Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

FFAB 2026 Hadir Lagi, Angkat Cerita-cerita yang Selama Ini Jarang Tersentuh

Ali Mustofa • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:25 WIB
RUANG BEREKSPRESI: Penyelenggara dan dewan juri FFAB 2026 memberikan penjelasan proses penjurian festival film. (GALIH ERLAMBANG W/ Radar Kudus)
RUANG BEREKSPRESI: Penyelenggara dan dewan juri FFAB 2026 memberikan penjelasan proses penjurian festival film. (GALIH ERLAMBANG W/ Radar Kudus)

KUDUS – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 kembali digelar sebagai wadah apresiasi sekaligus ruang pengembangan kreativitas bagi sineas muda Indonesia di bidang perfilman.

Mengusung tema “Scene The Unseen”, festival ini mengajak para pembuat film, khususnya generasi muda dan independen, untuk mengangkat kisah-kisah sederhana di sekitar kehidupan yang kerap terabaikan namun memiliki makna mendalam.

Tahun ini, FFAB mencatat tingginya minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 92 karya film masuk dalam proses seleksi atau submisi festival.

Dari jumlah tersebut, 30 film dinyatakan lolos kurasi dan berhak mengikuti rangkaian Festival Film Anak Bangsa 2026.

Sementara itu, 17 film lainnya berhasil masuk dalam daftar nominasi resmi FFAB tahun ini.

Sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memperluas akses penonton, seluruh film yang lolos kurasi akan diputar secara daring dan dapat diakses gratis melalui platform Sinea.id.

Langkah ini memungkinkan masyarakat dari berbagai wilayah menikmati karya-karya sineas muda tanpa batasan biaya, sekaligus merayakan keberagaman cerita dari seluruh Indonesia.

Sebelum memasuki agenda utama festival, FFAB 2026 juga telah menggelar rangkaian program diskusi dan pemutaran film di enam lokasi yang tersebar di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya festival untuk menghadirkan film tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang interaksi, diskusi, dan pembelajaran bersama masyarakat.

Melalui program tersebut, festival berupaya mendekatkan karya film dengan komunitas lokal serta membuka ruang dialog antara pembuat film, penonton, dan pelaku industri kreatif.

Kehadiran pemutaran dan diskusi di berbagai titik ini juga memperkuat semangat keterlibatan publik dalam ekosistem perfilman.

Tema “Scene The Unseen” sendiri lahir dari gagasan untuk menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan realitas sehari-hari, namun sering kali tidak terlihat atau tidak terdokumentasikan dengan baik.

Kisah tentang keluarga, pertemanan, pekerjaan, keresahan, hingga kehidupan komunitas menjadi bagian dari narasi yang dianggap sederhana, tetapi menyimpan nilai kemanusiaan yang kuat.

Dewan juri FFAB 2026 terdiri dari sejumlah nama profesional di dunia perfilman, yakni aktris nasional Faradina Mufti, sutradara Ravacana Films Wahyu Agung Prasetyo, serta Cornel Innos selaku Director GsT yang mewakili jajaran dewan juri.

Perwakilan GsT, Asa Jatmiko, menilai FFAB menjadi ruang penting bagi tumbuhnya generasi muda kreatif di bidang film.

Menurutnya, kehadiran festival ini membuka kesempatan bagi anak muda untuk bertemu, berdiskusi, serta mengembangkan gagasan melalui medium film.

“Festival film independen ini menjadi ruang bertemunya ide dan dialektika untuk membaca serta merespons realitas kehidupan,” ujarnya.

Dari pihak penyelenggara, perwakilan panitia FFAB 2026, Elang Ade Iswara, menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada proses membangun ruang apresiasi yang lebih luas dan berkelanjutan bagi ekosistem film muda, baik di daerah maupun tingkat nasional.

“Antusias peserta cukup baik, bahkan ada karya dari Kudus yang ikut berpartisipasi tahun ini,” ungkapnya.

Sementara itu, dari sisi dewan juri, Cornel Innos menjelaskan bahwa proses penilaian tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada kekuatan gagasan, cara bertutur, relevansi tema, serta kejujuran perspektif yang ditawarkan dalam film.

Tema “Scene The Unseen” menjadi acuan utama dalam menilai karya-karya peserta, terutama dalam melihat bagaimana film mampu mengangkat pengalaman sehari-hari yang dekat dengan masyarakat, namun sering kali luput dari perhatian publik. (gal)

Editor : Ali Mustofa
#ffab 2026 #sineas muda indonesia #perfilman #Festival Film Anak Bangsa #Kudus