Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Whoosh Terlilit Utang Rp4 Triliun, Prabowo Gerak Cepat Undang Eks Dirut KAI Ignasius Jonan ke Istana!

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 4 November 2025 | 17:39 WIB

Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto

RADAR KUDUS - Suasana Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/11/2025), tampak sedikit berbeda.

Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) periode 2009–2014, Ignasius Jonan, terlihat memasuki area dengan pakaian formal dan membawa tas kerja.

Tak seperti biasanya, kehadiran Jonan kali ini memancing banyak spekulasi, terutama karena undangannya datang langsung dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya.

Saat ditanya awak media soal maksud kedatangannya, Jonan menjawab singkat, “Enggak tahu saya, cuma diundang Pak Seskab.”

Ia menolak memberi keterangan lebih lanjut, bahkan ketika disinggung apakah kedatangannya berkaitan dengan polemik Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Whoosh.

Baca Juga: BLT Kesra Rp900 Ribu Sudah Masuk Rekening! Cek Nama Anda Sekarang, Jangan Sampai Terlewat Gelombang Terakhir 2025

Prabowo dan AHY Bahas “Beban” Proyek Raksasa

Sebelum Jonan datang, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sudah lebih dulu hadir di Istana.

Kepada wartawan, AHY mengaku membawa laporan penting kepada Presiden Prabowo Subianto, salah satunya mengenai utang besar yang membelit proyek Whoosh.

“Ini bagian dari laporan kami ke Presiden, termasuk membahas opsi restrukturisasi utang kereta cepat,” ujar AHY.

Pernyataan itu sontak menimbulkan dugaan bahwa pemanggilan Jonan berkaitan erat dengan evaluasi proyek strategis nasional (PSN) tersebut, yang kini menjadi sorotan publik karena beban keuangannya yang terus membengkak.

Baca Juga: Cuma Butuh HP! Begini Cara Cek Nama Penerima BLT Kesra Rp900 Ribu Tanpa Ribet!

Utang Membengkak, Kerugian Triliunan

Berdasarkan laporan keuangan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) — entitas yang memayungi konsorsium BUMN proyek Whoosh — tercatat kerugian mencapai Rp4,195 triliun sepanjang tahun 2024. Jika dibagi rata, kerugian itu setara Rp11,49 miliar per hari.

Dan situasinya belum membaik. Pada semester pertama 2025 saja, PSBI sudah kembali menanggung rugi Rp1,625 triliun.

Beban ini secara langsung menekan empat BUMN besar yang tergabung dalam konsorsium, yakni KAI, Wijaya Karya (WIKA), PTPN VIII, dan Jasa Marga.

Sebagai induk utama, KAI harus ikut menanggung sebagian besar kerugian. Inilah alasan mengapa nama Ignasius Jonan — yang dikenal sebagai reformis dan mantan dirut KAI paling berpengaruh — kembali disebut-sebut dalam konteks pembenahan sistem transportasi nasional.

Isu Restrukturisasi: Jalan Tengah atau Solusi Sementara?

Dari berbagai sumber, pembahasan antara Prabowo, AHY, dan para pejabat terkait disebut mengarah pada rencana restrukturisasi utang proyek Whoosh. Artinya, pemerintah sedang mencari skema pelunasan baru agar beban keuangan BUMN tidak makin berat.

Namun restrukturisasi ini memunculkan kekhawatiran. Sejumlah ekonom menilai, jika pemerintah tidak berhati-hati, maka beban utang bisa berakhir ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) — sesuatu yang sebelumnya sempat dikritik oleh banyak pihak, termasuk DPR dan partai oposisi.

PKS bahkan secara terbuka menyatakan bahwa “utang Whoosh tidak boleh dibayar pakai uang rakyat.”

Pandangan ini mencerminkan keresahan publik terhadap proyek yang awalnya digadang-gadang menjadi simbol kemajuan, namun kini justru menjadi beban finansial.

Baca Juga: Bansos Akhir Tahun Cair Serentak! Saldo KKS Warga Tiba-Tiba Bertambah, Begini Jadwal Lengkapnya!

Sosok Jonan dan Jejak Reformasi Transportasi

Ignasius Jonan bukan nama asing di dunia perkeretaapian. Di bawah kepemimpinannya, KAI pernah bertransformasi dari perusahaan merugi menjadi korporasi yang efisien dan modern.

Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, blak-blakan, dan berani mengambil keputusan keras.

Pemanggilannya ke Istana di era Presiden Prabowo memunculkan spekulasi baru: apakah Jonan akan diminta memberi masukan strategis terkait penyelamatan proyek Whoosh, atau bahkan kembali dilibatkan dalam restrukturisasi kebijakan transportasi nasional.

Jonan sendiri enggan berkomentar soal kemungkinan itu. “Saya sudah pensiun, enggak ngikutin lagi. Cuma ngobrol aja,” ucapnya singkat sebelum meninggalkan Istana.

Baca Juga: Kuartal IV 2025, Pemerintah Kucurkan Rp20 Triliun untuk BLT Kesra: Siapa yang Dapat?

Proyek Prestisius yang Jadi Beban

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) sejak awal menjadi kebanggaan nasional karena disebut sebagai proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Namun di balik kecepatan dan teknologi tinggi yang diusung, proyek ini menyimpan persoalan serius: pembengkakan biaya dan ketergantungan pada utang luar negeri.

Kini, setelah resmi beroperasi dan diberi nama Whoosh, proyek ini harus menghadapi realitas pahit — keuntungan belum terlihat, sementara cicilan utang terus berjalan.

Laporan internal menyebut, tingkat okupansi penumpang belum stabil, dan biaya operasional masih tinggi.

Bila tak segera diatasi, proyek yang semula diharapkan menjadi simbol kemajuan justru berisiko menjadi beban fiskal jangka panjang bagi negara.

Publik Menanti Langkah Nyata Pemerintah

Pertemuan Prabowo, AHY, dan Jonan di Istana menjadi sinyal penting bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi Whoosh.

Banyak pihak menilai, momen ini bisa menjadi awal dari reformasi besar-besaran di sektor infrastruktur BUMN.

Jika Jonan kembali dilibatkan, bukan tidak mungkin langkah-langkah efisiensi dan perombakan sistem manajemen bakal menjadi prioritas.

Namun, publik juga menuntut transparansi penuh — terutama soal arah restrukturisasi dan dampaknya terhadap APBN.

Yang jelas, masa depan Whoosh kini bergantung pada kebijakan politik dan keputusan ekonomi di level tertinggi negara.

Pemanggilan Ignasius Jonan ke Istana bukan sekadar pertemuan biasa. Di balik kesan “ngobrol santai” yang disampaikannya, publik mencium aroma urgensi — tentang proyek besar yang kini berada di ujung krisis keuangan.

Prabowo tampaknya ingin mendengar langsung pandangan dari sosok yang punya rekam jejak bersih dan berpengalaman dalam membenahi sistem perkeretaapian.

Jika benar demikian, maka langkah ini bisa menjadi awal kebangkitan baru proyek Whoosh, atau sebaliknya — peringatan keras bagi ambisi infrastruktur yang terlalu mahal dibayar.

Editor : Mahendra Aditya
#Utang Kereta Cepat Whoosh #kereta cepat whoosh 2025 #ignasius jonan #utang kereta cepat #ahy #Kereta Cepat Whoosh #Ignasius Jonan dipanggil prabowo ke istana