RADAR KUDUS — Kebiasaan menatap layar ponsel, komputer, maupun tablet dalam waktu lama semakin menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat.
Namun, intensitas penggunaan perangkat digital yang tinggi tanpa jeda dapat memicu kelelahan mata digital, mata kering, sakit kepala, hingga gangguan pola tidur.
Kondisi tersebut kian relevan karena sejumlah laporan kesehatan tahun 2026 menunjukkan bahwa keluhan akibat penggunaan layar berlebihan banyak dialami pekerja, pelajar, dan mahasiswa.
Mata Kering dan Perih
Saat seseorang fokus menatap layar, frekuensi kedipan mata cenderung menurun. Kondisi ini menghambat pembentukan kembali lapisan air mata yang berfungsi menjaga permukaan mata tetap lembap. Akibatnya, mata dapat terasa kering, perih, panas, gatal, hingga tampak merah.
Baca Juga: Rahasia Kulit Lembut, Manfaat Air Beras untuk Wajah untuk Hidrasi dan Perawatan Alami
Keluhan tersebut sering muncul setelah penggunaan perangkat digital dalam durasi panjang, terutama di ruangan ber-AC atau lingkungan dengan kelembapan rendah.
Paparan layar lebih dari 2,5 jam per hari meningkatkan risiko digital eye strain, dan risiko tersebut terus naik seiring bertambahnya jam penggunaan layar.
Kelelahan Mata dan Pandangan Kabur
Menatap objek pada jarak dekat membuat otot siliaris di dalam mata bekerja terus-menerus untuk menjaga fokus. Beban kerja otot tersebut dapat memicu ketegangan mata, pandangan buram sementara, serta rasa berat di sekitar mata.
Kumpulan keluhan ini dikenal sebagai Computer Vision Syndrome atau kelelahan mata didigital
Baca Juga: 6 Makanan Penurun Kolesterol yang Mudah Ditemukan untuk Menurunkan Kolesterol Jahat Alami
Gejalanya dapat berupa mata tegang, kering, perih, pandangan kabur, hingga sakit kepala setelah penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.
Sakit Kepala dan Nyeri Leher-Bahu
Dampak menatap layar tidak selalu berhenti pada mata. Posisi kepala yang terlalu menunduk saat menggunakan ponsel serta postur kerja yang kurang ergonomis dapat menimbulkan nyeri leher, tengkuk, dan bahu.
Sakit kepala juga menjadi keluhan yang umum dialami pengguna layar. Studi terhadap mahasiswa pada 2026 menemukan bahwa sakit kepala merupakan gejala paling sering dilaporkan pada kelompok yang mengalami kelelahan mata digital, disusul sensasi panas dan nyeri pada mata.
Baca Juga: Manfaat Sarapan Kukusan dan Cara Memasak agar Kandungan Nutrisi Tetap Terjaga
Gangguan Pola Tidur
Penggunaan layar menjelang tidur dapat memengaruhi ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Paparan cahaya terang pada malam hari, termasuk cahaya dari perangkat digital, berpotensi menekan produksi melatonin sehingga waktu tidur menjadi terlambat.
Karena itu, para ahli menyarankan pengguna untuk mengurangi aktivitas layar sekitar satu jam sebelum tidur.
Menurunkan kecerahan layar pada malam hari juga dapat membantu mengurangi gangguan pada jam biologis tubuh.
Baca Juga: Dampak Makan Seblak Berlebihan terhadap Kesehatan
Risiko pada Penglihatan Jangka Panjang
Sebagian besar gejala kelelahan mata digital bersifat sementara dan dapat membaik setelah mata diistirahatkan.
Namun, kebiasaan menatap layar dalam jarak terlalu dekat serta durasi penggunaan yang tinggi tetap perlu diwaspadai karena dapat memperberat ketegangan pada sistem penglihatan.
Beberapa ahli juga mengingatkan bahwa kebiasaan melihat layar dari jarak dekat berhubungan dengan peningkatan kemungkinan miopia, khususnya pada anak dan remaja.
Meskipun hubungan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai sebab-akibat langsung, pembatasan durasi layar dan penjagaan jarak pandang tetap penting untuk mendukung kesehatan mata.
Baca Juga: Daya Tahan Susu UHT Setelah Dibuka: Ini Batas Waktu Aman dan Tanda Susu Sudah Tidak Layak
Cara Mengurangi Dampak
Langkah pencegahan yang banyak direkomendasikan adalah aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.
Pengguna juga disarankan menjaga jarak pandang sekitar 30-50 sentimeter dari layar, mengatur kecerahan layar sesuai kondisi ruangan, serta menghindari pantulan cahaya yang membuat mata harus bekerja lebih keras.
Aktivitas di luar ruangan, istirahat yang cukup, dan pembatasan screen time juga berperan mendukung kesehatan mata.
Keluhan mata lelah, kering, atau pandangan kabur memang sering dianggap sepele. Namun, apabila gejala tersebut terus berulang, tidak membaik setelah istirahat, atau disertai nyeri mata yang hebat, pemeriksaan ke dokter mata perlu segera dilakukan.
Kesadaran akan waktu penggunaan layar dan kebiasaan istirahat yang teratur menjadi kunci utama menjaga kesehatan mata di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat pada perangkat digital. (*)
Editor : Ali Mustofa