JEPARA – Berbeda dengan masjid lainnya di Jepara, Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan memiliki ciri khas ukir pada bangunannya.
Ukiran kayu jati itu merupakan karya asli warga sekitar yang juga berprofesi sebagai pengrajin ukiran. Ukiran-ukiran dan kayunya disumbangkan dari warga secara swadaya.
Ukiran ini tampak pada sebagian lapis luar dinding masjid, lapis dalam tempat khutbah, sekat jamaah, serta bangunan lantai dua terbuat dari ukiran kayu jati.
Meski ditopang dengan bahan bangunan lain, ukiran masih mendominasi masjid. Baik ornamen ukir atau ukir kayu.
Masjid dua lantai ini dapat memuat 600-700 jamaah. Sebelumnya, masjid ini adalah masjid dengan ukuran kecil.
Hingga akhirnya melalui musyawarah bersama, masyarakat ingin masjid itu dikembangkan kekhasannya dengan ukir-ukiran.
Ukir-ukiran menjadi lambang kekhasan desa yang warganya mayoritas adalah pengrajin ukir mebel.
Masjid ini terletak di dalam desa, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari alun-alun kota. Pada hari biasa, masjid biasa digunakan untuk tahlilan, yasinan, dan selawatan.
Sementara pada bulan Ramadan tahun ini, ada pengajian yang digelar pada sore hari menjelang berbuka puasa. Pesertanya orang tua dan anak-anak.
Lalu saat tarawih, masjid dipenuhi oleh warga sekitar. Jamaah yang tidak mendapat tempat eribadah di halaman luar. Setelah tarawih, warga membaca nadhom aqoid 50.
“Ini rutin kami jaga. Belajar tauhid secara alamiah. Syi’ir atau pujian ini sudah ada sejak zaman kiai Nusantara. Jepara termasuk jarang masjidnya baca syi’ir ini. Kami berusaha untuk tetap melestarikan,” ujar KH Nur Khandir, salah satu pengurus masjid.
Masjid kini juga mengadakan kegiatan sosial seperti pembagian donasi untuk masyarakat berkebutuhan khusus dan ODGJ.
Selain menjadi kekhasan Petekeyan sebagai Kampung Sembada Ukir, masjid ini dulunya juga menjadi saksi perlawanan warga sekitar terhadap penjajah Jepang. (nib/war)
Editor : Noor Syafaatul Udhma