KUDUS – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi menukar uang baru kembali ramai di Kabupaten Kudus.
Namun, tahun ini, warga harus merogoh kocek lebih dalam karena kenaikan biaya jasa penukaran yang mencapai 18% per bendel, naik dari tahun lalu yang hanya 10%.
Kenaikan ini disebabkan oleh sulitnya mendapatkan stok uang baru, yang sebagian besar didatangkan dari Semarang dan Demak.
Kenaikan Jasa Penukaran Akibat Stok Terbatas
Aldino Ganda Brilian, salah satu penyedia jasa penukaran uang baru di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, mengungkapkan bahwa stok uang baru tahun ini lebih sulit didapatkan.
"Saya harus mengambil stok dari Semarang dan Demak dengan jasa awal 12–13%. Karena itu, saya menjualnya dengan jasa 18%," jelas Aldino, Senin (17/3).
Meski biaya jasa naik, Aldino mengaku masih bisa melayani sekitar 14–15 orang per hari dengan nominal penukaran yang bervariasi. Omzet kotor hariannya tahun ini mencapai Rp15 juta, turun dari tahun lalu yang bisa mencapai Rp20 juta per hari.
Pecahan Uang yang Paling Diminati
Dari berbagai pecahan uang yang ditawarkan, pecahan Rp10.000 dan Rp5.000 menjadi yang paling diminati masyarakat. Sementara itu, pecahan Rp50.000 justru sepi peminat.
"Masyarakat lebih suka uang pecahan kecil untuk dibagikan sebagai THR atau uang saku anak-anak," ujar Aldino.
Ia memastikan bahwa stok uang baru di tempatnya masih aman hingga Lebaran. Mulai dari pecahan Rp1.000 hingga Rp50.000 tersedia untuk memenuhi kebutuhan warga.
Tradisi yang Tetap Bertahan
Meski biaya jasa penukaran naik, tradisi menukar uang baru menjelang Lebaran tetap diminati warga Kudus.
Selain di Alun-alun Simpang Tujuh, jasa penukaran uang baru juga banyak ditemukan di sepanjang Jalan Sunan Kudus.
"Saya buka dari jam 8 pagi sampai 10 malam, bahkan sampai malam takbiran," kata Aldino.
Respons Warga
Warga Kudus menyambut baik keberadaan jasa penukaran uang baru, meski harus membayar biaya lebih tinggi.
"Meski jasanya naik, saya tetap menukar uang baru karena ini sudah jadi tradisi keluarga setiap Lebaran," ujar Siti, salah satu warga Kudus.
Namun, ada juga warga yang memilih untuk tidak menukar uang baru karena biaya yang dirasa terlalu tinggi.
"Saya lebih memilih menggunakan uang biasa saja karena jasanya terlalu mahal," ujar Budi, warga lainnya.
Dampak Ekonomi
Kenaikan biaya jasa penukaran uang baru ini juga berdampak pada perekonomian lokal.
Bagi para penyedia jasa, kenaikan biaya menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan.
Namun, bagi warga, hal ini menjadi tambahan beban finansial menjelang Lebaran.
Kesimpulan
Tradisi menukar uang baru menjelang Lebaran tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Kudus.
Meski biaya jasa penukaran naik tajam akibat sulitnya stok, antusiasme warga tidak surut.
Semoga tradisi ini dapat terus dilestarikan dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan penyedia jasa dan masyarakat. (dik)
Editor : Mahendra Aditya