Ia mengaku awal membangun usaha tak fokus. Karena sempat kerja di asuransi. Hanya 1,5 tahun ia bertahan. Setelahnya menekuni bisnis jilbabnya.
”Baru sebulan ini saya kembali fokus. Saya mulai kembali menyetok jilbab,” jelasnya.
Ia mengaku mengembangkan jilbab dan masker wajah organik.
”Ya saya berbagai cara untuk pasarkan produk tidak hanya lewat medsos tapi juga offline. Dari teman nanti nyambung-nyambung ke lainnya, istilahnya getok tular. Saya yakin suatu saat akan membuka riseler untuk membantu pasarkan produk saya. Sementara ini saya atasi sendiri,” jelasnya.
Perempuan berusia 26 tahun bercerita awal ide membuat produk sendiri karena jilbab banyak peminatnya.
”Kalau model dua pasmina dan segitiga serta langsungan. Jadi saya bermain ke motif dan jenis kain. Saya membeli kainnya di Semarang, karena lebih murah ketimbang di Kudus. Kisaran harga kalau saya jual Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu,” jelas sosok yang berdomisili di RT 2/RW IV, Desa/Kecamatan Mejobo, Kudus.
Perempuan lulusan dari Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan akuntansi ini mengaku selama pandemi justru usahanya lancar. Karena produk yang ia jual banyak pesanan lewat online.
”Ya ibaratnya seperti saya pribadi. Perempuan tak lepas dari hobi shopping. Maka jilbab salah satu produk yang tetap dicari dan masuk daftar list shopping perempuan. Selain itu, masker wajah juga, kebutuhan perempuan untuk merawat diri,” ungkapnya. (zen) Editor : Ali Mustofa