Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW, Solo dan Yogyakarta Kompak Gelar Sekaten, Apa Itu?

Zakarias Fariury • Sabtu, 14 September 2024 | 17:03 WIB
SEKATEN: Gunungan dalam Grebeg Maulud sebagai bagian upacara Sekaten di Jogjakarta. (Wikimedia)
SEKATEN: Gunungan dalam Grebeg Maulud sebagai bagian upacara Sekaten di Jogjakarta. (Wikimedia)

RADAR KUDUS - Sekaten adalah sebuah perayaan tahunan yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang kini masih dipertahankan oleh dua keraton utama di Jawa, yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Tradisi ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Rabi'ul Awal, atau dalam kalender Jawa disebut bulan Mulud.

Sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur, masyarakat Jawa merayakan sekaten dengan berbagai kegiatan, termasuk pasar malam yang berlangsung selama sebulan penuh.

Tradisi ini menggabungkan berbagai elemen budaya, seperti benda pusaka, seni, dan kepercayaan lokal. Pada awalnya, sekaten bertujuan sebagai sarana penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa.

Asal-Usul Sekaten

Tradisi sekaten memiliki akar yang dalam dalam sejarah Jawa. Menurut buku "Asesmen Kognitif Pembelajaran IPA dengan Pendekatan STEM Berbasis Kearifan Lokal" oleh Ahmad Annadzawil, nama "sekaten" berasal dari kata "sekati," yang merujuk pada perangkat gamelan pusaka keraton yang dibunyikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Kata "sekati" sendiri berasal dari kata "suka" dan "ati," yang berarti senang hati, atau "sesek" dan "ati," yang berarti sesak hati.

Seiring waktu, makna sekaten meluas mencakup berbagai aspek seperti:

Sahutain: Menghindari dua hal buruk, yaitu sifat lacur dan menyeleweng.

Sakhatain: Menghilangkan sifat buruk, seperti watak hewan dan sifat setan.

Sakhotain: Menanamkan nilai-nilai luhur dan selalu memelihara budi pekerti.

Sekati: Menimbang dengan bijaksana antara yang baik dan buruk.

Sekat: Membatasi diri dari perbuatan jahat.

Awalnya, sekaten adalah ritual yang diadakan oleh raja-raja Jawa sejak era Majapahit untuk merayakan dan menjaga keselamatan kerajaan.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini berubah menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah melalui seni musik gamelan, menggantikan rebana yang sebelumnya digunakan.

Perayaan Sekaten di Solo dan Jogja

Di Solo, sekaten dimulai dengan pasar malam yang berlangsung selama satu bulan penuh. Perayaan ini dimulai dengan pengiringan gamelan menuju masjid yang dihiasi janur kuning.

Acara berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Rabiul Awal dengan gamelan yang terus dimainkan. Tradisi ini mencakup dua acara utama: tumplak wajik dan grebeg maulud.

Tumplak wajik adalah upacara dua hari sebelum grebeg maulud yang dimulai dengan pemukulan kentongan untuk menandai pembuatan gunungan, yang berisi beras ketan, buah-buahan, makanan, dan sayuran.

Gunungan ini merupakan simbol doa dan keselamatan kerajaan yang kemudian dibagikan kepada masyarakat setelah doa bersama.

Sedangkan di Yogyakarta, perayaan sekaten juga ditandai dengan pasar malam yang berlangsung selama satu bulan.

Acara dimulai dengan pengeluaran gamelan kyai sekati oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta, yang terdiri dari gamelan kyai Guntur Madu dan kyai Nogowilogo.

Gamelan ini diletakkan di Bangsal Ponconiti, Keben, dan dimainkan setelah Isya. Pada malam ke-11 Maulud, atau malam grebeg, masyarakat berkumpul di Alun-alun Utara.

Sri Sultan bersama rombongannya akan berjalan dari Gerbang Srimanganti menuju Gerbang Masjid Besar, diikuti dengan upacara udik-udik yang menebarkan koin logam, beras, dan bunga.

Upacara ini kemudian dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dan diakhiri dengan prosesi kundur gongso, yaitu pengembalian gamelan Kyai Sekati ke keraton.

Sekaten adalah manifestasi unik dari kekayaan budaya Jawa yang juga berfungsi sebagai pengingat akan ajaran Islam dan tradisi leluhur.

Perayaan ini tidak hanya merayakan Maulid Nabi tetapi juga melestarikan warisan budaya yang kaya.

Editor : Abdul Rokhim
#apa itu sekaten #dimana sekaten #sekaten #sekaten solo #sekaten yogyakarta #yogyakarta #solo #Maulid Nabi Muhammad SAW #peringatan maulid nabi