RADAR KUDUS - Hoarding disorder adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan.
Belakangan, isu ini semakin sering dibicarakan di media sosial. Artikel ini memaparkan gejala, penyebab, hingga cara menangani hoarding disorder.
Ciri-ciri Hoarding Disorder
Biasanya gangguan ini muncul sejak usia remaja dan berkembang semakin buruk seiring bertambahnya usia.
Mengacu pada informasi dari Mayo Clinic, kondisi tersebut terlihat dari semakin menumpuknya barang di dalam rumah.
Baca Juga: Self-Love: Mengapa Penting dan Bagaimana Cara Memulainya?
Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:
-
Mengumpulkan banyak barang dan menyimpannya meski tidak diperlukan.
-
Tidak mampu membuang atau melepaskan barang, tanpa memandang nilai atau fungsi.
-
Merasa gelisah atau tidak nyaman jika harus menyingkirkan barang.
-
Ruang menjadi sesak dan tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
-
Sering menunda keputusan untuk memilah atau membuang barang.
-
Kesulitan dalam merencanakan, mengatur, dan mengorganisasi benda-benda.
Barang yang Umum Ditimbun
Menurut NHS, mereka yang mengalami hoarding disorder dapat menumpuk hampir apa saja, antara lain:
-
Surat kabar dan majalah
-
Buku
-
Pakaian
-
Selebaran, surat, atau dokumen tidak penting
-
Nota atau tagihan lama
-
Kantong plastik, kotak, dan berbagai wadah
-
Beragam perlengkapan rumah tangga
Sebagian orang bahkan mengadopsi terlalu banyak hewan tanpa mampu merawatnya dengan baik.
Bentuk penimbunan modern juga muncul dalam wujud penyimpanan data digital di ponsel, komputer, atau email yang enggan dihapus.
Faktor Risiko Hoarding Disorder
-
Kepribadian
Kesulitan mengambil keputusan, perhatian yang mudah teralihkan, atau kemampuan organisasi yang rendah berpotensi memicu perilaku menimbun. -
Riwayat Keluarga
Jika ada anggota keluarga yang memiliki kebiasaan menimbun, perilaku tersebut bisa ditiru atau terbentuk pada generasi berikutnya. -
Pengalaman Stres Berat
Kejadian traumatis seperti kehilangan orang terkasih, perceraian, atau musibah dapat membuat seseorang mulai menimbun benda sebagai bentuk “pertahanan emosional”. -
Faktor Lain
Tinggal sendiri, belum menikah, tumbuh dalam kondisi kekurangan, atau hidup di lingkungan keluarga yang berantakan juga meningkatkan risiko.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Hoarding disorder dapat menimbulkan berbagai konsekuensi, antara lain:
-
Risiko jatuh atau cedera akibat ruang yang penuh barang.
-
Terjebak oleh tumpukan yang bergeser.
-
Konflik dengan keluarga atau tetangga.
-
Rasa terasing dan menjauh dari lingkungan sosial.
-
Rumah menjadi tidak higienis dan berpotensi memicu penyakit.
-
Ancaman bahaya kebakaran.
-
Penurunan performa kerja.
-
Masalah hukum jika mengganggu lingkungan sekitar.
Cara Mengatasi Hoarding Disorder
Baca Juga: Self-Diagnosis: Tren Gen Z yang Bisa Menjerumuskan
-
Psikoterapi
Terapis membantu pasien mengelola dorongan menimbun dan melatih kemampuan memilah barang. Terkadang keluarga dilibatkan. -
Pengobatan
Bila hoarding berkaitan dengan gangguan lain seperti depresi atau kecemasan, dokter dapat meresepkan obat antidepresan jenis SSRI. -
Langkah-langkah Praktis
-
Membuat daftar isi rumah.
-
Mengelompokkan barang berdasarkan kategori: simpan, buang, daur ulang, atau donasi.
-
Menyumbangkan barang yang masih layak.
-
Menyerahkan hewan peliharaan berlebih kepada penampungan.
-
Membuang barang sedikit demi sedikit (misalnya satu per hari).
-
Membersihkan ruangan secara rutin.
-
Menggabungkan aktivitas tersebut dengan kegiatan menyenangkan.
-
Meletakkan tempat sampah di tiap ruangan.
-
Mengambil foto kondisi sebelum dan sesudah untuk melihat perkembangan.
-
Melatih pengambilan keputusan cepat terkait barang.
-
Mengatur pernapasan jika merasa cemas saat harus membuang barang.
-
Gangguan ini dapat dikelola jika ditangani dengan tepat. Jika merasakan gejalanya, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.(laura)
Editor : Ali Mustofa