Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Bersejarah Dibalik Indahnya Masjid Baiturrohim di Tahunan Jepara, Jadi Simbol Perlawanan Kolonial Jepang

Nibros Hassani • Kamis, 21 Maret 2024 | 20:21 WIB
BERSEJARAH: Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan Tahunan Jepara tampak dari jauh.
BERSEJARAH: Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan Tahunan Jepara tampak dari jauh.

JEPARA - Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan, Kabupaten Jepara memiliki ciri khas ukir pada bangunannya.

Ukiran kayu jati itu merupakan karya asli warga sekitar yang juga berprofesi sebagai pengrajin ukiran. Ukiran-ukiran dan kayunya disumbangkan dari warga secara swadaya. 

Ukiran ini tampak pada sebagian lapis luar dinding masjid, lapis dalam tempat khutbah, sekat jamaah, serta bangunan lantai dua terbuat dari kayu jati dengan ukirannya.

Meski ditopang dengan bahan bangunan lain, ukiran masih mendominasi masjid. Baik ornamen ukir atau ukir kayu. 

Masjid dua lantai ini dapat memuat 600-700 jamaah.

Sebelumnya, masjid ini adalah masjid dengan ukuran kecil.

Hingga akhirnya melalui musyawarah bersama, masyarakat ingin masjid itu dikembangkan kekhasannya dengan ukir-ukiran.

Ukir-ukiran menjadi lambang kekhasan desa yang warganya mayoritas adalah pengrajin ukir mebel. 

Masjid ini terletak di dalam desa, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari alun-alun kota.

Warga yang ingin datang bisa dari Jepara Kota melewati kanal, melewati Balai Desa Krapyak lalu tinggal lurus saja sampai gang besar sebelum Desa Rau Kecamatan Kedung.

Ada gang di sisi kanan lalu tinggal jalan lurus masjid akan dijumpai tepat di perempatan jalan Desa Petekeyan.

Simbol Perlawanan Era Kolonial Jepang

KH Nur Khandir menceritakan, sebelum masjid menjadi besar seperti saat ini, dulunya Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan adalah masjid kecil yang berbentuk seperti Masjid Demak kebanyakan.

Namun masyarakat sekitar menjulukinya sebagai masjid wali karena bentuknya.

Masyarakat juga biasa menjadikan masjid ini sebagai patokan arah di Desa Petekeyan sebab lokasinya yang strategis dan sering menjadi lintasan pengendara. 

Dulunya, hanya ada 3 ruangan di dalam masjid: ruangan 1 yang steril dari anak kecil, ruangan 2 dan 3 menjadi serambi. Kemudian masjid dipugar diganti dengan masjid bergaya Demak. Lalu rehab dan sempat ingin dijadikan sebagai cagar budaya oleh masyarakat. 

“Lalu diadakan musyawarah besar lagi sampai semua masjid akhirnya dibongkar. Setelah itu (jadi masjid sekarang) kami mendapat instruksi langsung dari PBNU untuk memasang logo NU di masjidnya. Masjid kami jadi masjid inspiratif.

Di Jepara kami jadi satu-satunya yang mengawali (memasang logo) lalu diikuti oleh musola-musola lain. Legal standingnya jelas, bahwa sampai kapanpun masjid ini adalah masjid yang ahlus sunnah wal jamaah an nahdliyyah. Untuk mengamankan warisan identitas, amanat dari sepuh-sepuh kami,” jelas Nur Khandir.  

Selain itu, dulunya ada kisah menarik di masjid ini juga.

Hingga saat ini, kata Khandir, Masjid Jami’ Baiturrohim Petekeyan menjadi saksi sejarah perlawanan masyarakat sekitar Petekeyan terhadap penjajah Jepang.

Sebelum Indonesia merdeka dari jajahan Jepang, selain sebagai tempat ibadah masjid ini juga berfungsi sebagai lumbung pangan yang dirahasiakan dari Jepang.

Letaknya di bawah tanah. Tempat para warga menyimpan beras dan hasil bumi lainnya. Untuk menghalau penjajah Jepang datang dan memergoki lumbung tersebut, KH Anwar, Mbah Mursmin dan tokoh lain bersepakat untuk membunyikan bedug dan kentongan masjid. Bunyi itu lalu menjadi pertanda bahwa ada penjajah datang sehingga masyarakat keluar dari rumah dengan membawa persenjataan.  

Kata Nur Khandir, suatu ketika, penjajah Jepang datang dan hendak sweeping daerah tersebut.

“Orang Jepangnya disebut warga Den Ramlan. Den Ramlan ini datang pakai kendaraan, lalu warga membunyikan kentongan atau bedug di masjid. Masyarakat keluar dengan membawa persenjataan: ada yang bawa linggis, parang, ramai-ramai Den Ramlan dikejar mau di-massa. Tapi akhirnya lolos karena bawa kendaraan,” jelas Nur Khandir.  

Dampak dari kejadian itu, tokoh setempat diadili oleh pemerintah Jepang.

Mereka dihukum di Penjara di Pati, dirantai dan di-romusha-kan di Sumatera. 

“Jasadnya sampai tidak pernah diketahui warga Petekeyan. Entah jejaknya ada dimana,” kata Nur Khandir. (nib) 

Editor : Dzikrina Abdillah
#masjid #Bersejarah #jepara #keindahan #cerita #tahunan #ukir #Baiturrohim