SEMARANG — Semarang kembali menunjukkan dirinya sebagai wadah nyaman bagi keberagaman dengan diadakannya pawai Ogoh-Ogoh yang luar biasa pada hari Minggu, 26 April 2026.
Acara ini, yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, tidak hanya menjadi wadah ekspresi bagi umat Hindu, namun juga menjadi lambang kesatuan untuk seluruh elemen masyarakat dari berbagai keyakinan dan suku di pusat kota Jawa Tengah itu .
Sejak pukul 13.00 WIB, semangat masyarakat sudah tampak jelas memenuhi sepanjang jalur yang terbentang dari Balai Kota Semarang hingga Lapangan Pancasila, Simpang Lima.
Baca Juga: Meriah! Warga Ramai Saksikan Pawai Ogoh-Ogoh di Simpang Lima Semarang
Pawai ini menampilkan seni yang memukau, di mana Ogoh-Ogoh diarak dengan penuh kemegahan sebagai gambaran nilai-nilai mendalam dan rohani.
Keistimewaan pawai tahun ini terlihat dari partisipasi aktif berbagai kelompok masyarakat, mulai dari umat Kristen, Katolik, Islam, Buddha, hingga Konghucu yang ikut berjalan berdampingan dalam semangat kekeluargaan.
Walikota Semarang, Agustina Wilujeng, yang secara langsung meresmikan kirab budaya ini menekankan bahwa arak-arakan ini adalah cerminan sejati dari kehidupan masyarakat yang hidup harmonis.
Beliau berpendapat, peringatan ini adalah perwujudan dari semangat falsafah Memayu Hayuning Bhawono yang bertujuan menciptakan atmosfer kota yang aman, tenang, dan serasi bagi semua penduduknya.
Baca Juga: Bus Trans Semarang Terus Diperkuat dengan Diganti 10 Bus Baru
Keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang di sepanjang jalan menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah hambatan, melainkan sebuah kekayaan yang memperkokoh identitas Semarang sebagai kota yang sangat terbuka.
Kegiatan ini pun berlangsung lancar berkat kolaborasi dari semua pihak, termasuk pengaturan lalu lintas yang telah disiapkan di sekitar lokasi awal dan jalur utama.
Dengan keberhasilan perayaan ini, Semarang sekali lagi mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa harmoni antarumat beragama adalah dasar penting dalam memajukan kota.
Pawai Ogoh-Ogoh lebih dari sekadar hiburan budaya, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga toleransi agar keindahan keberagaman tetap lestari di bumi (*).
Editor : Anita Fitriani