RADAR KUDUS - HIDUP penuh rasa sepi, tanpa tanggung jawab sosial. Hal ini, menjadi satu nilai yang ditunaikan oleh A Rahayu Ningrum.
Bagi Ayu, hidup tidak sekadar memenuhi kebutuhan pribadi.
Ada tanggung jawab sosial yang harus dijalankan. Terlebih, ketika satu pekerjaan menyangkut nasib ribuan orang.
Perempuan kelahiran Kudus, 18 Agustus 1996 ini tampak tegar. Menjadi seorang ibu, sekaligus perempuan karier.
Sejak 2018, Ayu mengabdikan diri di bidang Human Resources Development (HRD), pada satu perusahaan yang menaungi karyawan dari wilayah Kudus hingga Jepara.
Selama hampir delapan tahun menangani penggajian (payroll), ia menjadi salah satu pihak yang memastikan hak-hak pekerja terpenuhi dengan baik.
Ibu dari Almahira Marthanata itu mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pekerjaannya ialah saat menghadapi berbagai keluhan karyawan. Terutama terkait penggajian dan komunikasi antarpekerja.
“Kalau bicara nominal gaji, tentu ada aturan dan kewajiban yang harus dipenuhi. Karyawan wajib bekerja selama satu bulan, dan perusahaan berkewajiban membayarkan hak mereka sesuai ketentuan,” ungkapnya, pada Jumat (26/6).
Tak hanya memastikan gaji dibayarkan tepat waktu, Ayu juga bertanggung jawab mengawal pemenuhan jaminan sosial pekerja, mulai dari kepesertaan BPJS Kesehatan hingga BPJS Ketenagakerjaan.
Baginya, tugas seorang HRD bukan hanya mengurus administrasi, tetapi juga memastikan para pekerja dapat berangkat dan pulang bekerja dengan aman. Serta memperoleh hak-hak dengan semestinya.
Saat ini, sekitar 2.500 kepala keluarga menggantungkan penghasilan dari perusahaan tempatnya bekerja.
Karena itu, setiap ada keluhan mengenai pembayaran hak karyawan, ia berupaya mencarikan solusi terbaik.
“Saya merasa punya tanggung jawab untuk memperjuangkan hak-hak karyawan. Ketika ada komplain, kami cek kembali apa yang menjadi hak pekerja dan bagaimana penyelesaiannya,” katanya.
Di tengah kesibukan bekerja, Ayu tidak melupakan pendidikan. Ia merupakan lulusan Program Studi Ekonomi dari Universitas Sultan Fatah Demak yang menyelesaikan studinya pada 2021.
Menariknya, seluruh biaya kuliah ditempuh secara mandiri, saat dirinya telah bekerja.
Keinginan untuk terus belajar pun belum berhenti. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, sebagai bentuk investasi ilmu dan pengembangan diri.
Pendidikan, baginya adalah tabungan di masa mendatang.
Sebagai seorang working mom, Ayu mengakui tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan membagi waktu antara peran sebagai istri, ibu, dan profesional di tempat kerja.
“Yang penting jangan mencampurkan peran di rumah dan di kantor. Harus pintar membagi waktu dan menjaga suasana hati agar tetap seimbang,” imbuhnya.
Untuk menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres, Ayu memiliki cara sederhana.
Ia menyempatkan diri menikmati waktu untuk me time, seperti menikmati kopi di kafe sepulang kerja sambil menyantap makanan favoritnya.
Baginya, menjadi perempuan karier, bukan berarti meninggalkan peran dalam keluarga.
Sebaliknya, perempuan dapat terus berkembang, berkontribusi bagi banyak orang, sekaligus tetap hadir bagi orang-orang tercinta di rumah.
Sebab, menurutnya, pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang mampu memberi manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri.
Tetapi juga bagi ribuan keluarga yang menggantungkan harapan dari setiap hak yang diperjuangkan.
“Karena sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi sesama. Semua orang punya peran, kalau saya berusaha memastikan tidak ada hak dari karyawan yang terkurangi. Setiap tetes keringatnya bernilai,” tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya