JEPARA — Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, resmi mengalami kenaikan mulai Rabu (10/6) pukul 00.00 WIB.
Kenaikan tersebut berlaku untuk sejumlah produk Pertamina, terutama Pertamax dan Pertamax Green 95. Sebagaimana berdasarkan kebijakan evaluasi harga berkala yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga.
Ketua Paguyuban SPBU Jepara, M. Chairudin Ardy, mengatakan perubahan harga tersebut telah diterapkan serentak di seluruh SPBU sejak dini hari.
Meski demikian, distribusi BBM di Kabupaten Jepara, hingga saat ini masih berjalan normal dan pasokan dipastikan aman.
Baca Juga: Pertamax Naik Hampir Rp4.000 per Liter, Menkeu Purbaya Yakin Harga Barang Tak Ikut Melonjak
Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini, berpotensi mendorong sebagian konsumen Pertamax. Beralih menggunakan Pertalite yang masih berstatus subsidi.
Karena itu, SPBU diminta lebih aktif mengawal program Subsidi Tepat. Agar penyaluran BBM bersubsidi tetap sesuai ketentuan.
“Sesusai arahan Pertamina, SPBU akan lebih aktif melayani pendaftaran Subsidi Tepat. Diperkirakan sebagian pelanggan Pertamax akan beralih ke Pertalite,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengawasan distribusi BBM subsidi saat ini dilakukan secara ketat oleh Pertamina, melalui sistem digital. Yang terhubung langsung dengan seluruh SPBU.
Setiap transaksi pembelian BBM subsidi tercatat secara real time, dan dapat dipantau langsung.
“Penyaluran BBM subsidi dipantau langsung dari Pertamina. Transaksi SPBU terkoneksi dengan sistem Pertamina. CCTV di SPBU juga sudah online dan dimonitor setiap hari,” jelasnya.
Ardy menegaskan, SPBU hanya akan melayani pembelian BBM subsidi, sesuai data yang telah terdaftar dalam program Subsidi Tepat.
Masyarakat yang belum memiliki QR Code diminta segera melakukan pendaftaran, agar tidak mengalami kendala saat membeli Pertalite maupun Biosolar.
“Pelanggan yang belum mempunyai QR Code dipersilakan melakukan pendaftaran. Jika ada kendala, petugas di SPBU siap membantu prosesnya,” ucapnya.
Berdasarkan daftar harga terbaru yang berlaku mulai 10 Juni 2026, Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar (CN 48) tetap Rp 6.800 per liter.
Sementara Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp 17.000 per liter.
Lalu, harga BBM nonsubsidi lainnya tidak mengalami perubahan. Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp 20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp 24.800 per liter.
Kenaikan harga Pertamax tersebut berdampak langsung pada biaya operasional kendaraan.
Sebagai gambaran, untuk motor dengan kapasitas tangki sekitar 4 liter, biaya sekali pengisian penuh bertambah sekitar Rp 15.800.
Jika pengisian penuh dilakukan delapan kali dalam sebulan. Tambahan pengeluaran yang harus disiapkan konsumen mencapai sekitar Rp 126.400 per bulan.
Meski harga BBM nonsubsidi naik, Pertamina memastikan harga BBM subsidi tidak berubah, guna menjaga daya beli masyarakat serta mendukung kebutuhan transportasi dan distribusi barang. Yang hingga kini, masih bergantung pada Pertalite dan Biosolar.(fik)
Editor : Mahendra Aditya