JEPARA – Ribuan ketupat dan lepet ludes dalam waktu kurang dari setengah jam saat Festival Kupat-Lepet digelar di Lapangan Pantai Kartini, Jepara, kemarin (27/3).
Setelah vakum selama dua tahun, festival rakyat yang sarat nilai budaya ini kembali diselenggarakan dan langsung diserbu warga dari berbagai penjuru.
Sebanyak 4.000 buah ketupat dan lepet ditata dalam dua gunungan raksasa setinggi sekitar 1,5 meter.
Begitu prosesi doa dan sambutan selesai, ribuan warga yang sudah menanti sejak pagi langsung tumpah ruah dan berebut ketupat-lepet yang diyakini membawa berkah, kesehatan, dan kelimpahan rezeki.
Salah satu peserta, Jumiati, warga Desa Suwawal Timur, Kecamatan Mlonggo, mengaku datang sejak pukul 06.30 WIB, meski acara baru dimulai pukul 09.30 WIB. Usahanya tak sia-sia.
Ia berhasil membawa pulang tujuh ketupat dari gunungan. “Alhamdulillah. Biar berkah, tambah rezeki, sehat. Rencananya dimakan bersama-sama,” ujarnya dengan wajah bahagia.
Tradisi Bernuansa Heroik dan Spiritual
Festival Kupat-Lepet bukan sekadar pesta kuliner. Tradisi ini digelar untuk mengenang perjuangan Ratu Kalinyamat, tokoh legendaris dari Jepara yang dikenal gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka pada abad ke-16.
Ketupat dan lepet yang dibagikan dalam festival ini menjadi simbol pengorbanan dan persatuan masyarakat Jepara dalam menghadapi tantangan zaman.
Tradisi ini biasanya dihelat setiap tahun bertepatan dengan momen Lebaran Ketupat atau Pekan Syawalan, yang berlangsung sepekan setelah Hari Raya Idulfitri.
Namun, akibat keterbatasan anggaran, festival sempat vakum selama dua tahun terakhir. Tahun ini, meski digelar secara sederhana, antusiasme warga tetap luar biasa.
Pemerintah Janji Lebih Meriah Tahun Depan
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengungkapkan rasa syukurnya atas kembalinya festival budaya tersebut.
Ia berkomitmen untuk meningkatkan dukungan anggaran tahun depan agar Festival Kupat-Lepet bisa digelar lebih meriah dan profesional.
”Mudah-mudahan tahun depan gelaran Festival Kupat-Lepet bisa lebih meriah lagi, dan ini sebagai bentuk upaya menjaga tradisi kita agar tetap lestari,” ujar Wiwit, sapaan akrabnya.
Tak hanya itu, Wiwit juga menegaskan bahwa festival-festival tradisional seperti ini berpotensi besar menjadi daya tarik wisata budaya.
“Kami akan tingkatkan biayanya untuk tahun depan supaya bisa lebih meriah. Kami benar-benar nguri-uri budaya leluhur kami,” tegasnya.
Langkah ini selaras dengan visi Pemkab Jepara yang ingin menjadikan wilayah pesisir ini sebagai salah satu destinasi unggulan wisata budaya dan bahari di Indonesia.
Serbuan Warga Sejak Pagi
Dari pantauan Radar Kudus, ratusan warga mulai berdatangan ke Pantai Kartini sejak subuh.
Banyak dari mereka datang membawa keluarga, bahkan anak-anak.
Mereka rela berpanas-panasan dan berdesakan hanya demi mendapatkan ketupat dan lepet yang diyakini membawa keberkahan jika disantap bersama keluarga.
Ketupat dan lepet yang dibagikan juga bukan sembarang makanan. Keduanya merupakan simbol spiritual khas masyarakat Jawa.
Ketupat yang dibungkus daun janur melambangkan pengakuan dosa (kupat berasal dari kata ngaku lepat) dan harapan akan kehidupan yang lebih bersih pasca Ramadan.
Sementara lepet, yang berbahan dasar ketan dan santan, menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan karena teksturnya yang lengket dan padat.
Jepara, Kota Budaya Maritim yang Makin Dilirik
Dengan digelarnya kembali Festival Kupat-Lepet, Kabupaten Jepara memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah yang serius dalam melestarikan tradisi dan budaya maritim.
Jepara dikenal tidak hanya lewat ukiran dan sejarah R.A. Kartini, tetapi juga lewat berbagai festival rakyat seperti Pesta Lomban, Festival Perang Obor, hingga Kupat-Lepet.
Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, kunjungan wisatawan pada momen Lebaran Ketupat meningkat tajam setiap tahunnya, dengan Pantai Kartini dan Karimunjawa menjadi tujuan utama.
Festival-festival budaya seperti ini memberi multiplier effect bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, serta sektor transportasi dan perhotelan.
Momen Reuni dan Harapan
Bagi warga Jepara, Festival Kupat-Lepet bukan cuma perayaan adat, tapi juga ajang reuni emosional, mempererat tali persaudaraan, dan mengingat kembali nilai-nilai perjuangan serta spiritualitas yang mulai memudar di tengah modernisasi.
Dengan komitmen dari pemerintah dan antusiasme masyarakat yang terus menyala, bukan tidak mungkin tahun depan Festival Kupat-Lepet bisa naik kelas menjadi agenda budaya nasional, bahkan masuk dalam kalender event Kemenparekraf.
Jangan sampai ketinggalan! Tahun depan, siapkan tenaga, datang lebih pagi, dan rebut ketupat berkah di Pantai Kartini. Siapa tahu, bukan hanya ketupat yang kamu bawa pulang, tapi juga segunung rezeki dan cerita seru buat anak cucu nanti! (rom)