Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cuma dari Santan! Blondo Jadul Ini Laris Manis di Pasar Sarwono

Andika Trisna Saputra • Jumat, 18 Juli 2025 | 18:41 WIB
SUASANA: Wisatawan memberi jajanan jadul Blondo di lapak UMKM milik Lusiana di Pasar Sarwono, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
SUASANA: Wisatawan memberi jajanan jadul Blondo di lapak UMKM milik Lusiana di Pasar Sarwono, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Di tengah geliat pasar tradisional Sarwono yang hanya buka setiap Minggu Legi, Lusiana Dewi Rahayu (27) konsisten membawa serta aroma nostalgia lewat jajanan khas bernama Blondo.

Dibuat hanya dari santan kelapa murni, kudapan ini menjadi primadona pencinta jajanan jadul di kawasan Wonosoco, Undaan, Kudus.

Blondo buatan Lusiana bukan sembarang kudapan.

Baca Juga: Ditinggal Sebentar ke Kamar Mandi, Rumah Lansia Ludes Terbakar Akibat Tungku Tradisional!

Proses memasaknya memakan waktu setengah hari.

Prosesnya dimulai dari memarut kelapa, memeras santannya, lalu merebus hingga menyusut dan berbusa.

“Soale kan emang taneg, sampai menyusut,” katanya sambil tersenyum. 

Hasilnya adalah adonan seperti dodol, agak basah, bertekstur lembut yang dibungkus daun pisang.

Adonan tersebut murni berbahan baku santan kelapa, tanpa campuran gula atau bahan tambahan lain.

Meski sederhana, rasanya kaya dan unik yaitu gurih, sedikit kecut, manis alami, mirip dodol.

Dengan harga satu koin Pasar Sarwono, pembeli mendapat dua bungkus blondo.

Baca Juga: Situs Patiayam Kudus Didorong Jadi Cagar Budaya Nasional, Ada Jejak Gajah dan Manusia Purba!

Satu koin tersebut senilai dengan Rp 2 ribu.

“Alhamdulillah banyak peminatnya, dagangan saya selalu habis,” ujar Lusiana yang kesehariannya bekerja sebagai buruh pabrik dan berjualan saat hari libur.

Blondo paling nikmat disantap bersama aneka gethuk sebagai cocolan.

Karena itu, Lusiana juga menjual pelengkap lain seperti gethuk, tape ketan, kacang godhog, dan buah-buahan serta minuman tradisional seperti es cincau dan es nanas.

Baca Juga: Bukan Sekadar Teater, Jong Nusantara Sentil Nasionalisme!

Semuanya makanannya, dikemas alami dalam daun pisang.

Satu butir kelapa bisa menghasilkan lebih dari 10 bungkus blondo.

Meski tanpa pengawet, blondo ini bisa bertahan hingga 15 hari.

“Karena murni santan, awetnya alami,” tambahnya.

Pasar Sarwono memang dirancang sebagai ruang gerak UMKM lokal.

Di sanalah blondo jadul buatan tangan Lusiana justru menemukan napas barunya.

Tak hanya warga sekitar, pembeli dari luar desa pun kerap datang mencari Blondo khas daerah ini.

“Beberapa malah khusus datang ke sini buat nyari blondo,” tuturnya bangga.

Di antara rindangnya pohon jati di pasar Sarwono, blondo Lusiana tak hanya menjadi pengganjal perut, tapi juga pengikat ingatan akan cita rasa tempo dulu yang tak tergantikan. (dik)

Editor : Ali Mustofa
#pasar sarwono #Jajanan Jadul #Blondo #Kudus #Santan Kelapa