KUDUS, Radar Kudus – Masjid Al Aqsha, atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Menara Kudus, menjadi salah satu bukti nyata akulturasi budaya Hindu dan Islam di Indonesia.
Keunikan masjid ini terletak pada menaranya yang berdiri kokoh di sebelah tenggara, menyerupai Nale Kulkul, bangunan penyimpan kentongan khas Bali.
Menara yang terbuat dari batu bata merah ini menjadi simbol toleransi dan tenggang rasa yang telah terjalin sejak era Sunan Kudus.
Masjid Al Aqsha tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah Kudus.
Sunan Kudus, pendiri masjid ini, menggunakan pendekatan budaya untuk menarik masyarakat lokal yang saat itu masih banyak memeluk agama Hindu.
Hal ini tercermin dari arsitektur masjid yang memadukan unsur Hindu dan Islam, seperti atap limasan bertingkat dua, ornamen khas Jawa-Hindu, dan candi siku di pintu masuk.
Arsitektur yang Memadukan Dua Budaya
Menara Masjid Menara Kudus dibagi menjadi tiga bagian: kaki, badan, dan puncak, yang merupakan ciri khas arsitektur Jawa-Hindu.
Atap tajug bertingkat dua dan penggunaan ornamen-ornamen tradisional menunjukkan bagaimana Sunan Kudus menghormati budaya lokal sambil menyebarkan ajaran Islam.
"Ini adalah bentuk toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus. Beliau tidak menghapus budaya yang sudah ada, melainkan memadukannya dengan nilai-nilai Islam," ujar Denny Nur Hakim, Humas Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus.
Masjid ini juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya kategori Situs Tingkat Nasional berdasarkan SK Menteri No 049/M/1999, SK Menteri No 111/M/2018, dan No REGNAS RNCB. 19990325.04.000294.
Penetapan ini mengukuhkan nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam bangunan masjid.
Sejarah Pendirian Masjid Al Aqsha
Masjid Al Aqsha didirikan oleh Sunan Kudus pada 19 Rajab 956 Hijriyah, atau bertepatan dengan 23 Agustus 1549 Masehi. Informasi ini tercatat dalam prasasti yang terletak di mihrab pengimaman masjid.
"Prasasti tersebut menyebutkan empat poin penting: nama masjid (Al Aqsha), nama wilayah (Al Quds, kini Kudus), tanggal pendirian, dan nama pendiri, yaitu Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus," jelas Denny.
Sunan Kudus menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih kuat memegang ajaran Hindu.
"Beliau tidak memaksa, melainkan menunjukkan bagaimana Islam mengatur kehidupan dengan cara yang sederhana, seperti menjaga kebersihan, kesehatan, dan menutup aurat," tambah Denny.
Perluasan dan Renovasi Masjid
Awalnya, Masjid Al Aqsha tidak seluas seperti sekarang. Bangunan asli yang didirikan Sunan Kudus relatif kecil dan sederhana, dengan batas dari gapura dalam hingga mihrab pengimaman.
Masjid ini mengalami tiga kali perluasan: pertama pada tahun 1918-1919, kedua pada tahun 1927, dan terakhir pada tahun 1933. "Perluasan ini dilakukan untuk menampung jamaah yang semakin banyak," kata Denny.
Ramadan di Masjid Menara Kudus
Selama bulan Ramadan, Masjid Menara Kudus menjadi pusat kegiatan keagamaan yang ramai.
Kegiatan dakwah yang biasanya digelar seminggu sekali, kini diadakan setiap hari.
"Kami meningkatkan intensitas dakwah dan kegiatan keagamaan selama Ramadan. Ini menjadi momen penting untuk memperkuat silaturahmi dan keimanan jamaah," ujar Denny.
Warisan Budaya yang Tetap Relevan
Masjid Menara Kudus tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan.
Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya toleransi dan akulturasi dalam membangun masyarakat yang harmonis.
"Masjid ini adalah bukti bahwa perbedaan budaya dan agama bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang bisa disatukan untuk kebaikan bersama," pungkas Denny.
Dengan arsitektur yang memukau dan nilai sejarah yang mendalam, Masjid Menara Kudus tetap menjadi ikon kebanggaan masyarakat Kudus dan Indonesia. (san)
Editor : Mahendra Aditya