KUDUS - Para pedagang menceritakan suka dukanya selama 10 hari berjualan di Dandangan Kudus.
Dandangan Kudus telah dibuka dari tanggal 1-10 Maret.
Namun, hingga masa pembubaran stan, masih banyak pedagang yang melayani pembeli.
Terutama pedagang dari luar kota, yang memanfaatkan kesempatan sebelum sebelum tratak dibongkar.
Hal itu juga yang dialami perempuan berjilbab yang tampak termenung melihat kreweng atau mainan dari tanah liat tersisa banyak.
Sesekali, ia juga melambaikan tangan menawarkan pembeli yang sedang lewat depan lapak penjual Dandangan di Jalan Sunan Kudus.
"Nanti siang saya pulang. Kalau tenda sudah dibongkar, saya kukut, " kata Aisyah, 47, penjual kreweng asal Jepara.
Aisyah mengatakan, penjualan di Dandangan tahun ini dinilai sepi.
Pasalnya selama dua hari sebelum penutupan Dandangan terjadi hujan lebat.
Sehingga, membuat tidak banyak pembeli datang.
"Pembelinya sepi. Mungkin karena hujan dan matin lampu mati kemarin. Hampir tidak ada orang, " katanya kemarin.
Dandangan tahun sebelumnya, Aisyah berjualan di sepanjang jembatan Kali Gelis.
Akan tetapi, karena perubahan tata letak ia mendapatkan ruko di Jalan Sunan Kudus.
Selama sepuluh hari ia harus membayar Rp 1,5 juta untuk ukuran lapak 3x3 meter.
Ia mengaku saat ramai hanya bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu.
Berbeda dengan Dandangan sebelumnya, rata-rata penghasilan yang didapatkan Rp 500 ribu sampai dengan Rp 1 juta dalam sehari.
Meski demikian, tidak membuat Aisyah kapok berjualan di Dandangan Kudus.
Menurutnya, berjualan yang dilakukan setiap setahun sekali ini sudah menjadi tradisi menyambut Ramadan.
"Ada macam kreweng, seperti cangkir, piring, dan celengan. Saya jual Rp 3 ribu sampai yang ukuran besar Rp 20 ribu, " terangnya.
Berbeda dengan Aisyah, Sani, penjual gelas kaca asal Batang, mengaku tidak pernah merasakan sepi pembeli.
Selama 10 hari berjualan di Dandangan, setidaknya paling sedikit ia bisa mengantongi Rp 85 juta.
"Kalau ramai sehari bisa Rp 8,5 juta. Tapi pas sepi cuma dapat Rp 6,5 juta, " sebutnya.
Meski sempat diguyur hujan, pembeli masih memborong dagangannya. Mulai dari gelas kaca, guci, hingga toples.
"Alhamdulillah semua laris. Setiap tahun tidak pernah sepi, " ujarnya. (wat).
Editor : Dzikrina Abdillah