JEPARA - Hari ini (10/11) sosok Ratu Kalinyamat akan resmi mendapatkan gelar sebagai sosok pahlawan nasional.
Pemberian gelar tersebut dilaksanakan di Istana Negara.
Gelar pahlawan yang didapatkan hari ini, adalah buah penantian panjang dan usaha tak kenal henti dari berbagai pihak.
Pasalnya, perlu waktu hingga 28 tahun agar gelar pahlawan nasional bisa diraih sosok Ratu Kalinyamat tersebut.
Diketahui, dalam mengusulkan sosok Ratu Kalinyamat mendapat gelar pahlawan nasional telah dilakukan hingga tiga kali.
Sosok Ratu Kalinyamat pertama kali diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara menjadi pahlawan nasional sekitar tahun 1995.
Namun, usulan tersebut gagal. Tak selesai di situ, Pemkab Jepara kembali mengusulkannya sekitar tahun 2007.
Namun usulan tersebut kembali gagal.
Saat itu, alasannya harus bisa membuktikan sosok Ratu Kalinyamat bukan sekedar mitos.
Maka harus disertai dengan bukti-bukti akademis.
Sebab itu, di tahun 2018 Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ikut menginisiasi lewat Yayasan Dharma Bakti Lestari bersama Pusat Studi Ratu Kalinyamat Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, juga Pemkab Jepara mencoba mengumpulkan sejarah terkait Ratu Kalinyamat.
Menurut Lestari, dalam mengumpulkan bukti-bukti kepahlawanan sosok Ratu Kalinyamat, pihaknya tak sekadar menggandeng akademisi.
Namun juga budayawan, Sujiwo Tedjo. Itu demi meluruskan sejarah.
”Ada lakon ketoprak yang sangat menyayat hati. Dan itu dimainkan oleh kelompok ketoprak puluhan tahun. Dan itu sangat disenangi. Dengan bantuan Sujiwo Tedjo, yang secara khusus membuat serial dan edukasi terhadap kelompok-kelompok wayang orang,” papar Lestari.
Dalam sejarah yang tertulis, sosok Ratu Kalinyamat adalah anak dari Sultan Trenggana, seorang Raja Demak.
Namun, terkait silsilahnya ada beberapa versi.
Ada yang menyebut sang ratu merupakan anak kedua, adapula yang menyebutnya anak ketiga.
Dalam mengusulkan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat, itu tak lepas dari perannya sebagai Perempuan Perintis Antikolonialisme.
Pemberian gelar Perempuan Perintis Antikolonialisme itu merujuk pada sosok Ratu Kalinyamat yang merupakan perempuan Jawa dengan jiwa nasionalisme kuat.
Patriotisme dan nasionalisme Ratu Kalinyamat terbukti dengan dedikasinya dalam memelopori gerakan anti kolonialisme Portugis.
Yaitu dengan membentuk aliansi untuk membangun kekuatan bersama antara Jepara, Johor, Aceh dan Maluku untuk menyerang Portugis.
Pasalnya, di masa tersebut atau sekitar abad ke-16 masehi, bumi Nusantara tengah di bawah penjajahan Portugis.
Dalam membuktikan itu, berbagai penelitian dilakukan.
Hanya saja, sejak 2018 hingga tahun 2020, tim peneliti baru berhasil mendapatkan bukti-bukti sekunder.
”Makam tidak bisa jadi bukti kepahlawanan. Sementara, situs-situs nyaris tidak ada. Catatan sejarah bahwa Jepara punya galangan kapal yang besar, itu hanya tercatat di bukti sekunder. Bukan bukti primer,” imbuh Lestari.
Hingga akhirnya, tim peneliti bertemu seorang mahasiswa Universitas Brawijaya yang menempuh pendidikan strata 3, yang juga merupakan seorang sejarawan.
Darinya, tim peneliti diajak ke Kota Porto, Portugal. Di sana, ditemukan catatan perjalanan para misionaris.
Yang di dalamnya, terdapat beberapa catatan yang mengulas sosok Ratu Kalinyamat, dalam hal ini disebut Rainha de Japara.
Ada delapan sumber primer dari Portugal yang menyatakan keberadaan Ratu Kalinyamat nyata adanya.
Catatan tersebut turut dikaji oleh tim ahli. Pengkajian tersebut, juga melibatkan ahli militer Connie Rahakudini Bakrie.
”Dari dokumen tersebut berhasil ditemukan bahwa kapal-kapal Ratu Kalinyamat itu, kalau kita lihat sekarang, kata bu Connie, seperti kapal induk Amerika. Tapi industri perkapalan itu mati setelah Belanda masuk karena ada pembatasan pembuatannya,” ungkap Lestari. (rom)
Editor : Ali Mustofa