RADAR KUDUS - Istilah avoidant attachment kini tengah populer di kalangan Gen Z dan ramai dibicarakan di media sosial.
Banyak anak muda menggunakan istilah ini untuk menjelaskan mengapa mereka sulit membuka diri secara emosional atau memilih menjauh ketika hubungan mulai terasa serius.
Di platform TikTok, tagar #avoidantattachment sudah digunakan lebih dari 150 ribu kali oleh para kreator konten. Namun, apa sebenarnya makna di balik istilah psikologis ini?
Menurut dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, seorang psikiater, avoidant attachment merupakan gaya keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Yang berawal dari pengalaman dengan orang tua atau pengasuh yang kurang hangat, tidak responsif, atau bahkan menolak ekspresi emosi dari seorang anak.
Orang dengan tipe avoidant attachment, lanjutnya, cenderung menjaga jarak dalam hubungan sosial, merasa tidak nyaman dengan keintiman, dan lebih memilih mengandalkan diri sendiri daripada meminta dukungan emosional dari orang lain.
Di media sosial, orang dengan gaya ini sering digambarkan sebagai individu yang nyaman sendiri, tidak ingin terikat, atau merasa tidak membutuhkan siapa pun.
Padahal, hal itu sebenarnya merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang terjadi secara bawah sadar.
Ia menegaskan, sikap tersebut bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan reaksi emosional yang berkembang dari pengalaman masa kecil.
Apa yang Dirasakan oleh Orang dengan Avoidant Attachment?
Baca Juga: Self-Diagnosis: Tren Gen Z yang Bisa Menjerumuskan
Dr. Lahargo menjelaskan bahwa individu dengan tipe ini sering kali menekan perasaannya karena menganggap menampilkan emosi adalah tanda kelemahan.
Meski terlihat kuat, mandiri, dan logis, mereka sebenarnya menyimpan ketakutan untuk ditolak atau kehilangan kendali atas diri sendiri.
Ia menambahkan bahwa sosok yang tampak seperti ‘strong independent person’ sebenarnya tidak benar-benar tidak membutuhkan orang lain, tetapi takut kehilangan kendali jika terlalu terlibat secara emosional.(laura)