UNDAAN – Melepas penat tak harus pergi jauh atau menghabiskan banyak biaya.
Di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, ribuan warga berbondong-bondong datang ke Pasar Sarwono setiap Minggu Legi untuk merasakan suasana unik pasar jadul di tengah hutan jati.
Bukan sekadar berbelanja, momen ini juga sekaligus menjadi terapi jiwa melalui metode forest healing atau penyembuhan lewat nuansa alam.
Baca Juga: Transportasi Massal Lintas Kabupaten Segera Hadir, Kudus Jadi Pusatnya!
Pasar Sarwono dibuka sejak pagi pukul 07.00 WIB dan langsung diserbu pengunjung dari berbagai wilayah.
Mereka rela mengantre demi menukar uang dengan "koin kayu" yang menjadi alat transaksi khas di pasar ini.
Dengan nuansa tradisional, aroma kuliner tempo dulu menggoda para tamu yang datang, mulai dari nasi jagung, nasi pager, pecel, hingga jajanan jaman dulu (jadul) murah meriah yang disantap sambil duduk santai di bawah rindangnya pohon jati.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turut hadir mencicipi suasana pasar dan berinteraksi dengan warga.
Menurutnya, Pasar Sarwono menawarkan sensasi wisata yang jarang ditemukan di tempat lain.
Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk terapi untuk kemanusiaan yang alami dan menyejukkan.
“Ini termasuk forest healing, terapi hati dan pikiran lewat alam yang damai dan tenang. Apalagi lihat ibu-ibu, anak-anak, muda-mudi semua tertawa dan berinteraksi, suasananya sangat positif,” kata Sam’ani di Pasar Sarwono, Minggu (13/7).
Baca Juga: Murid Baru di SMP 1 Kudus Ikuti Gladi Bersih Sambut MPLS, Ada Musik dan Tari Tradisional
Konsep Pasar Sarwono memang bukan sekadar menjual makanan.
Menurut Kepala Desa Wonosoco, Setiyo Budi, pasar ini merupakan upaya menghidupkan kembali denyut pariwisata desa yang sempat mati suri akibat pandemi.
Ide ini digagas oleh warga secara gotong royong dan kini dikelola oleh BUMDes Wonorekso.
Tak hanya kuliner, pengunjung juga disuguhi panggung seni yang kadang menampilkan wayang klithik dan pertunjukan budaya lainnya.
Ada pula tema berbeda di setiap gelaran, sementara penjual dan pengurus pasar konsisten mengenakan batik lurik untuk menambah nuansa etnik dan khas Jawa.
Pasar Sarwono bisa menjadi ruang alternatif untuk rekreasi dan penyembuhan mental.
Di tengah kesibukan hidup modern, warga Kudus dan sekitarnya bisa menikmati forest healing ala desa yang penuh ketenangan, cita rasa nostalgia, dan sentuhan budaya lokal yang mengakar kuat.
Tri Budi Wahono, Direktur BUMDes Wonorekso, menyampaikan bahwa sejak resmi dibuka pada Desember 2022, pasar ini semakin ramai berkat promosi dari mulut ke mulut dan media sosial.
Ia menargetkan pasar ini terus menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus tempat pemberdayaan bagi warga sekitar.
"Semua pedagang adalah warga Wonosoco, rata-rata ibu rumah tangga dan petani. Dengan Pasar Sarwono, kami harap mereka lebih berdaya,” jelasnya.
Pengunjung, Dwi Siska (26), warga Kutuk, Undaan, mengaku antusias dengan adanya pasar ini.
“Baru pertama kali ke sini. Suasananya adem dan makanannya enak-enak. Sayang tadi kehabisan koin, jadi pakai uang tunai,” ujarnya.
Baca Juga: PC GP Ansor Kudus Menyayangkan Dugaan Perkelahian ASN di Tempat Karaoke
Pengunjung lain, Virga Rosa (25) dari Lambangan juga merasa senang datang bersama keluarga.
“Ini destinasi wisata keluarga yang bagus, apalagi bisa dukung UMKM lokal. Semoga terus ada dan makin berkembang,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya