Dubes Belajar Mengukir dari Ibu-Ibu Perajin Jepara

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 16:08 WIB
ANTUSIAS: Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula diajari natah di Festival Teekang Kajoe di Sentra Patung Mulyoharjo, Jepara, pada Rabu (4/11). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula diajari natah di Festival Teekang Kajoe di Sentra Patung Mulyoharjo, Jepara, pada Rabu (4/11). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Pemandangan tak biasa tampak di Festival Toekang Kajoe yang digelar di Sentra Patung Mulyoharjo pada Rabu (4/11). Kehadiran para diplomat dari berbagai negara, menyedot perhatian warga.

Alih-alih hanya minta foto bersama, para diplomat juga tampak diajak belajar mengukir. Dipandu oleh Ibu-Ibu setempat yang mahir menatah.

Suasana ini, menjadi sebuah pengalaman yang mempertemukan diplomasi internasional dengan keterampilan lokal. Diplomasi budaya.

Bagi para duta besar, ukiran Jepara menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan visual. 

Ada ketekunan, pengetahuan, dan keterampilan tangan yang tidak mudah digantikan teknologi. 

Dari pahatan kayu itulah Jepara berupaya memperkenalkan kekayaan budayanya, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara.

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula mengaku mendapatkan pengalaman menarik selama kunjungan tersebut. 

Ini menjadi pengalaman pertamanya datang ke Jepara. Phillip mengaku terkesan, dengan keindahan daerah serta potensi industri yang dimiliki Kota Ukir.

"Sangat menarik, saya harus lebih belajar dari para perajin (ukir di Mulyoharjo, red). Baru pertama kali, ini (pengalaman, red) sangat bagus," ujarnya, sembari melempar senyum di tengah ia menatah.

Phillip yang selama ini tinggal di Jakarta menyebut, Jepara memiliki banyak hal menarik untuk dipelajari. 

Mulai dari kerajinan ukir hingga industri pengolahan kayu yang berkembang di daerah tersebut. 

FESTIVAL TOEKANG KAJOE: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar mendampingi Dubes beserta dengan Asosiasi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
FESTIVAL TOEKANG KAJOE: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar mendampingi Dubes beserta dengan Asosiasi. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Ia juga mengapresiasi masyarakat Jepara, yang memiliki keterampilan dan kemampuan dalam mempertahankan industri kerajinan.

Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengalaman baru. Dia berharap dapat kembali ke Jepara bersama istri dan anaknya. Bahkan, Phillip mengaku ingin berkunjung ke Karimunjawa.

“Mungkin tahun depan (berkunjung, red),” ringkasanya.

Sementara itu, Duta Besar Rumania untuk Indonesia Dan-Adrian Bălănescu melihat seni ukir dan furnitur Jepara memiliki peluang pasar yang cukup besar di negaranya.

Menurutnya, masyarakat Rumania tidak hanya tertarik terhadap produk furnitur Jepara, tetapi sebagian di antaranya juga telah memilikinya. 

Produk kerajinan kayu berdaya tarik tersendiri. Terutama untuk kebutuhan dekorasi taman, desain interior perkantoran, hingga domestik rumah tangga.

Ia menilai, kerajinan kayu merupakan salah satu keunggulan Jepara yang patut terus diperkenalkan ke pasar internasional. 

Keterampilan memahat kayu bukan pekerjaan sederhana karena membutuhkan ketelitian, pengalaman, dan kemampuan artistik yang diperoleh melalui proses panjang.

“Ini (keterampilan, red) sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI,” sambungnya.

Kemampuan dalam mengolah kayu menjadi karya seni, memiliki nilai tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan proses produksi berbasis teknologi.

Selain kekayaan kerajinan, Bălănescu juga menyoroti sosok Raden Ajeng Kartini. Ia mengaku sangat menghargai perjuangan tokoh perempuan asal Jepara tersebut, dalam memperjuangkan hak dan kemajuan perempuan.

Menurutnya, perjuangan Kartini menjadi salah satu tonggak penting dalam gerakan perempuan.

Warisan pemikiran dan perjuangannya tidak hanya memiliki arti bagi masyarakat Jepara, tetapi juga relevan dalam konteks perkembangan masyarakat dunia.

Industri ukir dan mebel juga memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Sektor ini, menjadi salah satu sandaran ekonomi yang menghidupi banyak keluarga. 

Pengembangan industri, tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan tradisi, tetapi juga harus memperhatikan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional.

Kualitas, dinilai menjadi faktor penting untuk memperluas penerimaan produk Jepara di luar negeri. 

Dengan standar pengerjaan yang baik dan kemampuan mempertahankan karakter khasnya, kerajinan Jepara mempunyai kesempatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Kunjungan para diplomat tersebut merupakan bagian dari The Diplomatic Forum Jepara 2026 yang berlangsung pada 3–5 November 2026.

Forum ini menghadirkan perwakilan sekitar 18 negara sahabat yang mengikuti sejumlah agenda, termasuk kunjungan lapangan ke sentra industri mebel Mulyoharjo dan pameran Oktofest 2026.

Sejumlah perwakilan negara yang hadir di antaranya Selandia Baru, Rumania, Armenia, Republik Ceko, Denmark, Ukraina, Georgia, Yunani, Austria, Tunisia, Mozambik, Seychelles, Guatemala, Meksiko, Laos, Kamboja, Fiji, dan Kepulauan Solomon. Ini momen bagi Jepara, untuk memperkenalkan potensi daerah secara langsung kepada komunitas diplomatik internasional.

Lebih dari sekadar kunjungan budaya, forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama internasional. Potensi industri kreatif, perdagangan, investasi, hingga pengembangan pariwisata menjadi sejumlah sektor yang dapat diperkenalkan melalui pertemuan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Jepara beserta Lestari Moerdijat, dan kementerian terkait, juga tengah mengusulkan seni ukir Jepara, untuk masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.(fik)

Editor : Ali Mustofa
dubes berkunjung ke jepara Festival Toekang Kajoe Ibu-ibu menatah Sentra patung Mulyoharjo Octo Fest