Manfaat Kayu Secang dan Cara Membuat Wedang Secang, Benarkah Bisa Membantu Menjaga Kebugaran?

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 09:10 WIB
Wedang secang
Wedang secang

RADAR KUDUS - Kayu secang bisa menjadi pilihan minuman herbal untuk menemani waktu santai. Bahan tradisional ini dikenal karena mampu menghasilkan warna merah alami ketika direbus dengan air.

Rasanya relatif ringan, tetapi bisa dibuat lebih hangat dan aromatik dengan tambahan jahe, kayu manis, atau serai.

Di tengah tren gaya hidup sehat, minuman herbal tradisional kembali menarik perhatian.

Salah satu yang patut dikenal adalah wedang secang, minuman berbahan kayu secang yang telah lama digunakan dalam tradisi kuliner Indonesia, termasuk sebagai salah satu bahan wedang uwuh.

Secang memiliki nama ilmiah Caesalpinia sappan. Bagian kayunya mengandung sejumlah senyawa bioaktif, antara lain brazilin, flavonoid, dan senyawa fenolik.

Berbagai penelitian laboratorium telah mempelajari potensi senyawa tersebut, terutama aktivitas antioksidan dan antiinflamasinya. 

Namun, hasil penelitian laboratorium tidak otomatis membuktikan bahwa meminum rebusan secang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit pada manusia.

Lantas, apa saja potensi manfaat kayu secang, bagaimana cara mengolahnya menjadi minuman herbal, dan hal apa yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsinya?

1. Mengandung Senyawa Antioksidan

Salah satu daya tarik kayu secang adalah kandungan senyawa yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan.

Senyawa yang sering menjadi perhatian peneliti adalah brazilin, pigmen alami yang juga berperan memberikan warna khas pada ekstrak kayu secang.

Antioksidan berperan dalam melawan radikal bebas, yaitu molekul reaktif yang dapat merusak komponen sel ketika jumlahnya berlebihan dan tidak seimbang dengan sistem pertahanan tubuh.

Penelitian terhadap kayu secang menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dalam ekstraknya. Temuan ini membuat secang menarik untuk dikaji lebih lanjut sebagai bahan minuman fungsional.

Meski demikian, kekuatan aktivitas antioksidan yang ditemukan di laboratorium tidak bisa langsung disamakan dengan dampak kesehatan setelah seseorang meminumnya.

Artinya, wedang secang bisa menjadi bagian dari variasi minuman sehari-hari, tetapi bukan pengganti buah, sayuran, pola makan seimbang, atau pengobatan yang diresepkan tenaga kesehatan.

2. Berpotensi Membantu Meredakan Peradangan

Potensi lain kayu secang yang banyak diteliti berkaitan dengan aktivitas antiinflamasi atau kemampuan memengaruhi proses peradangan.

Sejumlah penelitian praklinis menunjukkan bahwa ekstrak secang dan senyawa aktifnya memiliki potensi memengaruhi mekanisme biologis yang berkaitan dengan peradangan.

Akan tetapi, bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa wedang secang dapat mengobati radang atau penyakit tertentu pada manusia.

Karena itu, jika mengalami nyeri atau pembengkakan yang menetap, pemeriksaan medis tetap lebih penting daripada hanya mengandalkan minuman herbal.

Bagi yang ingin menikmati secang, pendekatan paling masuk akal adalah menjadikannya minuman pelengkap dalam pola hidup sehat, bukan solusi tunggal untuk mengatasi masalah kesehatan.

3. Menarik untuk Dikaji dalam Hubungannya dengan Kebugaran

Salah satu fakta menarik tentang secang datang dari penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Gizi Klinik Indonesia pada 2020.

Penelitian tersebut melibatkan 35 pegawai berusia 25–45 tahun yang mengalami prehipertensi. Peserta dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Kelompok intervensi mengonsumsi minuman secang sebanyak 3,8 gram yang diseduh dengan 200 mililiter air hangat selama empat minggu.

Hasilnya, penelitian tidak menemukan bukti bahwa konsumsi minuman secang tersebut secara signifikan menurunkan kadar malondialdehida atau MDA dalam plasma, salah satu penanda yang digunakan untuk menilai stres oksidatif.

Namun, hasil tes kebugaran menunjukkan perubahan pada peserta kelompok intervensi. 

Peneliti menyimpulkan bahwa minuman secang berpotensi berkaitan dengan peningkatan kebugaran, meski hasil penelitian ini tidak cukup untuk membuktikan manfaat yang sama pada semua orang.

Temuan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Jumlah peserta relatif kecil, waktu pengamatan hanya empat minggu, dan penelitian dilakukan pada kelompok tertentu.

Karena itu, hasilnya tidak bisa dijadikan jaminan bahwa minum secang akan meningkatkan stamina setiap orang.

Insight menariknya, kebugaran tidak ditentukan oleh satu bahan herbal saja.

Aktivitas fisik teratur, tidur cukup, asupan gizi, serta kondisi kesehatan turut memengaruhi kemampuan tubuh menjalankan aktivitas sehari-hari.

4. Bisa Menjadi Alternatif Minuman dengan Gula Tambahan yang Lebih Terkontrol

Wedang secang dapat dibuat dengan bahan sederhana dan disajikan tanpa gula tambahan.

Hal ini memberi keleluasaan bagi penikmatnya untuk mengatur tingkat kemanisan sesuai kebutuhan.

Secang juga dapat dipadukan dengan jahe, serai, atau kayu manis untuk menghasilkan aroma yang lebih kuat.

Perpaduan tersebut lazim ditemukan dalam tradisi minuman herbal Indonesia.

Namun, perlu dipahami bahwa manfaat mengurangi gula tambahan berasal dari pilihan resep dan bahan pemanis yang digunakan, bukan semata-mata dari kayu secang.

Jika minuman dibuat dengan banyak gula atau sirup, jumlah gula tambahannya tetap perlu diperhitungkan.

Bagi orang yang sedang membatasi asupan gula, wedang secang tanpa pemanis atau dengan sedikit pemanis dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.

5. Memberikan Warna Merah Alami yang Khas

Keunikan secang tidak hanya terletak pada potensi manfaat kesehatannya. Kayu ini juga dikenal sebagai sumber pewarna alami.

Brazilin merupakan salah satu senyawa penting dalam kayu secang yang berkontribusi terhadap warna merah pada seduhannya.

Warna yang muncul bisa berubah sesuai kondisi bahan dan proses pengolahan, sehingga secang juga menarik untuk digunakan dalam pengembangan produk minuman tradisional.

Bagi anak muda yang ingin mencoba minuman herbal tanpa harus membeli produk siap minum, warna merah secang dapat membuat sajian terlihat menarik.

Wedang ini bisa disajikan hangat saat cuaca dingin atau dinikmati setelah didinginkan, asalkan diolah dan disimpan secara higienis.

Meski begitu, warna merah yang pekat bukan ukuran pasti bahwa minuman memiliki manfaat kesehatan lebih tinggi. Warna terutama menunjukkan karakter pigmen dan proses ekstraksi, bukan jaminan khasiat.

Cara Membuat Wedang Secang yang Sederhana

Membuat minuman herbal dari kayu secang tidak harus rumit. Berikut salah satu cara sederhana yang bisa dicoba di rumah.

Bahan-bahan:

Cara membuat:

  1. Cuci singkat kayu secang dengan air bersih.
  2. Masukkan air, kayu secang, dan rempah pilihan ke dalam panci.
  3. Panaskan hingga mendidih, kemudian lanjutkan merebus dengan api kecil selama beberapa menit sampai air berubah kemerahan.
  4. Matikan api dan saring minuman sebelum disajikan.
  5. Jika ingin menambahkan madu, tunggu hingga minuman tidak terlalu panas.
  6. Nikmati selagi hangat atau dinginkan dengan cara yang higienis.

Takaran di atas merupakan panduan resep rumahan, bukan dosis pengobatan. Belum ada dosis terapeutik standar yang dapat direkomendasikan berdasarkan bukti klinis yang tersedia untuk mengobati penyakit dengan kayu secang.

Gunakan bahan yang memang dijual untuk konsumsi, bukan sembarang serpihan kayu yang belum jelas asal dan kebersihannya.

Apakah Kayu Secang Aman Dikonsumsi Setiap Hari?

Walaupun berasal dari tanaman, bahan herbal tidak otomatis aman untuk semua orang dan dalam semua jumlah. Bukti mengenai keamanan konsumsi rebusan secang dalam jangka panjang pada manusia masih terbatas.

Orang yang sedang mengonsumsi obat rutin, terutama obat untuk diabetes atau kondisi kronis lainnya, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum menjadikan secang sebagai minuman rutin.

Hal yang sama berlaku bagi ibu hamil dan menyusui, karena keamanan penggunaan dalam kondisi tersebut belum cukup dipastikan.

Hindari pula mengonsumsi ekstrak pekat atau suplemen secang dengan dosis tinggi tanpa arahan tenaga kesehatan.

Penelitian pada hewan maupun hasil uji laboratorium tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan dosis aman bagi manusia.

Jika setelah mengonsumsi minuman herbal muncul reaksi yang tidak biasa, hentikan konsumsi dan cari saran medis, terutama bila gejalanya berat.

Secang dan Gaya Hidup Sehat: Jangan Mengandalkan Satu Strategi

Mengonsumsi minuman herbal bisa menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas harian. Namun, secang sebaiknya ditempatkan sebagai pelengkap, bukan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh sehat.

Ibarat pertandingan sepak bola, satu pemain andalan tidak otomatis membuat tim menjadi juara. Hasil akhir ditentukan oleh kerja sama, strategi, kondisi fisik, dan konsistensi sepanjang pertandingan.

Begitu pula dengan kesehatan: satu minuman tidak bisa menggantikan pola makan seimbang, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan ketika diperlukan.

Secang mungkin memiliki potensi yang menarik berkat kandungan brazilin dan senyawa lainnya.

Penelitian awal juga memberikan alasan untuk terus mengkaji manfaatnya. Namun, pembaca tetap perlu membedakan antara potensi berdasarkan penelitian awal dan manfaat klinis yang benar-benar sudah terbukti.

Kesimpulannya, kayu secang dapat diolah menjadi minuman herbal yang praktis, berwarna merah alami, dan kaya senyawa yang menarik untuk diteliti. Nikmati sebagai bagian dari kebiasaan sehat, batasi gula tambahan, gunakan bahan yang aman untuk konsumsi, dan jangan menjadikannya pengganti obat atau saran medis.

Editor : Mahendra Aditya
manfaat kayu secang minuman herbal secang cara membuat wedang secang kandungan antioksidan kayu secang manfaat wedang secang