Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tragedi Ambruknya Bangunan Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo: 34 Tewas, 38 Santri Masih di Bawah Reruntuhan

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 5 Oktober 2025 | 17:55 WIB

Hari ke-7 Evakuasi Ponpes Al-Khoziny: Puluhan Santri Belum Ditemukan, BNPB Kerahkan Semua Upaya
Hari ke-7 Evakuasi Ponpes Al-Khoziny: Puluhan Santri Belum Ditemukan, BNPB Kerahkan Semua Upaya

RADAR KUDUS - Hari ketujuh pasca-runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, duka belum juga mereda.

Setiap hari, kabar korban bertambah, sementara harapan keluarga yang menunggu di tepi lokasi kian diuji. BNPB merilis data terbaru: 34 korban jiwa telah teridentifikasi, sementara 38 santri masih dalam pencarian.

Insiden ini menjadi salah satu tragedi terburuk di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir.

Bangunan mushala dan asrama tiga lantai yang tengah digunakan santri untuk Salat Ashar pada Senin sore (29/9) itu ambruk seketika, menimbun puluhan anak di bawah reruntuhan.

Update Korban: Antara Kehilangan dan Harapan

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, hingga Minggu dini hari (5/10/2025), tercatat 138 orang terdampak musibah ini.

Dari jumlah itu, 104 orang berhasil selamat, 95 di antaranya sudah pulang ke rumah, sementara delapan lainnya masih dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan seperti RS Dr. Soetomo, RS Delta Surya, RSUD R.T. Notopuro, RS Unair, dan RS Bhayangkara Surabaya.

Namun angka paling menyesakkan adalah 34 korban meninggal dunia. Lebih dari itu, masih ada 38 nama dalam daftar absensi santri yang belum ditemukan, memicu ketegangan emosional di posko-posko pengungsian.

Evakuasi Hari ke-7: Perlombaan dengan Waktu

Operasi SAR (Search and Rescue) memasuki hari ketujuh dengan fokus pembersihan puing di sisi utara bangunan.

Bagian tersebut dinilai paling rawan dan belum menyatu dengan struktur utama, sehingga diprioritaskan untuk mempercepat akses pencarian korban.

Ratusan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Damkar, hingga relawan terus dikerahkan. Mereka bekerja siang-malam dengan peralatan berat dan manual, sambil tetap berhati-hati agar material runtuhan tidak menimpa korban yang mungkin masih tertimbun.

“Setiap detik sangat berharga. Kami berupaya menemukan korban dalam kondisi apa pun, agar keluarga tidak lagi menunggu tanpa kepastian,” kata Abdul Muhari.

Keluarga Korban: Menunggu dengan Gelisah

Di sekitar lokasi tragedi, puluhan keluarga masih bertahan di tenda darurat yang didirikan BNPB dan BPBD. Mereka hidup dalam bayang-bayang kecemasan, berharap kabar baik, namun juga mempersiapkan hati menghadapi kenyataan pahit.

Tenda pengungsian di RS Bhayangkara Surabaya menjadi pusat aktivitas: dari posko informasi korban, tempat pemeriksaan medis, hingga ruang doa dan konseling psikologis.

Di sinilah para orang tua, kerabat, dan teman santri berkumpul setiap hari, menanti kabar dari tim penyelamat.

“Sudah tujuh hari kami di sini. Hati ini campur aduk, antara pasrah dan berharap. Yang penting anak saya segera ditemukan, apapun keadaannya,” ujar seorang ibu santri dengan mata sembab.

Identifikasi Korban: Tantangan Bagi Tim DVI

Bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim, beban pekerjaan semakin berat. Setiap jenazah yang berhasil dievakuasi harus melalui proses identifikasi antemortem dan postmortem yang detail, mencocokkan catatan medis, gigi, sidik jari, hingga properti pribadi.

Hingga hari ketujuh, delapan jenazah telah diidentifikasi, termasuk tiga santri yang diumumkan sehari sebelumnya. Proses ini penting untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam menyerahkan jenazah kepada keluarga.

Selain itu, potongan tubuh yang ditemukan di lokasi reruntuhan juga dikirim ke Jakarta untuk pemeriksaan DNA, menambah panjang daftar pekerjaan tim forensik.

Penanganan Darurat: Lebih dari Sekadar Evakuasi

Tragedi ini bukan hanya soal menyelamatkan korban. BNPB juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar bagi keluarga yang terdampak. Tenda darurat dilengkapi fasilitas makan, minum, sanitasi, hingga layanan medis dan psikososial.

Pendampingan psikologis sangat ditekankan, terutama bagi keluarga korban yang harus menghadapi trauma mendalam.

Anak-anak santri yang selamat pun mendapat perhatian khusus, karena banyak di antara mereka masih terguncang akibat kehilangan teman sebaya dan pengalaman mengerikan terjebak di reruntuhan.

Misteri Penyebab Runtuhnya Bangunan

Di balik operasi kemanusiaan, penyelidikan atas penyebab ambruknya mushala pesantren terus berjalan.

Banyak pihak menduga adanya masalah pada kualitas konstruksi bangunan. Struktur gedung tiga lantai yang masih dalam tahap pembangunan diduga tidak memenuhi standar keamanan, terlebih saat digunakan oleh ratusan santri secara bersamaan.

Polisi sudah memeriksa sejumlah pihak, termasuk kontraktor, pengawas proyek, hingga pengurus pesantren. Publik menanti jawaban yang jelas: apakah ini murni musibah atau ada unsur kelalaian manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

Luka Kolektif, Peringatan untuk Semua

Musibah di Ponpes Al-Khoziny bukan hanya tragedi lokal Sidoarjo, tapi juga luka kolektif bangsa.

Pondok pesantren selama ini dikenal sebagai benteng pendidikan moral dan agama, kini justru menjadi lokasi bencana yang merenggut nyawa puluhan santri muda.

Banyak pihak menyerukan evaluasi total terhadap standar pembangunan fasilitas pendidikan berbasis pesantren di seluruh Indonesia.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus ditempatkan di atas segalanya, termasuk di ruang-ruang pendidikan yang seharusnya aman bagi anak-anak.

Harapan yang Masih Tersisa

Meski angka korban terus bertambah, keluarga korban masih menggantungkan harapan pada setiap sekop puing yang disingkirkan. Setiap temuan tubuh, setiap identifikasi, membawa kepastian, meski pahit.

“Yang paling menyiksa adalah menunggu tanpa tahu nasib mereka. Kami hanya ingin kepastian,” ungkap seorang ayah yang anaknya masih tercatat hilang.

Hari-hari panjang masih menanti tim penyelamat, keluarga korban, dan masyarakat luas yang terlibat. Dengan 38 korban masih dalam pencarian, evakuasi di Ponpes Al-Khoziny belum selesai.

Di balik setiap angka korban, ada cerita hidup, ada keluarga yang berduka, dan ada tanggung jawab besar negara untuk menuntaskan penyebab tragedi ini. Satu hal yang pasti: duka Al-Khoziny akan tercatat dalam sejarah, sebagai peringatan betapa pentingnya mengutamakan keselamatan di atas segalanya.

Editor : Mahendra Aditya
#Jenazah santri Ponpes Al Khoziny #Insiden Musala Ponpes Al Khoziny #Korban reruntuhan Ponpes Al Khoziny #Bangunan ponpes al khoziny ambruk #Ponpes Al Khoziny runtuh #Detik detik mencekam Ambruknya Mushola Pesantren Al Khoziny #Reruntuhan Pesantren Al Khoziny Sidoarjo #Korban ambruk bangunan ponpes al khoziny #Evakuasi korban pesantren Al Khoziny #musola Al Khoziny ambruk #Kesaksian Korban Selamat Ponpes Al Khoziny #Korban Reruntuhan Musala Ponpes Al Khoziny #Ponpes Al Khoziny #Identifikasi Korban Ponpes Al Khoziny #Jenazah santri Al Khoziny #Musala Ponpes Al Khoziny roboh #Ponpes Al Khoziny Sidoarjo