Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Momen Hari Batik Nasional, Refleksi Mengamalkan Nilai-nilai Kartini

Fikri Thoharudin • Jumat, 3 Oktober 2025 | 01:05 WIB
ANTUSIAS: Siswi SMKN 2 Jepara tengah belajar membatik di Stilir Batik pada Kamis (2/10).
ANTUSIAS: Siswi SMKN 2 Jepara tengah belajar membatik di Stilir Batik pada Kamis (2/10).

JEPARA - Setiap tetes malam yang menempel di kain katun putih mengartikan jejak ketelatenan dan kesabaran.

Hal itulah yang dirasakan Rizqina Firda Safira, 17, siswi SMKN 2 Jepara. 

Sejak tiga tahun lalu, ia menekuni batik sebagai bagian dari pendidikannya. 

"Awalnya susah, tapi karena sudah biasa jadi bisa. Batik itu soal ketekunan, seperti yang diajarkan Ibu Kartini," katanya Kamis (2/10).

Pada momentum Hari Batik Nasional, 2 Oktober, Rizqina dan teman-temannya menjadikan belajar batik bukan sekadar kegiatan sekolah, tetapi wujud penghormatan pada warisan budaya yang diakui UNESCO, sebagai Karya Agung Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2009.

Rizqina Firda mengaku, awalnya ia dulu hendak masuk tata busana, namun takdir membawanya pada jalur sedikit berbeda. 

Dari situlah ia belajar mencintai batik. Kini, ia bermimpi memiliki industri batik sendiri, melanjutkan tradisi yang diwariskan leluhur sekaligus menjadikannya peluang usaha.

Senada bagi Keyla Anafila, 17, teman sekelas Firda, membatik adalah ruang berekspresi.

Setiap goresan motif dan permainan warna menjadi sarana menyalurkan ide dan semangat akan sebuah hal dan cita-cita.

"Membatik itu menyenangkan, membuat perasaan lebih rileks. Saya jadi bisa mengekspresikan diri lewat warna dan motif," ujarnya.

Ketekunan dua remaja ini adalah cerminan semangat Kartini masa kini.

Nilai-nilai kreativitas dan keberanian untuk mencoba hal baru mereka wujudkan melalui kain batik, karya yang tak lekang waktu.

BERDAYA: Ibu-ibu tetangga April pemilik Stilir Batik, tengah merampungkan pesanan motif batik dari salah satu KBIH di Jepara.
BERDAYA: Ibu-ibu tetangga April pemilik Stilir Batik, tengah merampungkan pesanan motif batik dari salah satu KBIH di Jepara.

Semangat itu juga dijaga oleh April Puji Astuti, pemilik Stilir Batik di Desa Geneng, Kecamatan Batealit. 

Bagi April, membatik bukan hanya ladang pekerjaan, melainkan pengabdian.

Ia menggerakkan ibu-ibu PKK dan remaja putus sekolah untuk ikut belajar membatik. 

"Saya ingin masyarakat sekitar sadar, batik ini harus terus dikembangkan. Setiap tahun ada kegiatan membatik bersama, meski tantangannya besar," katanya.

Apalagi saat ini, April pun mengakui, minat generasi muda terhadap batik mulai berkurang.

Gempuran industri garmen dengan tawaran gaji UMR tinggi, membuat tak sedikit orang enggan menekuni proses panjang batik. 

Padahal, dengan karya batik itu bisa mendapatkan pasar hingga merambah hingga luar negeri, ataupun pesanan dari dalam negeri yang menonjolkan simbol budaya.

Seperti di Jepara terdapat motif, ukir, perang obor, memedhen gadhu, terumbu karang, dan sejenisnya.

"Secara teknis kami siap, tapi dukungan pemerintah tetap dibutuhkan, terutama untuk tenaga kerja. Kalau pesanan banyak, sering kewalahan," ujarnya.

Saat ini April tengah memberdayakan warga sekitar, untuk menyelesaikan pesanan batik dari 10 intansi dan perorangan. Dari satu pesanan terdapat permintaan sejumlah 50 hingga 100 helai (lembar) kain batik.

April juga menekankan pentingnya mencintai batik bukan hanya dengan melihatnya saja, tetapi juga memakai dan menghargai proses pembuatannya. 

"Kalau bisa, ikut mencoba membuat. Di situ kita tahu kenapa batik tulis harganya bisa Rp500 ribu, bahkan lebih. Itu harga dari kesabaran dan ketekunan," katanya.

Pihaknya juga berusaha mengedukasi masyarakat, seperti soal harga batik cap maupun printing yang hanya di angka Rp70 ribuan.

TELATEN: Ana Muryanah pemilik Dhahayu Batik tengah mencanting kain bermotifkan paduan parang dan ukir Jepara.
TELATEN: Ana Muryanah pemilik Dhahayu Batik tengah mencanting kain bermotifkan paduan parang dan ukir Jepara.

"Kalau cap di tempat saya Rp130 hingga Rp200 ribu sudah dapat bagus. Ya ini penting untuk dijadikan edukasi, karena ada seni rupa ada seni harga. Tapi di Stilir Batik, bisa disesuaikan," katanya.

Peringatan Hari Batik Nasional menjadi pengingat, bahwa batik bukan sekadar kain bercorak indah. 

Itu adalah cerita tentang proses ketekunan, ketelatenan, keberanian, dan cinta pada tradisi serta budaya.

Seperti yang dilakukan oleh Ana Muryanah, pemilik Dhahayu Batik yang konsisten menggunakan metode 'tulis' dalam proses berkaryanya.

Menurutnya, lewat proses tersebut semua ide dan pikiran tumpah. Menyatu padu dalam satu motif yang harmonis.

Baginya, ketekunan tersebutlah yang justru menjadi hal yang patut untuk dilakoni. Membatik tak ubahnya menjadi salah satu rentenan bagian ibadahnya.

Syahdan, dari rumah-rumah perajin, jejak itu terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi. Ilmu pengetahuan praktis dan filosofis yang selalu terjaga.

Menjadi kain yang dikenakan secara seragam oleh banyak orang di Nusantara maupun di Mancanegara.(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #lokal #batik #warisan dunia #Motif #Hari Batik 2 Oktober