Fregat Iran
India Akui Bagikan Koordinat Fregat Iran

RADAR KUDUS – Sebuah pengakuan diplomatik dan militer yang mengejutkan mengguncang tatanan hukum maritim internasional.

Otoritas militer India secara resmi mengakui telah membagikan koordinat lokasi tepat dari fregat Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, kepada pihak Israel dan Amerika Serikat.

Langkah ini berujung pada tenggelamnya kapal tersebut dan tewasnya sedikitnya 104 pelaut Iran di perairan internasional.

Insiden berdarah ini memicu kecaman luas, tidak hanya karena jumlah korban jiwa yang besar, tetapi juga karena rincian status kapal yang saat itu sedang dalam misi damai dan waktu serangan yang terjadi tepat saat jam buka puasa (iftar) di bulan suci Ramadan.

Ironi dari tragedi ini bermula dari hubungan diplomatik. Iran sebelumnya secara resmi diundang oleh India sebagai "tamu kehormatan" dalam latihan Angkatan Laut bergengsi, MILAN 2026.

Sebagai bentuk isyarat persahabatan, Teheran mengirimkan salah satu kapal terbaiknya, IRIS Dena, beserta personel-personel elit angkatan laut mereka.

Namun, peta politik berubah drastis saat operasi udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran meletus.

Fregat IRIS Dena yang berada ribuan kilometer dari perairan asalnya mendadak berada dalam posisi yang sangat rentan di tengah samudera.

Keterlibatan India terkonfirmasi dalam forum Raisina Dialogue. Jenderal Upendra Dwivedi secara terbuka mengakui peran New Delhi dalam membagikan data rute dan koordinat kapal tersebut kepada militer AS demi memperkuat hubungan strategis dengan Washington dan Israel.

"Tenggelamnya kapal Angkatan Laut Iran tentu sangat disayangkan, namun insiden ini terjadi di perairan internasional.

Kapal tersebut berada di bawah perlindungan selama berada di perairan India.

Namun, begitu mereka menyeberang ke perairan internasional, sebagai sekutu strategis Israel, adalah tugas kami di bawah perjanjian strategis baru untuk melaporkan lokasi persis mereka," ujar Jenderal Dwivedi.

Para pakar hukum internasional kini mengategorikan serangan ini sebagai potensi kejahatan perang.

Berdasarkan hukum maritim, sebuah kapal yang berada jauh dari zona konflik dan tidak menunjukkan niat agresif berhak mendapatkan jalur aman.

Laporan lapangan menunjukkan beberapa fakta krusial yang diabaikan dalam serangan tersebut:

1. Simbol Damai: IRIS Dena dilaporkan telah mengibarkan "Bendera Putih" sebagai tanda transit damai dan status hors de combat (tidak sedang bertempur).

2. Konvensi Jenewa: Secara eksplisit, konvensi internasional melarang penyerangan terhadap unit militer yang telah menyatakan diri tidak memiliki kemampuan atau niat untuk berperang dalam rute pulang.

3. Serangan Diam-diam: Sebuah kapal selam serang nuklir milik Amerika Serikat dilaporkan telah menunggu di lepas pantai Sri Lanka, mengintai koordinat yang diberikan, sebelum akhirnya meluncurkan serangan mematikan terhadap kapal yang tengah merayakan iftar tersebut.

Tenggelamnya IRIS Dena bukan sekadar kehilangan alutsista bagi Iran, melainkan luka mendalam bagi diplomasi di kawasan Samudera Hindia.

Pengakuan India ini dinilai banyak pihak telah merusak citra New Delhi sebagai pemimpin negara non-blok dan mediator netral.

Kini, dunia menunggu respons resmi dari Teheran terkait tindakan India dan serangan AS-Israel ini.

Ketegangan di jalur maritim internasional diprediksi akan meningkat tajam, menciptakan ketidakpastian baru bagi keamanan navigasi global. (*)

Editor : Ali Mustofa
#india #Koordinat #pengakuan