RADAR KUDUS – Sebuah momen menyentuh terjadi ketika seorang siswa SD asal Indramayu bernama Abira mengungkapkan keresahannya kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, soal kondisi kampung halamannya yang setiap hari dilanda banjir rob.
Video pertemuan mereka viral di media sosial dan menjadi pemantik langkah nyata pemerintah dalam merelokasi warga terdampak banjir.
Dalam pertemuan tersebut, Abira yang diundang khusus oleh Gubernur Dedi menceritakan betapa beceknya jalan yang ia lalui setiap hari menuju sekolah.
Tanpa ragu, Dedi pun menggali informasi lebih lanjut. “Bener kampungnya kena banjir rob, seperti kata Pak Bupati Lucky Hakim?” tanyanya. Bocah itu mengangguk dan menjawab tegas, “Bener.”
Abira menyebut bahwa air rob datang rutin setiap pagi sekitar pukul tujuh. Cerita sederhana itu, namun penuh kejujuran dan kepolosan, langsung mendapat respons cepat dari sang gubernur.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Himbau Para Bupati: Jangan Gengsi Atasi Geng Motor!
Gubernur Telepon Langsung Bupati, Bawa Anak Jadi Perantara
Tanpa menunggu lama, Dedi langsung menghubungi Bupati Indramayu, Lucky Hakim, melalui video call.
Namun yang istimewa, Dedi meminta Abira sendiri yang menyampaikan pertanyaan terkait relokasi warga. "Coba tanya langsung ke Pak Bupati, relokasinya ke mana.
Pak Gubernur bantuin," kata Dedi kepada Abira, menciptakan momen langka di mana suara rakyat disampaikan langsung oleh seorang anak kecil—dan dijawab secara real-time oleh kepala daerah.
Dari seberang layar, Bupati Lucky Hakim menjelaskan bahwa proses relokasi memang sedang disiapkan.
Lokasi pemindahan warga akan berada tak jauh dari pemukiman awal, hanya sekitar 500 meter, tepat di seberang Jalan Pantura. Yang penting, daerah baru tersebut tidak akan terdampak banjir rob seperti sebelumnya.
Anggaran Rp5 Miliar Digelontorkan, Rumah Dijanjikan Lebih Layak
Dalam pernyataannya, Dedi mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Indramayu telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp5 miliar untuk program relokasi ini.
Ia memastikan bahwa rumah-rumah baru nantinya tidak hanya sekadar tempat tinggal, tetapi akan dibangun lebih layak dan aman bagi warga yang selama ini hidup dalam kekhawatiran karena banjir.
"Nanti InsyaAllah rumahnya lebih bagus. Ini kerja sama antara bupati dan gubernur, prinsipnya gotong royong seperti yang diajarkan orang tua kita di Jawa Barat," ujar Dedi.
Ia pun menambahkan bahwa masyarakat seperti Abira adalah contoh nyata bahwa rakyat kecil memiliki harapan besar dan pantas mendapatkan perhatian.
Bahkan, dengan bangga ia mengatakan bahwa Abira memiliki cita-cita mulia menjadi gubernur kelak. “Enggak usah jadi bupati dulu,” canda Dedi sambil tersenyum.
Baca Juga: Pengumuman PPPK 2024 Tahap 2 Segera Rilis! Cek Cara, Jadwal Lengkap, dan Kode Kelulusan
Banjir Rob Bukan Lagi Masalah Kecil
Fenomena banjir rob yang melanda kawasan pesisir Indramayu bukanlah kejadian baru. Namun, seringkali masalah tersebut hanya menjadi sekilas berita tanpa tindak lanjut konkret.
Kali ini berbeda. Keberanian seorang anak menyuarakan kebenaran berhasil membuka jalan menuju perubahan nyata.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan menutup mata. Ia memastikan bahwa warga yang terdampak akan segera direlokasi dan memperoleh hunian yang jauh lebih layak. “Kami akan bantu. Pak Bupati tinggal kirim kebutuhan detailnya lewat WA,” ucapnya.
Ketulusan Seorang Anak, Katalis Perubahan Nyata
Kasus ini menunjukkan bahwa suara sekecil apa pun bisa mengguncang birokrasi dan memaksa sistem untuk bergerak.
Abira, dengan suara polosnya, tidak hanya menyuarakan keluhan, tapi secara tidak langsung menjadi penyambung lidah rakyat yang selama ini terpinggirkan oleh kondisi lingkungan dan bencana alam.
Apa yang terjadi di Indramayu hari ini bisa menjadi contoh nasional bahwa pendekatan yang humanis dan responsif dari pemimpin daerah mampu menciptakan solusi konkret.
Bukan hanya membangun rumah, tapi juga memulihkan harapan warga yang lama hidup dalam ketidakpastian.
Editor : Mahendra Aditya