Spesialis Gizi Klinik, dokter Andita Dwi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kartini Jepara menjelaskan diet pescatarian ini adalah diet yang hampir sama dengan diet ala vegan. Konsumsinya dibatasi pada sayur-sayuran dan buah. Hanya saja, diet ini memperbolehkan makan seafood seperti kerang, kepiting, atau ikan-ikanan. Berbeda dengan diet vegan yang tidak memperbolehkan makan daging sama sekali. Diet ini membolehkan daging namun yang berasal dari laut saja.
“Diet ini menghindari daging merah dan unggas, tapi masih boleh ikan,” jelas dokter Andita.
Menurut dokter Andita, diet ini memungkinkan untuk pasien penderita asam urat dan batu empedu. Namun sifatnya tidak mutlak. Sehingga dalam praktiknya tetap harus dalam pengawasan ahli gizi. Selain itu, diet ini hanya bisa dilakukan untuk jangka pendek (short term) saja. Sebab, normalnya manusia membutuhkan gizi lengkap seimbang. Termasuk daging merah.
“Kandungan zat besi dalam daging itu tidak bisa digantikan, dan tubuh kita masih membutuhkan gizi lengkap seimbang. Ada karbohidrat, protein, vitamin, mineral. Daging kandungannya tinggi B12 dan tidak sebanding dengan ikan. Kalau ikan ada kandungan gizinya sendiri,” jelasnya.
Selain itu, bila diet pescatarian ini dilakukan dalam jangka panjang, kemungkinan akan terjadi kurangnya B12 dan zat besi. Pasien yang melakukan diet ini harus dievaluasi dan dalam pengawasan dokter.
“Yang pasti, diet apapun tidak boleh dilakukan sembarangan. Biasanya diet juga dilakukan untuk menurunkan berat dan alasan kesehatan. Namun tidak untuk jangka panjang. Perlu ada pengawasan dari ahli,” kata dokter Andita. (nib/war) Editor : Ali Mustofa