Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Nasi Keras dan Daging Alot, Orang Tua Keluhkan Menu MBG di Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Kamis, 25 September 2025 | 22:27 WIB
NIKMAT: Siswa di SMPN 1 Grobogan saat menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG), belum lama ini.
NIKMAT: Siswa di SMPN 1 Grobogan saat menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG), belum lama ini.

GROBOGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan di Kabupaten Grobogan rupanya masih menyisakan keluhan dari penerima manfaat.

Sejumlah orang tua siswa mengaku anak-anak mereka enggan menghabiskan makanan yang disajikan karena masalah rasa dan tekstur.

Wakid, salah satu wali murid, mengatakan anaknya sering mengeluh soal kualitas makanan MBG.

“Nasinya keras, dagingnya kadang alot, jadi susah dikunyah. Akhirnya anak saya jarang menghabiskan makanannya,” ujarnya.

Senada, orang tua siswa lainnya, menilai menu MBG belum menggugah selera. Menurutnya, dapur sebaiknya melakukan survei lebih dulu sebelum menentukan hidangan.

Meski begitu, keduanya mengakui sejauh ini belum ada kasus makanan basi atau keracunan di sekolah anak mereka.

“Soal keamanan aman, tapi soal rasa masih jadi keluhan,” tambahnya.

Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grobogan, Verliana Dhita, menegaskan pihaknya sudah menyiapkan prosedur ketat untuk menjaga mutu pangan MBG.

Mulai dari pemeriksaan bahan baku, uji rasa oleh petugas gizi, hingga penyimpanan sampel makanan dilakukan di setiap dapur.

“Setiap hidangan sudah dicek rasanya sebelum dibagikan. Dapur juga wajib menyimpan sampel untuk keperluan uji laboratorium jika ada masalah,” jelas Verliana.

Ia menambahkan, semua karyawan dapur diwajibkan menggunakan APD dan menerapkan kebiasaan cuci tangan.

Untuk bahan basah, SPPG menerapkan sistem sekali pesan sekali pakai agar terhindar dari pembusukan.

Selain itu, pengawasan juga melibatkan Dinas Kesehatan serta Dinas Ketahanan Pangan.

Dinas Kesehatan ikut memberikan pelatihan keamanan pangan dan memantau pelaksanaan, sedangkan Dinas Ketahanan Pangan melakukan uji residu pestisida pada sayur dengan test kit.

“Keamanan pangan tetap prioritas. Tapi kami juga terbuka menerima masukan agar hidangan tidak hanya sehat, tapi juga bisa diterima anak-anak,” pungkasnya.

Sejak digulirkan pada Maret lalu, program MBG di Grobogan telah membangun 29 dapur yang beroperasi.

Masih ada 11 dapur lain yang menunggu izin operasional. Dengan demikian, total sudah ada 40 dapur di kabupaten ini.

Menurutnya, jumlah dapur akan terus ditambah. Targetnya, hingga akhir tahun ini sudah berdiri 135 dapur yang siap melayani penerima manfaat.

“Kami optimistis target itu bisa tercapai,” ujarnya. (int)

Editor : Ali Mustofa
#Mbg #keracunan #makanan basi #grobogan banjir