RADAR KUDUS - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, penggunaan gawai pada anak menjadi tantangan serius bagi orang tua. Mulai dari ponsel, tablet hingga televisi, semua termasuk dalam kategori screen time yang kini semakin sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
Dokter spesialis anak subspesialis neurologi dari Universitas Indonesia, dr. R R Amanda Soebadi, menegaskan bahwa pengaturan screen time bukan sekadar soal durasi, tetapi juga menyangkut kualitas interaksi dan dampaknya terhadap perkembangan otak anak.
Batas Aman Screen Time Menurut Pakar
Menurut dr. Amanda, anak sebaiknya baru diperkenalkan pada layar setelah berusia di atas dua tahun. Itu pun dengan batas waktu yang ketat, yakni maksimal satu jam per hari.
Rekomendasi ini sejalan dengan panduan global dari World Health Organization dan American Academy of Pediatrics, yang menyarankan pembatasan screen time untuk menjaga kesehatan fisik dan perkembangan kognitif anak.
Jika anak di bawah usia tersebut sudah terpapar layar, maka pendampingan dari orang tua menjadi sangat penting untuk meminimalkan dampak negatif.
Jangan Biarkan Anak Menonton Sendiri
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membiarkan anak menikmati tontonan tanpa interaksi.
Padahal, menurut para ahli, komunikasi dua arah saat anak menonton sangat penting. Orang tua disarankan untuk:
- Mengajak anak berbicara tentang isi tayangan
- Memberikan pertanyaan sederhana
- Menjelaskan konteks cerita
Pendekatan ini membantu anak tetap aktif secara kognitif dan tidak hanya menjadi penonton pasif.
Bahaya Televisi Menyala Sepanjang Hari
Kebiasaan menyalakan televisi sebagai “background noise” juga menjadi sorotan.
Menurut dr. Amanda, kondisi ini bisa membuat anak terbiasa mendengar percakapan tanpa perlu merespons. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengganggu kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Studi yang dipublikasikan oleh lembaga kesehatan anak internasional menunjukkan bahwa paparan suara pasif dari televisi dapat mengurangi kualitas interaksi antara anak dan orang tua.
Dampak Screen Time Berlebih pada Anak
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa screen time berlebihan dapat berdampak pada:
- Keterlambatan perkembangan bahasa
- Gangguan konsentrasi
- Masalah regulasi emosi
- Penurunan kualitas tidur
Organisasi kesehatan global juga menyoroti hubungan antara penggunaan layar berlebihan dengan meningkatnya risiko obesitas pada anak akibat kurangnya aktivitas fisik.
Solusi: Ganti dengan Aktivitas Interaktif
Mengurangi screen time tidak cukup hanya dengan melarang. Orang tua perlu menyediakan alternatif kegiatan yang menarik dan edukatif.
Beberapa aktivitas yang direkomendasikan antara lain:
- Bermain puzzle
- Menyusun balok
- Membaca buku bersama
- Mengobrol saat makan
Aktivitas ini terbukti lebih efektif dalam merangsang perkembangan otak dan keterampilan sosial anak dibandingkan konsumsi konten digital secara pasif.
Pentingnya Peran Orang Tua
Kunci utama dalam mengelola screen time adalah konsistensi dan keterlibatan orang tua.
Menentukan durasi sejak awal, mematikan layar setelah waktu habis, serta tidak memberikan “tambahan tontonan” secara spontan menjadi langkah sederhana namun efektif.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi tetap bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi tanpa mengorbankan perkembangan anak.
Screen time bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi harus dikelola dengan bijak.
Dengan batasan durasi, pendampingan aktif, serta alternatif aktivitas yang berkualitas, anak tetap dapat berkembang secara optimal di tengah era digital yang semakin kompleks.
Editor : Mahendra Aditya