Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

10 Sura, Desa Rahtawu di Kudus Kembali Hidupkan Tradisi Kirab Tujuh Gunungan

Andika Trisna Saputra • Minggu, 6 Juli 2025 | 23:11 WIB
RAMAI: Kirab Budaya 7 Gunungan
RAMAI: Kirab Budaya 7 Gunungan

GEBOG – Di lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, warga kembali menghidupkan Kirab Tujuh Gunungan, sebuah tradisi sakral yang sempat vakum bertahun-tahun.

Prosesi budaya ini bukan sekadar arak-arakan hasil bumi, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kekuatan spiritual yang diyakini menjaga kawasan tersebut.

Kirab yang digelar bertepatan dengan 10 Asyura dalam penanggalan Jawa ini disebut sebagai bagian dari restorasi budaya yang menyatu dengan alam.

Baca Juga: Dibagikan ke Warga, Bubur Asyura Khas Menara Kudus Dibuat dari 9 Bahan dan 9 Topping

Tradisi ini disebut juga 'Sapta Arga', prosesi budaya untuk menghormati tujuh gunung yang mengelilingi Rahtawu.

Nama Gunung tersebut yaitu Gunung Iring-Iring, Pasar, Ringgit, Kelir, Tunggangan, Natas Angin, dan Songolikur.

Serta, Gunung Abiyasa juga disebut memiliki kekuatan gaib.

“Kirab ini sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan penghuni yang tidak kasat mata. Masyarakat percaya, jika mereka dihormati, maka keselamatan dan kemakmuran akan menyertai,” ujar Abdul Khalim, Direktur BUMDes Utama Karya Rahtawu, yang juga menjadi salah satu koordinator kegiatan.

Tujuh gunungan hasil bumi diarak dari Petilasan Eyang Sakri menuju kawasan Rahtawood Highland dengan berjalan kaki.

Sebelum diarak, setiap gunungan disertai doa-doa, sesaji, dan upacara adat khas Jawa.

Ini menjadi wujud syukur atas hasil panen dan anugerah alam yang tak ternilai. 

Baca Juga: UPDATE KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, Kapten Kapal dari Kudus Masih dalam Pencarian

Menurut Khalim, pelaksanaan kirab tahun ini juga disinergikan dengan peresmian destinasi wisata baru Rahtawood Highland, untuk mengenalkan potensi desa secara lebih luas.

Pemilihan waktu pun tidak sembarangan.

Tanggal 10 Asyura diyakini sebagai momen terbukanya dimensi spiritual, termasuk tempat-tempat bertapa seperti Petilasan Eyang Sakri dan Eyang Abiyasa.

Nama-nama leluhur seperti Eyang Pandu Dewonoto, Modo, Semar, dan Jonggring Saloko masih disebut dalam doa masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu sebelum menggelar hajat besar.

Baca Juga: Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Bagikan 36 Ribu Bungkus Nasi Jangkrik, Warga Rela Bermalam dan Berdesakan

Pj Kepala Desa Rahtawu, Sukono, mengatakan kegiatan ini sebagai langkah pelestarian budaya dan penguatan ekonomi lokal.

“Ini bukan hanya sakral, tapi juga jadi pengingat bahwa hasil bumi adalah berkah. Kirab ini mendorong warga lebih mencintai dan mengangkat potensi pertanian lokal,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Mutrikah, juga menyambut hangat kegiatan tersebut.

“Luar biasa. Kirab ini sempat vakum, tapi kini hidup kembali. Kami sangat mendukung agar semangat masyarakat terus berlanjut menjaga budaya leluhur,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini lebih dari sekadar perayaan.

Baca Juga: PKL Bandel Digaruk! Sterilisasi Menara Kudus Jelang 10 Muharam

Kirab Tujuh Gunungan menjadi simbol keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Rahtawu mengajarkan bahwa hidup sejahtera tidak hanya dibangun lewat kerja keras, tetapi juga dari penghargaan terhadap warisan budaya dan leluhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#kirab budaya #10 Asyura #rahtawood highland #Rahtawu Kudus #tradisi