JEPARA, Radar Kudus – Isak tangis para perempuan paruh baya pecah saat dua alat berat tambang memasuki area persawahan Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, Selasa (27/5) pagi.
Gema sholawat terdengar lirih bersahut dengan kemarahan dan kekhawatiran warga, menandai kembali meletupnya konflik antara penduduk dan pihak perusahaan tambang.
Ketegangan bermula sejak pukul 07.30, saat mandor tambang mendatangi lokasi dan menyampaikan niat untuk membangun pondasi yang diklaim sebagai langkah antisipasi longsor.
Baca Juga: POTRET Kebahagiaan Ratusan Peserta CPNS di Kabupaten Jepara Terima SK Pengangkatan
Namun, warga menolak memberi izin tanpa musyawarah menyeluruh, karena persoalan tambang dianggap menyangkut hajat hidup banyak orang.
Pukul 08.30, tanpa kesepakatan warga, dua alat berat tiba-tiba mulai beroperasi. Aksi sepihak ini memicu kemarahan.
Puluhan warga bergegas mendatangi lokasi, menuntut alat berat dihentikan. Dalam waktu satu jam, aktivitas tambang berhasil dibekukan sementara, dan operator diminta menghentikan kegiatan.
Koordinator warga segera menghubungi perangkat desa. Sekitar pukul 10.00, rombongan dari Kecamatan Donorojo bersama delapan personel aparat tiba di lokasi.
Mereka menawarkan audiensi terbatas yang direncanakan pada Rabu (28/5) dengan menghadirkan sejumlah perwakilan warga saja.
Baca Juga: Angkat Pamor Ukir di Kancah Internasional, Pemkab Jepara Agendakan Pameran Tunggal di Jakarta
Seorang warga, yang menjadi juru bicara komunitas penolak tambang, menegaskan bahwa sikap warga bukanlah reaksi spontan.
“Sejak Januari 2025 kami sudah menyuarakan penolakan. Bukan karena emosi sesaat, tapi karena ancaman nyata terhadap lingkungan dan keselamatan kami,” ujarnya.
Ia juga mengeluhkan bahwa dua kali undangan audiensi sebelumnya tidak pernah secara eksplisit membahas tuntutan utama warga.
“Kami ingin tambang dihentikan. Kami ingin ruang hidup kami tetap lestari. Kami ingin hidup tenang di kampung sendiri,” ucapnya lirih.
Camat Donorojo: “Ada Penunggang Kepentingan”
Camat Donorojo, Widiyantoro, mengaku bahwa pihaknya terbuka untuk dialog. Namun, ia juga menyebut bahwa gerakan penolakan warga diduga mendapat pengaruh dari luar desa.
“Kalau tidak ditunggangi kepentingan lain, saya yakin warga bisa diajak musyawarah,” ujarnya.
Meski begitu, Widiyantoro tetap menawarkan jalan tengah berupa dialog terbatas. “Saya sarankan perwakilan saja yang hadir, tak usah ramai-ramai. Tapi ternyata warga hari ini ada kegiatan kesenian,” imbuhnya.
Mengenai izin tambang, pihak kecamatan berpendapat bahwa proses seharusnya tinggal berjalan sembari dievaluasi di tengah jalan.
“Kalau izinnya sudah keluar, tinggal jalan sambil dievaluasi. Tapi ini, belum jalan sudah ditolak,” tutupnya. (Fikri Thoharudin)
Editor : Mahendra Aditya