Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Peringati Hatedu Temukan Penggiat Seni dan Budaya Muda-Tua, Pentaskan Lakon Teater, Emprak dan Ledek

Fikri Thoharudin • Minggu, 5 April 2026 | 17:21 WIB
ANTUSIAS: Kesenian emprak dipadukan dengan ledek pada Sabtu (5/4) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Kesenian emprak dipadukan dengan ledek pada Sabtu (4/4) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Para penggiat seni dan budaya lintas generasi dan daerah, berkumpul dalam perayaan Hari Teater Dunia (Hatedu), di Gedung Serba Guna Pantai Bandengan, Jepara.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat-Minggu (3–5/4) ini, menjadi ruang temu, sekaligus panggung ekspresi bagi komunitas teater di Jepara dan sekitarnya.

Ketua pelaksana yang juga penggiat di Dekade Jepara, Rhobi Sani, menyampaikan bahwa Hatedu merupakan agenda tahunan yang telah digelar sejak 2017. 

Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-9, dengan konsep kemah budaya yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat teater lintas usia.

“Pesertanya tidak hanya dari Jepara, tetapi juga dari Semarang dan Kudus. Termasuk Karimunjawa. Total ada 16 kelompok teater yang terlibat, masing-masing membawa lakon mereka,” ujarnya.

Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari workshop hingga pentas bersama. 

Materi workshop meliputi penyutradaraan bertema ekologis, keaktoran, serta tata artistik.

Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antar komunitas. Mengusung tema “Sambang Sambung”, di mana para peserta saling bertukar pengalaman dan membangun jejaring kreatif. 

Suasana kemah memperkuat interaksi, menjadikan proses belajar terasa lebih cair dan akrab.

Pada malam pertama, sejumlah teater menampilkan karya mereka di hadapan peserta dan publik.

Pertunjukan ini menjadi ajang eksplorasi ide sekaligus hasil dari proses latihan yang telah dipersiapkan selama sekitar sebulan sebelum Ramadan.

Sementara itu, malam kedua diisi dengan pementasan emprak yang dipadukan dengan ledek. Seni pertunjukan khas Jepara yang kini keberadaannya kian terancam. Rhobi menegaskan, hanya tersisa satu komunitas emprak yang masih aktif hingga saat ini.

“Emprak sengaja kami hadirkan agar generasi muda, khususnya Gen Z, kembali mengenal kesenian lokal yang hampir punah ini,” jelasnya pada Sabtu (4/4) malam.

Selain pertunjukan, panitia juga meluncurkan buku kumpulan naskah teater berjudul Kol. Kol merupakan salah satu teknik pahat kayu, bagi para perajin ukir. 

Buku setebal lebih dari 200 halaman itu memuat 13 lakon yang mengangkat tema seni ukir, sebagai identitas khas Jepara.

Tak hanya itu, pembukaan kegiatan juga diramaikan dengan kolaborasi pertunjukan tradisi “Julung Caplok”, sebuah ritual lama yang dahulu digunakan untuk menandai kelahiran bayi, namun kini sudah jarang ditemui di masyarakat.

Rhobi berharap, kegiatan seperti Hatedu dapat terus digelar secara berkelanjutan, bahkan dikembangkan melalui pementasan keliling ke desa-desa. 

Sebelumnya, kegiatan serupa pernah menyasar sejumlah titik seperti Museum Kartini, Desa Kepuk, Kenxengsidialit, hingga ruang-ruang komunitas seni.

Output-nya bukan sekadar pentas, tapi juga proses belajar melalui workshop dan kolaborasi. Ini penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem seni, khususnya teater dan budaya lokal di Jepara,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#peringatan hatedu #ledek #pertunjukan seni dan budaya #teater #Pantai Bandengan Jepara