Noor Lailin Nisfah, sekretaris umum LPS Cendekia Mahida bertanya mengenai masalah narasumber yang sulit diajak wawancara. Ulin memberi tips untuk membuat rileks narasumber. Tujuannya agar narasumber tidak takut dan nyaman saat wawancara. Selain itu, sebelum mengagendakan liputan, jurnalis harus paham materi yang akan ditulis.
Melysa Khoirun Nisa dari kelas XII IPS juga bertanya mengenai hal terberat yang dijalani wartawan. Noor Syafaatul Udhma menjawab tidak ada yang berat. “Soalnya saya senang menjadi wartawan,” katanya.
Di akhir sesi, peserta juga diajak untuk berlatih menjadi reporter TV hingga diajak melihat pengeditan video. Yuyun Ifa Maulina, Pemred LPS Cendekia Mahida mengatakan setidaknya ada lima peserta yang diajak praktik langsung ngomong jadi reporter.
“Saat ini kami mengelola majalah dan warta mahida (berita yang bentuknya seperti koran ditempel di Mading dan dibagikan ke sekolah terdekat),” kata siswi XII IPS didampingi guru pendamping Nur Khoirrudin
Pembina Nadila Dwi Anggraeni mengatakan ingin para siswa dapat mengeksplor dan mengenal lebih dalam dunia jurnalistik. Pihaknya sangat senang sekali karena bisa belajar dengan pihak Redaksi Radar Kudus.
“Kami sudah menunjungi Radar Kudus tiga kali. Hasil studi banding ini kami akan terapkan sesuai dengan program kami nantinya,” ungkapnya. (ark/mal) Editor : Ali Mustofa