KUDUS – Peter Mohammad Faruq, Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kudus, memiliki perjalanan spiritual yang penuh makna.
Lahir dari keluarga Tionghoa non-Muslim dengan nama asli Darma Hariyanto, ia mengalami pergolakan batin yang panjang sebelum akhirnya memeluk Islam di usia 44 tahun.
Dari Simon Bonifasius ke Peter Mohammad Faruq
Sejak kecil, Peter tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat pada keyakinan lamanya. Di usia remaja, tepatnya tahun 1976, ia menjalani pembaptisan dan diberi nama Simon Bonifasius.
Namun, keyakinannya mulai goyah setelah mengalami kejadian yang membekas di hatinya.
“Saat ibu saya meninggal, saya meminta agar didoakan, tetapi permintaan itu ditolak. Sejak saat itu, saya mulai kehilangan ketertarikan untuk pergi ke gereja,” kenangnya.
Rasa kecewa itu perlahan membawanya menjauh dari gereja. Selama bertahun-tahun, ia menjalani hidup tanpa keterikatan kuat pada agama.
Namun, pemikirannya terus bergolak, mencari jawaban tentang kehidupan dan ketuhanan.
Titik Balik: Menemukan Cahaya Islam
Pada tahun 2005, setelah bertahun-tahun merenung dan mencari kebenaran, Peter memutuskan menjadi mualaf. Keputusannya ini bukan sekadar impulsif, melainkan hasil dari pencarian spiritual yang mendalam.
“Saya sudah katam membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ada dua ayat yang sangat melekat di benak saya.
Salah satunya adalah perintah untuk pergi ke Tanah Kanaan dan menjadi bangsa besar. Saya menafsirkan Tanah Kanaan itu sebagai tanah Arab, yang akhirnya mendorong saya untuk mempelajari Islam lebih dalam,” jelasnya.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Peter akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat di rumahnya sendiri.
Nama Simon Bonifasius pun berganti menjadi Peter Mohammad Faruq, sebagai tanda lahirnya identitas baru dalam Islam.
Cobaan dan Perjuangan sebagai Mualaf
Perjalanan Peter sebagai seorang mualaf tidaklah mudah. Awalnya, keluarganya menentang keputusannya masuk Islam.
Namun, setelah ia memberikan pemahaman dengan penuh kesabaran, keluarganya akhirnya bisa menerima dan menghormati pilihannya.
Selain menghadapi tantangan dari keluarga, Peter juga menghadapi tantangan dalam menjalankan ajaran Islam, terutama dalam menjalankan ibadah dengan disiplin.
“Salat lima waktu itu benar-benar mengajarkan saya tentang kedisiplinan. Awalnya sulit, apalagi dengan kesibukan yang padat.
Tapi lama-kelamaan saya terbiasa. Kalau sampai tidak salat, rasanya seperti ada yang kurang, seperti punya hutang,” ungkapnya.
Puasa juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Meski awalnya sering bolong, seiring waktu ia berhasil menjalankan puasa Ramadan secara penuh. Kini, ia merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam beribadah.
Tekad Belajar Al-Qur’an hingga 10 Juz
Sebagai seorang mualaf, Peter tidak hanya berusaha menjalankan kewajiban sebagai Muslim, tetapi juga bertekad memahami Al-Qur’an.
Ia memulai perjalanan belajarnya dari dasar, mengenali huruf hijaiyah hingga akhirnya bisa membaca Al-Qur’an.
“Saya mulai dari nol. Saya menulis huruf hijaiyah agar lebih mudah mengingatnya. Juz Amma jadi langkah pertama saya. Tapi semakin ke sini, daya ingat saya sudah melemah karena usia. Kadang sudah hafal, tapi bisa buyar lagi,” ungkapnya.
Meski mengalami kesulitan, semangatnya tidak surut. Ia bahkan telah mencapai bacaan hingga juz 10. Setiap kali menyelesaikan satu juz, ia merayakannya dengan mengadakan tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur.
“Baca Al-Qur’an itu benar-benar melatih kesabaran. Kalau huruf-hurufnya sudah gandeng, makin sulit. Tapi saya terus belajar, karena saya ingin memahami Islam lebih dalam,” tuturnya.
Menginspirasi Mualaf Lainnya
Sebagai Ketua PITI Kudus, Peter tidak hanya menjalankan ajaran Islam untuk dirinya sendiri, tetapi juga aktif membimbing dan memberikan motivasi kepada para mualaf lainnya. Ia kerap menekankan bahwa masuk Islam harus didasari keyakinan yang kuat, bukan sekadar mengikuti orang lain.
“Cobaan bagi seorang mualaf itu berat, tapi itu bagian dari ujian iman. Jangan takut, karena setelah badai akan ada ketenangan,” pesannya.
Kini, Peter Mohammad Faruq menjalani hidupnya dengan damai, berdampingan dengan keluarganya yang masih berbeda keyakinan. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa iman sejati lahir dari pencarian yang tulus dan keyakinan yang kokoh. (san)
Editor : Mahendra Aditya