TAK semua anak muda mendapat kesempatan membawa nama bangsanya ke panggung dunia.
Kumala Kartika Hawani berhasil melakukannya lewat Histocon 2022 di Berlin, konferensi sejarah internasional yang mempertemukan ratusan peserta lintas negara.
Nama Kumala Kartika Hawani menggaung di kancah internasional, ia pernah berdiri sejajar dengan ratusan delegasi dari berbagai negara dalam forum sejarah dunia Histocon di Berlin, Jerman.
Histocon atau History Conference and Festival adalah konferensi bergengsi yang digelar oleh German Federal Agency for Civic Education.
Pada 2022, kegiatan ini difokuskan pada pembahasan sejarah pasca Perang Dunia II dan pengaruhnya di masa kini.
Selama empat hari, peserta lintas negara berbagi pengalaman, perspektif, dan narasi sejarah dari tempat mereka masing-masing.
Bagi Lala -sapaan akrabnya-, jalan menuju Berlin penuh cerita. Tahun 2019, ia bersama beberapa mahasiswa University of Tokyo dipilih oleh Prof Weber sebagai delegasi Histocon 2020 untuk membawakan presentasi mengenai isu Comfort Women di Asia Timur. Namun pandemi Covid-19 membuat konferensi itu batal.
“Waktu itu rasanya kecewa sekali. Tapi saya percaya, suatu saat kesempatan itu akan datang lagi,” ujarnya.
Dugaan itu benar. Tahun 2022, pemerintah Jerman kembali menggelar Histocon.
Kumala lalu menghubungi Prof Weber menanyakan apakah delegasi lama akan berangkat. Ternyata tidak ada.
Lalu, ia pun meminta izin untuk mendaftar secara individu.
Dengan dukungan surat rekomendasi dari sang profesor serta beasiswa dari pemerintah Jerman, langkahnya akhirnya terwujud.
Tantangan besar langsung dihadapinya.
“Saya satu-satunya peserta dari Indonesia. Rasanya cukup berat, karena harus membawa perspektif bangsa kita dalam diskusi yang banyak dikuasai narasi negara besar seperti Belanda dan Jepang,” tutur Kumala.
Namun justru di situlah ia menemukan makna. Suara Indonesia hadir di ruang global, didengar, dan diperhitungkan.
Lebih menarik lagi, ia tak sengaja bertemu kembali dengan seorang teman dari Thailand—yang seharusnya dulu berangkat bersama ke Histocon 2020.
“Seperti potongan cerita yang akhirnya tersambung kembali,” katanya.
Kumala adalah lulusan SMPN 1 Purwodadi dan SMAN 1 Surakarta, yang kemudian melanjutkan studi ke University of Tokyo.
Baginya, kesempatan tampil di Berlin menjadi pengalaman berharga bukan hanya secara akademis, tapi juga secara personal.
“Sejarah bukan hanya milik negara besar. Narasi kita juga penting untuk diperjuangkan dan disuarakan,” tegasnya.
Perjalanan Kumala membuktikan bahwa anak daerah bisa tampil di panggung global. Dari Purwodadi ke Tokyo, lalu terbang ke Berlin, ia menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya milik negara besar, tapi juga suara dari mereka yang kerap terpinggirkan. (int)
Editor : Ali Mustofa