GROBOGAN - Bukanlah perkara mudah untuk merampungkan kuliah S-1 jurusan farmasi.
Pasalnya, mahasiswa-mahasiswinya dituntut untuk menyelesaikan studi skala laboratorium maupun olah data dari rumah sakit.
Namun, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi Aliq Fuadah.
Perempuan kelahiran Grobogan, 1 Februari 2000 tersebut memutuskan untuk mengambil skala lab saat menuntaskan tugas akhirnya di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Semarang.
Mulanya warga Desa Pranten, Kecamatan Gubug itu juga kebingungan saat mencari apa yang belum pernah diteliti.
Baca Juga: Geger! Penemuan Mayat Wanita Tanpa Identitas Tergeletak di Pinggir Jembatan Timbang Gubug Grobogan, Begini Kronologinya
Namun, tak dinyana apa yang dia cari ternyata ada di dekatnya.
"Saya tak sengaja lihat di rumah budhe ada pohon turi tapi kok warna bunganya berwarna merah. Saya kemudian kepikiran untuk meneliti kandungan dari daunnya," ungkapnya pada Senin (15/4).
Setelah dilakukan uji laboratorium terhadap daun turi merah atau tanaman dengan nama latin Sesbania grandiflora L.
Pers itu ditemukan kandungan yang beragam. Di antaranya senyawa yang memiliki daya antibakteri meliputi alkaloid, tanin, saponin, steroid dan triterpenoid.
"Itu merupakan golongan metabolit sekunder sebagai antibakteri. Khasiatnya bisa untuk mengatasi penyebab jerawat maupun infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," tuturnya.
Untuk mendapatkan hasil dari proses ekstrak ke fraksi itu dibutuhkan waktu setidaknya satu tahun.
Dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Vakum (KCV) yang diujikan kepada bakteri Staphylococcus aureus.
Baca Juga: Gelar Open House saat Lebaran, Bupati Grobogan Sri Sumarni Sambut Tamu bersama Sang Putri
"Dari simplisia basah atau daun segar seberat 3 kilogram hanya dapat diekstraksi kental sekitar 100 gram. Harus berkali-kali mencoba dan belajar kasus saat ngelab," ujarnya.
Meskipun telah lulus pada 2023 silam, namun Aliq juga mendapati masukan dari para dosen agar dapat mengembangkan lagi hasil penelitiannya.
Supaya dapat disediakan untuk masyarakat secara luas dalam bentuk salep ataupun krim.
Dia berharap dapat menjadi apoteker andal suatu saat nanti. Apalagi dengan pengalaman magangnya di puskesmas, apotek, rumah sakit, maupun pedagang besar farmasi (PBF).
"Ini sedang menunggu sumpah apoteker tanggal 23 April nanti. Mendatangkan anggota dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di Patrajasa Semarang," pungkasnya. (fik/khim)
Editor : Abdul Rokhim