Tahun ini, merupakan kali ketiga pameran tersebut diselenggarakan di Kabupaten Jepara. Selama 2 pekan pameran tersebut berlangsung, transaksi yang berhasil dicatatkan sekitar Rp 1,671 miliar.
Itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara Zamroni Lestiaza melalui Kabid Perdagangan Anik Rosyidah.
Catatan transaksi itu merupakan hasil penjumlahan dari 2 kategori pameran yang digelar.
Yaitu on the spot di Meeting Point yang digelar di Gedung Wanita mulai 9 hingga 16 Maret, lalu transaksi on the spot di in house masing-masing peserta JIFBW.
”Transaksi yang terjadi di dalam acara JIF-BW 2025, on the spot di Meeting Point Rp 736 juta. Sedangkan on the spot di in-house Rp 935 juta,” papar Anik.
Berdasarkan laporan penyelenggara, tahun ini JIFBW berhasil menarik 346 pengunjung ke arena Meeting Point di Gedung Wanita Jepara. Sementara yang berkunjung hingga in-house ada 723 pengunjung.
Sebanyak 30 pengunjung di Meeting Point dan 58 pengunjung di in house antaranya merupakan pengunjung asing.
Terpisah, Ketua Steering Committee JIFBW Jamhari mengakui, dibanding tahun sebelumnya, jumlah peserta dan transaksi yang dicatatkan dalam JIFBW kali ini menurun.
”Mungkin karena secara umum kondisi ekonomi global dan domestik belum membaik. Namun, secara umum pelaksanaannya sudah lebih baik. Dukungan dan jejaring sudah jauh lebih kuat,” ungkap Jamhari.
Meski begitu, dengan hadirnya JIFBW yang rutin digelar tiap tahun pihaknya bertekad menjadikan Jepara sebagai kota mebel kelas dunia.
Industrinya berkembang lantaran perusahaan mebel di Jepara mudah ditemukan oleh para pembeli, baik untuk pasar domestik maupun global.
Lewat pertemuan antara buyer dan produsen melalui JIFBW tersebut, industri mebel dan seni ukir khas Jepara menurutnya akan semakin adaptif terhadap selera dan permintaan pasar.
”Hadirnya para buyer ke Jepara akan menimbulkan eksternalitas positif di jangka panjang. Terbentuknya perilaku dan postur industri yang lebih berdaya saing vis a vis daerah atau negara produsen mebel lain. Dikarenakan para pelaku sudah dilatih untuk bersaing secara sehat secara internal,” papar Jamhari. (rom)
Editor : Noor Syafaatul Udhma