Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mencicipi Sate Mak Lampir Kedungleper, Bangsri, Jepara, Cita Rasa Daging Kambing Betina Muda

Fikri Thoharudin • Jumat, 10 Oktober 2025 | 23:32 WIB
ISTIMEWA: Harti tengah menyajikan seporsi sate dan gulai untuk pembeli pada Jumat (10/10).
ISTIMEWA: Harti tengah menyajikan seporsi sate dan gulai untuk pembeli pada Jumat (10/10).

RADAR KUDUS - JIKA singgah ke Jepara, jangan hanya berhenti pada pesona pantai atau buah tangan karya ukirannya. Lawatan ke Bumi Kartini tak akan lengkap jika belum mencicipi Sate Mak Lampir Kedungleper.

Kuliner ini cukup legendaris lantaran sudah bertahan lebih dari 40 tahun dan terus digandrungi hingga kini. Sate Mak Lampir tepatnya, terletak di Kedungleper, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.

Dari pusat kota Jepara, butuh sekitar 30 menit perjalanan menuju warung sederhana yang tak pernah sepi pengunjung ini.

Namun, jangan kaget bila saat mampir, mendapati antrean panjang, mulai dari warga sekitar, pejabat, dan jika beruntung juga akan bertemu artis. 

Belum lama ini, aktor sekaligus pelawak Fevi Hermawan Hidayat Kelana alias Peppy menyambangi tempat ini.

Nama 'Mak Lampir' sendiri lahir dari kelakar para pelanggan, terinspirasi tokoh mistis dalam sinetron Misteri Gunung Merapi. Alih-alih menakutkan, nama itu justru menjadi berkah yang melekat erat pada warung sate legendaris ini.

Nama tersebut turut membuat Basir yang menjadi salah satu karakter dalam sinetron Misteri Gunung Merapi juga tergerak untuk datang dan mencicipi sate ini.

Dalam lakon tersebut, Basir sendiri, sering kali jatuh di bawah pengaruh jahat Mak Lampir, dan diperintahkan untuk melakukan tugas-tugas keji demi Mak Lampir, seperti merebut Cawan Rogosukmo.

Sate Mak Lampir berdiri sejak tahun 1980-an. Sang perintis adalah Warsini, atau akrab disebut Mak Lampir. Kini, usahanya diteruskan oleh sang putri, Harti, 45.

"Disebut Mak Lampir karena suara ketawa ibu saya mirip seperti gaya tertawa Mak Lampir yang ada di film. Peralihan dari ibu ke saya sekitar sepuluh tahun lalu. Sekarang ibu sudah berusia 90-an tahun," tuturnya pada Jumat (10/10).

Menu andalan di sini tak lain sate dan gulai kambing. Tekstur daging yang lembut berpadu dengan bumbu rempah khas, membuat setiap suapan terasa istimewa. Setelah gulai habis, ada menu asem-asem kambing yang tak kalah segar dan menggoda.

Rahasia kenikmatan sate ini ada pada daging kambing betina, muda, dan gemuk. "Kalau jantan biasanya keras, jadi kami pilih yang muda dan betina. Lebih empuk dan tidak prengus," jelas Harti.

Menariknya, pembeli bisa memilih tingkat bumbu sesuai selera, mulai pedas, sedang, hingga manis. "Kami ingin semua pelanggan puas," ucapnya.

Soal harga, jangan khawatir. Seporsi gulai atau asem-asem plus minum dibanderol Rp30 ribu, sedangkan paket sate lengkap dengan minum Rp50 ribu.

"Dalam sehari bisa habis sampai seribu tusuk sate. Biasanya kami potong sendiri 3–4 ekor kambing, bukan beli daging dari luar," ungkap Agus, 45, salah satu tukang laden.

Warung ini buka setiap hari dari pukul 06.00 hingga 15.00, kecuali saat Idul Adha (libur selama sepekan). Puncak keramaian biasanya datang di akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu.

Tak sedikit pelanggan yang sudah setia bertahun-tahun. Faizin, 40, warga Desa Suwawal, mengaku jatuh hati pada gulainya.

"Daging empuk, kuahnya sedap," katanya.

Sementara Jariman, 53, warga Desa Bondo, tak kuasa menahan ekspresi nikmat di sela-sela menyantap hidangan yang ada. "Ya gulai, ya sate, rasanya bikin lidah trecep-trecep. Sate Mak Lampir joss!" serunya.

Bagi Devi, 26, warga Desa Kancilan, warung ini bahkan sudah jadi salah satu pilihan untuk ritual sarapannya sejak 2017 silam. "Menu favorit saya gulai dan sate. Rasanya konsisten, top dari dulu sampai sekarang," ungkapnya.

Meski nama 'Mak Lampir' awalnya sekadar julukan, Harti atau sang ikon (Warsini) tak pernah keberatan. Justru nama itu mendatangkan berkah dan membuat warungnya makin dikenal luas.

"Yang penting orang senang, puas, dan datang lagi. Kami juga melayani pesanan untuk hajatan, syukuran, atau acara lainnya," ujar Harti menimpali.

Kini, Sate Mak Lampir Kedungleper telah menjadi satu bagian dari ikon kuliner khas Jepara. Setiap pagi, aroma sate yang mengepul dari bara arang bercampur harum rempah gulai, mengundang siapa saja yang melintas untuk singgah.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #mak lampir #Kuliner Legendaris #lezat #sate