Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Panggilan untuk Berhenti, Jangan Paksa Penderita Depresi untuk Cepat Sembuh

Nayla Karima • Senin, 10 November 2025 | 19:13 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami gangguan depresi
Ilustrasi seseorang mengalami gangguan depresi

RADARKUDUS - Kadang kita terlalu cepat mengatakan seseorang yang mempunyai riwayat penyakit depresi dengan berkata, “Ayo dong, bersyukur. Banyak yang hidupnya lebih susah.”

Atau, “Kurang ibadah kali.” Atau bahkan, “Udah jangan ngeluh, hidup mah dijalanin aja.”

Padahal buat seseorang yang lagi depresi, cemas berat, atau mentalnya rapuh, kalimat itu bisa terasa seperti beban baru, bukan pertolongan.

Karena di titik itu, bukan dia tak mau kuat, tapi tubuh dan pikirannya lagi tidak punya tenaga untuk berdiri.

Bersyukur, sabar, atau bahkan sekadar tenang itu bukan cuma soal niat. Itu kemampuan yang butuh otak dan sistem tubuh bekerja dalam seimbangan.

Otak perlu tenang, persepsi harus stabil, dan kapasitas emosi cukup penuh untuk hadir di momen itu. Tapi saat depresi datang, tiga hal itu biasanya rusak bersamaan.

Secara ilmiah, depresi bikin aktivitas di prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur fokus, logika, dan persepsi positif, menurun.

Sementara amygdala, pusat emosi dan stres, malah jadi terlalu aktif.

Jadi otak seperti kebalik fungsinya, bagian yang harusnya bikin tenang melemah, bagian yang harusnya hanya alarm darurat malah terus bunyi.

Hasilnya, dunia terasa abu-abu. Hal-hal kecil yang dulu bisa bikin bahagia, sekarang datar aja.

Otak tidak lagi mampu “merekam” momen positif dengan jernih, apalagi menumbuhkan rasa syukur darinya.

Jadi bukan tidak mau bersyukur, tapi sinyal syukur itu tidak sampai.

Menyuruh orang depresi untuk bersyukur itu ibarat nyuruh orang lari padahal kakinya lagi patah.

Secara teori dia tahu cara lari, tapi tubuhnya belum mampu. Begitu juga dengan rasa syukur atau ibadah yang khusyuk, dia tahu pentingnya, tapi sistem otaknya lagi gak punya tenaga buat sampai ke sana.

Secara psikologis, orang yang depresi atau cemas berat itu tubuh dan pikirannya lagi sibuk bertahan hidup.

Sistem saraf simpatik yang bikin tubuh siaga dan cemas lebih aktif dari sistem parasimpatik yang bikin tenang.

Jadi jika disuruh “lihat sisi baiknya” atau “jangan ngeluh”, ya rasanya seperti disuruh nonton film bahagia padahal ruangannya masih kebakaran.

Yang dibutuhkan bukan ceramah, tapi ruang buat pulih. Ditemani tanpa dihakimi. Didengarkan tanpa disuruh cepat bangkit. Dan diberi waktu untuk menemukan lagi rasa “hadir” di hidupnya.

Begitu otak mulai tenang, emosi mulai stabil, barulah kemampuan untuk bersyukur, berdoa dengan khusyuk, dan merasa damai itu pelan-pelan tumbuh kembali.

Bersyukur dan beriman bukan tanda seseorang gak punya masalah, justru itu muncul ketika tubuh dan batinnya sudah cukup aman untuk melihat kebaikan.

Kadang orang depresi tidak butuh diingatkan soal sabar, tapi cukup ditemani saat sabarnya lagi bocor.

Tidak butuh disuruh lihat sisi terang, tapi cukup dirangkul saat matanya belum kuat menatap cahaya.

Editor : Ali Mustofa
#depresi penyakit kronis #cara membantu teman yang depresi #gangguan kecemasan depresi #depresi pada remaja #Era Depresi Besar #depresi ringan #tidur panjang tapi lelah depresi