Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Film Kartini Berpeluang Digarap Kembali, Hanung Bramantyo: Kekhasannya Sangat Kuat

Fikri Thoharudin • Senin, 13 Juli 2026 | 16:51 WIB
INTERAKTIF: Para pengunjung tengah meninjau ruang pamer usai menonton film seputar Kartini di Ruang Teater, Museum Nasional Indonesia pada Sabtu (11/7). (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)
INTERAKTIF: Para pengunjung tengah meninjau ruang pamer usai menonton film seputar Kartini di Ruang Teater, Museum Nasional Indonesia pada Sabtu (11/7). (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)

JAKARTA — Muncul wacana untuk kembali membuat film seputar Kartini beserta Jepara sebagai kota bersejarah.

Bahasan tersebut mengemuka, terutama usai pemutaran film Kartini (versi PBB) yang diselenggarakan di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, pada Sabtu (11/7). Acara ini sebagai bagian dari rangkaian pameran seni ukir TATAH 2026.

Sutradara Indonesia Hanung Bramantyo menilai Jepara memiliki karakter yang sangat kuat, sebagai kota yang sarat sejarah. Merintangi ruang dan waktu. Lintas masa kepemimpinan.

Namun, menurutnya, identitas tersebut belum tergarap maksimal. Sehingga masih menyisakan ruang besar untuk menghadirkan karya-karya, termasuk film, yang lebih menggali seperti sosok R.A. Kartini beserta warisan pemikirannya.

Pemutaran film tersebut menyoroti warisan semangat pemberdayaan ekonomi, kewirausahaan, serta pemikiran progresif R.A. Kartini yang dinilai tetap relevan bagi generasi muda maupun komunitas internasional.

Hanung mengatakan Jepara memiliki karakteristik yang sangat spesifik. Tidak seharusnya kehilangan identitas dengan mengikuti tren pembangunan kota-kota lain.

"Kota Jepara sangat spesifik, karakteristiknya kuat. Jepara harusnya memiliki karakteristik sendiri. Ratu Kalinyamat juga ada di sana. Kenapa Jepara harus meniru Jakarta, Yogyakarta, dan kota lain?" singgungnya.

ELEGAN: Sutradara film Kartini Hanung Bramantyo ikut menyaksikan pameran TATAH di Museum Nasional. (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)
ELEGAN: Sutradara film Kartini Hanung Bramantyo ikut menyaksikan pameran TATAH di Museum Nasional. (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)

Menurutnya kecenderungan mengikuti gaya modern minimalis, justru membuat kekhasan Jepara semakin memudar.

"Kalau di kota lain rumahnya memakai marmer misalnya, Jepara lalu ikut-ikutan. Modern minimalis, Jepara juga ikut modern minimalis. Itu yang menyebabkan salah satu produk khusus di Jepara tidak lagi menjadi spesifik," ujarnya.

Di satu sisi, Hanung berharap Pemerintah Daerah Jepara bersama Kementerian Kebudayaan terus mendorong revitalisasi identitas Jepara sebagai Kota Kartini.

"Saya berharap dengan adanya (TATAH, red) sekarang, pemda dan Kemendikbud getol melakukan revitalisasi, kembalikanlah Jepara menjadi kota yang unik. Orang masuk ke sana benar-benar merasakan sejarah (seperti yang diimpikan) Kartini. Jepara harus menjadi kota sejarah," tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa pemikiran Kartini jauh lebih luas, daripada sekadar perjuangan emansipasi perempuan.

"Surat-surat Kartini mencakup banyak hal. Kartini tidak hanya berbicara soal emansipasi perempuan, tetapi juga ditransformasikan ke banyak bidang. Ada unsur ekonomi, ada kritik terhadap sistem patriarki. Dampak pemikirannya masih sangat relevan sampai sekarang," jelasnya.

Hanung mengatakan film memiliki fungsi utama sebagai media hiburan yang mampu memantik rasa ingin tahu penonton, bukan sebagai sumber pengetahuan yang lengkap.

"Sangat salah kalau mencari ilmu di bioskop. Knowledge di film mungkin hanya 20 sampai 30 persen. Tugas film memberikan rangsangan agar orang kemudian keluar mencari buku, membaca catatan sejarah, dan menggali lebih dalam," jelasnya.

Ia bahkan menilai idealnya bioskop berada dalam satu kawasan dengan perpustakaan, panggung teater, maupun ruang kebudayaan. Sehingga masyarakat bisa langsung berkunjung usai rampung menonton film.

"DNA film itu unik, bukan ilmu pengetahuan. Dengan adanya film seperti ini kemudian akan muncul keinginan untuk menggali lebih dalam. Kalau ada pemikiran Kartini diwujudkan dalam bentuk lain, seperti ukiran dan karya seni, itu menjadi peluang. Habis melihat pameran, menggali literasi, dan seterusnya. Harusnya seperti ini," imbuhnya.

Sementara itu, anggota tim riset sejarah Rumah Kartini, Daniel Frits Maurits Tangkilisan, menilai film Kartini karya Hanung memang tidak sepenuhnya mengikuti fakta sejarah secara utuh. 

ANTUSIAS: Pemuda di Jepra tengah mengikuti walking tour yang diadakan oleh Komunitas Trah Kalinyamat di Museum Kartini dan sejumlah situs bersejarah di Jepara pada Minggu (12/7). (ANIS UNTUK RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Pemuda di Jepra tengah mengikuti walking tour yang diadakan oleh Komunitas Trah Kalinyamat di Museum Kartini dan sejumlah situs bersejarah di Jepara pada Minggu (12/7). (KOMUNITAS TRAH KALINYAMAT UNTUK RADAR KUDUS)

Namun demikian, film tersebut berhasil menyampaikan nilai-nilai perjuangan Kartini kepada masyarakat luas.

Menurutnya, emansipasi perempuan yang diperjuangkan Kartini sejatinya merupakan jalan untuk mewujudkan emansipasi bangsa.

Meski begitu, Daniel melihat masih terbuka peluang menghadirkan film lain yang lebih mendalam. Baik mengenai kehidupan, pemikiran, karya, serta pengaruh Kartini terhadap perkembangan bangsa Indonesia.

"Saya berharap ada pihak-pihak yang bersedia membuat dan mendanai pembuatan film, baik live action ataupun animasi, baik film layar lebar maupun miniseri, tentang Kartini, adik-adiknya maupun tentang abangnya, Sosrokartono," sambungnya pada Senin (13/7).

Direktur TATAH 2026, Veronica Rompies, juga berharap ke depan hadir film yang lebih banyak mengangkat gagasan dan pemikiran Kartini.

"Film ini lebih menonjolkan emansipasi dan keindahan sebuah film. Saya berharap ada versi yang lebih memperlihatkan gagasan beliau. Kartini masih sangat muda, tetapi pemikirannya luar biasa. Banyak orang merindukan Kartini, ia dapat lebih dikenal melalui pemikirannya," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, pemerhati Kartini, Susi Ernawati, mengajak masyarakat memaknai perjuangan Kartini sebagai semangat untuk tetap bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

"Kita selalu dililit beragam masalah dan gunjingan, tetapi harus tetap kokoh. Setiap ujian akan menumbuhkan bunga-bunga yang baru," ujarnya saat menjelaskan makna karya seni Jaladara Collectiva yang turut ditampilkan dalam pameran TATAH.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
#Pameran Tatah #Wacana pembuatan film Kartini #Hanunh Bramantyo #film kartini #museum nasional