
Sesekali matanya melirik handphone yang tergeletak di dekat serbuk kayu.
Tidak ada pesan baru.
Di halaman rumah, dua anaknya bermain. Yang sulung berusia 14 tahun, duduk menemani adiknya yang baru berumur 9 tahun. Mereka sesekali bercanda, sementara sang ibu kembali menekuni pekerjaan yang sebenarnya sudah lama ditinggalkannya.
Tutik adalah seorang janda. Ia membesarkan kedua anaknya seorang diri.
Lima tahun lalu, profesi pengukir ditinggalkan. Ia memilih bekerja di pabrik demi penghasilan yang lebih pasti. Namun beberapa bulan lalu muncul harapan baru. Sekitar 200 meter dari rumahnya berdiri Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat lowongan dibuka, Tutik mendaftar.
Ia diterima.
Kabar itu membuatnya berani mengambil keputusan besar, mengundurkan diri dari pabrik.
Menurut perhitungannya, bekerja di SPPG akan lebih dekat dari rumah. Tidak perlu lagi berangkat jauh setiap hari. Ia juga bisa lebih sering bersama kedua anaknya.
Masalahnya, pekerjaan baru itu tak kunjung dimulai.



