RADAR KUDUS - Fenomena cyberbullying semakin marak di media sosial, terutama karena pelaku dapat bersembunyi di balik akun anonim.
Praktik ini perlahan dianggap biasa oleh anak muda dan memengaruhi pola interaksi Generasi Z di ruang digital.
Dalam perspektif sosiologi, cyberbullying bukan sekadar masalah individu.
Baca Juga: Adaptasi Thread Viral “Getih Anak”, Film “Riba” Siap Guncang Bioskop
Ia muncul dari ekosistem digital yang membangun budaya persaingan, pencitraan, dan kebutuhan untuk terlihat sempurna.
Norma baru pun terbentuk—komentar kasar dianggap lucu, akun tanpa identitas disebut kebebasan, dan tampil di media sosial menjadi keharusan.
Ini menunjukkan bahwa kekerasan digital telah menjadi bagian dari hubungan sosial modern.
Pelaku komentar jahat sering menggunakan nama palsu, avatar anime, atau foto kosong. Ketika wajah tidak terlihat, tanggung jawab pun hilang.
Mereka merasa aman dari konsekuensi. Sementara itu, banyak anak muda hidup dalam kecemasan, takut unggahan mereka jadi bahan ejekan atau serangan.
Lambat laun, kondisi ini dianggap normal, padahal dampaknya cukup serius.
Lebih buruknya, perilaku kasar ini sering dibungkus dengan dalih bercanda:
"Cuma ngeledek kok."
"Jangan baper."
"Itu humor."
Kalimat seperti ini menormalkan kekerasan simbolik dan membuat korban merasa bersalah karena terluka.
Algoritma media sosial juga ikut memicu situasi ini. Konten yang penuh emosi, sensasi, dan drama cenderung lebih cepat tersebar.
Semakin besar interaksi, semakin tinggi visibilitas. Dengan cara tidak langsung, platform justru mendorong pola komunikasi agresif.
Salah satu alasan orang lebih mudah kejam online adalah hilangnya identitas diri.
Dalam kehidupan nyata, nama dan reputasi menjadi kontrol sosial. Di dunia digital, semua itu bisa dihapus hanya dengan membuat akun baru.
Dampak cyberbullying tidak bisa diremehkan. Korban dapat mengalami:
-
rasa percaya diri menurun
-
kecemasan
-
takut berbicara atau mengunggah sesuatu
-
merasa tidak layak
-
menarik diri dari lingkungan sosial
-
stres hingga depresi
Untuk menghadapi situasi ini, beberapa langkah dapat dilakukan:
-
Gunakan fitur report alih-alih membalas.
-
Hindari membaca komentar negatif secara berlebihan.
-
Bangun jaringan digital yang suportif.
-
Ingat bahwa komentar anonim bukan penentu nilai diri.
Perlu juga adanya peran platform digital dan lingkungan sosial untuk memberikan batasan, edukasi, dan kontrol lebih ketat terhadap akun dan komentar berbahaya.
Pada akhirnya, internet bukan sekadar teknologi—ini ruang sosial tempat manusia saling berinteraksi.
Perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana: memilih kata yang lebih baik ketika meninggalkan komentar. Media sosial seharusnya menjadi ruang aman untuk berpendapat, bukan arena kekerasan verbal.
Mulai dari diri kita, mari ciptakan ruang digital yang lebih manusiawi.(laura)
Editor : Ali Mustofa