JAKARTA - Jakarta Utara kembali berhadapan dengan ancaman lamanya: banjir rob. Pada Jumat sore, 5 Desember 2025, air laut naik tidak wajar dan merendam sejumlah titik di pesisir ibu kota hingga wilayah Kepulauan Seribu.
Fenomena kali ini bukan sekadar pasang harian—tetapi kombinasi pasang maksimum, fase Bulan Purnama, dan momen Perigee atau Supermoon yang memperkuat tarikan gravitasi terhadap permukaan laut.
BMKG Maritim Tanjung Priok sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini untuk periode 1–10 Desember 2025. Dalam peringatan tersebut, potensi kenaikan ekstrem muka air laut sudah diprediksi bakal berdampak pada kawasan pesisir utara Jakarta.
Pintu Air Pasar Ikan pun ditetapkan pada status Bahaya/Siaga 1 sejak pukul 08.00 WIB, menjadi tanda bahwa rob bisa muncul kapan saja.
Data dari Pusdalops BPBD DKI memperlihatkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Hingga sore hari, setidaknya 6 RT dan satu ruas jalan utama masih digenangi air rob.
Baca Juga: Menlu Buka Suara: Kenapa Bantuan Asing Belum Diizinkan Masuk ke Aceh dan Sumatra?
Rincian wilayah terdampak:
Kepulauan Seribu – 3 RT
-
Kelurahan Pulau Panggang: 2 RT
-
Kelurahan Pulau Tidung: 1 RT
Jakarta Utara – 3 RT
-
Kelurahan Marunda: 2 RT
-
Kelurahan Pluit: 1 RT
Jalan tergenang:
-
Jl. RE Martadinata (Depan JIS), Papanggo, Tanjung Priok
Kendaraan melambat, lalu lintas tersendat, dan beberapa pengendara terpaksa memutar balik karena ketinggian air yang bervariasi.
BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel sejak pagi untuk memantau seluruh titik rawan genangan. Koordinasi dilakukan lintas dinas, melibatkan:
-
Dinas Sumber Daya Air
-
Dinas Bina Marga
-
Dinas Gulkarmat
-
Pemerintah kelurahan dan kecamatan setempat
Sejumlah langkah penanganan pun langsung digerakkan:
-
Penyedotan air dengan pompa portabel
-
Pemeriksaan tali-tali air dan drainase yang tersumbat
-
Pendistribusian kebutuhan dasar bagi warga yang rumahnya tergenang
BPBD menargetkan genangan surut secepat mungkin mengingat potensi rob susulan masih terbuka selama fenomena Supermoon berlangsung.
Meski rob bukan peristiwa baru, peningkatan frekuensi dan durasinya menciptakan tanda bahaya besar untuk Jakarta Utara. Kombinasi kenaikan muka air laut global, penurunan permukaan tanah (land subsidence), dan kondisi drainase yang rapuh menjadi pemicu utama semakin seringnya banjir rob.
Baca Juga: 14 ASN Rembang Tersandung Skandal Sepanjang 2025—Ada yang Dipecat, Diturunkan Jabatan, Kok Bisa?
Fenomena 5 Desember 2025 ini memperlihatkan satu hal:
Jakarta tidak hanya menghadapi bencana harian, tetapi menuju krisis pesisir berskala besar.
Wilayah seperti Pluit, Marunda, hingga Papanggo merupakan titik-titik yang dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan kerentanan ekstrem, baik saat hujan deras maupun pasang tinggi.
Genangan di Pulau Panggang dan Pulau Tidung menunjukkan bahwa desa-desa pesisir kini tak hanya berhadapan dengan abrasi, tetapi juga terjangan rob yang semakin intens.
Warga harus mengevakuasi barang-barang ke area lebih tinggi setiap kali rob datang, karena akses cepat menuju bantuan darurat terbatas.
Fenomena rob di kepulauan menjadi pengingat bahwa naiknya air laut tidak hanya mengancam daratan besar, tetapi pulau-pulau kecil yang berada pada ketinggian minim.
Melalui akun resmi X, BPBD DKI mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga.
Layanan darurat 112 disiapkan selama 24 jam untuk membantu warga jika terjadi kondisi yang membahayakan.
Imbauan ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk antisipasi karena rob susulan bisa muncul tiba-tiba, terutama pada malam hari ketika pasang tinggi lebih sering terjadi.
Banjir rob semakin sering datang dan semakin sulit dikendalikan. Muncul pertanyaan besar:
Apakah Jakarta sudah kehabisan ruang untuk bertahan?
Pakar lingkungan menilai, rob 2025 ini merupakan cerminan bahwa infrastruktur pesisir Jakarta membutuhkan langkah besar—bukan sekadar pompa tambahan atau peninggian jalan temporer.
Sejumlah opsi yang pernah digagas kembali mencuat:
-
Proyek Giant Sea Wall
-
Reklamasi terintegrasi
-
Penguatan tanggul pantai yang melemah
-
Relokasi kawasan ekstrem rawan rob
Namun hingga sekarang, sebagian besar solusi tersebut masih dalam tarik ulur kebijakan dan perdebatan publik.
Kenaikan muka air laut global diprediksi akan terus berlanjut dalam 5–10 tahun mendatang.
Dengan kondisi penurunan tanah Jakarta Utara yang mencapai beberapa sentimeter per tahun, para ahli memperkirakan bahwa rob bisa menjadi banjir permanen pada 2030 di beberapa titik jika tidak dilakukan mitigasi serius.
Rob hari ini mungkin hanya menggenangi beberapa RT.
Namun tren datanya menunjukkan sesuatu yang lebih mengancam:
Jakarta mengalami penurunan daya tahan pesisir secara progresif.
Dan itu bisa menjelma menjadi krisis besar dalam satu dekade ke depan.
Editor : Mahendra Aditya