Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menjaga Tradisi Daerah, Batik Siger Tumbuh Bersama Program Pemberdayaan Rumah BUMN BRI

Zainal Abidin RK • Senin, 1 Desember 2025 | 13:17 WIB
Batik Siger yang dipakai dalam sebuah modeling.
Batik Siger yang dipakai dalam sebuah modeling.

LAMPUNG-Di sebuah rumah produksi batik di sudut Kota Bandar Lampung, tampak para perajin dengan tekun menggoreskan canting di atas kain.

Di tengah aktivitas tersebut, sosok Laila Al Khusna menjadi gambaran perempuan mandiri masa kini. Ia merupakan pendiri Batik Siger yang lebih dari sepuluh tahun terakhir konsisten menggerakkan pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui batik khas Lampung.

Laila berasal dari keluarga pengusaha batik, sehingga kecintaannya terhadap wastra nusantara tumbuh sejak dini.

Penetapan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2009 semakin menguatkan semangatnya. Ditambah lagi, adanya kebijakan pemerintah daerah yang mewajibkan setiap provinsi memiliki batik khas sebagai pakaian dinas ASN dan BUMN membuka peluang besar baginya.

Ia melihat peluang tersebut sebagai tantangan sekaligus kesempatan. Saat itu, hampir tidak ada pembatik asli Lampung karena sebagian besar perajin berasal dari Pulau Jawa.

Berbekal ilmu dari orang tuanya, Laila mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan Batik Siger pada 2008. Dari sanalah Batik Siger berkembang hingga menjadi salah satu identitas budaya Lampung. Ia bercita-cita agar batik Lampung dikerjakan oleh masyarakat Lampung sendiri.

Perjalanan awal usaha tersebut tidaklah mudah. Laila harus mendatangi berbagai lingkungan, mulai dari RT, kelurahan, hingga kelompok ibu-ibu arisan untuk mencari peserta, namun sering kali ditolak.

Ia berpegang pada niat awal agar ilmu yang dimiliki keluarganya bisa bermanfaat bagi masyarakat dan turut mengangkat nama daerah Lampung.

Kini, banyak lulusan pelatihannya yang berhasil membuka usaha batik secara mandiri. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena Batik Siger bukan hanya mencetak perajin, tetapi juga menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Produk Batik Siger didominasi penjualan di Lampung sekitar 80 persen, sementara sisanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia melalui platform digital.

Selain memberdayakan masyarakat, Batik Siger juga mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan. Laila menerapkan konsep zero waste dengan mengolah sisa kain menjadi produk lain yang bernilai jual.

Sekitar 70 persen proses produksi telah menggunakan pewarna alami, sementara limbah dari pewarna sintetis disaring terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan.

Upaya ini mengantarkan Batik Siger meraih Penghargaan Upakarti pada 2014 atas kontribusinya di bidang sosial dan lingkungan.

Laila mengungkapkan bahwa kemajuan Batik Siger tidak lepas dari dukungan Program Rumah BUMN BRI. Ia mulai aktif bergabung sejak sekitar 2011–2012 setelah adanya arahan dari pemerintah daerah agar UMKM mengikuti program pembinaan.

Melalui program ini, ia mendapatkan berbagai pendampingan, mulai dari pemasaran produk di bandara hingga berbagi pengetahuan melalui komunitas UMKM.

Banyak manfaat yang ia rasakan selama menjadi bagian dari Rumah BUMN BRI, di antaranya pelatihan manajemen usaha, strategi pemasaran, penerapan digital marketing, hingga pemanfaatan e-commerce.

Bahkan, saat menghadapi keterbatasan modal, ia juga dibimbing dalam memahami prosedur pinjaman perbankan beserta risikonya. Semua pembinaan tersebut dinilainya sangat membantu dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Menurut Laila, Program Rumah BUMN BRI memiliki peran besar dalam mendorong UMKM agar berkembang dan naik kelas.

Seluruh ilmu yang diperolehnya selalu diterapkan dalam pengelolaan Batik Siger hingga saat ini.

Sementara itu, Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa BRI terus berkomitmen mendampingi UMKM melalui berbagai program pemberdayaan seperti Rumah BUMN BRI.

Selain menyediakan akses permodalan, BRI juga memberikan pembinaan usaha, pendampingan bisnis, serta membuka jejaring pasar hingga ke tingkat global. Strategi ini sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem UMKM nasional agar semakin berdaya saing dan mampu menciptakan nilai tambah di pasar. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
#Pemberdayaan UMKM BRI #UKM Naik Kelas #BBRI #bri #rumah bumn bri