GROBOGAN -Prosesi pengambilan Api Dharma Tri Suci Waisak 2569 BE dilaksanakan di objek wisata Api Abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan.
Acara ini dihadiri oleh sepuluh pimpinan majelis yang tergabung dalam WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), serta ratusan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum pengambilan Api Dharma, ke sepuluh majelis yang terdiri dari Majelis Mahayana, Theravada, Majubhuti, Madatanti, Palpung, Majubhumi, Naga Bodi, Guangji, dan Matresia ini menggelar puja bersama di altar yang terletak di depan Rupang Sakya Muni Buddha.
Kemudian sejumlah bikkhu akan menyalakan lilin lima warna di altar, yakni lilin warna biru melambangkan bakti, lilin warna kuning melambangkan bijaksana, lilin merah melambangkan cinta kasih, lilin warna putih melambangkan kesucian), dan lilin warna oranye melambangkan semangat.
Para perwakilan majelis kemudian akan membacakan parita suci dengan khusyuk dan khidmat.
Setelah itu, para bikkhu, panitia Waisak dan peserta akan beranjak ke arah sumber api abadi yang berada persis di samping Batu Bobot Peninggalan Sunan Kalijaga Abad XV.
Diketahui, Waisak kali ini bertemakan “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Mewujudkan Perdamaian Dunia — Bersatu Mewujudkan Damai Waisak untuk Semua Makhluk”.
Usai prosesi pengambilan api, Api Dharma langsung dibawa menuju Candi Mendut. Esoknya pada Minggu (11/5), dilakukan pula pengambilan air suci dari Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung.
Keduanya kemudian disatukan untuk dibawa ke Candi Borobudur sebagai bagian dari rangkaian perayaan Waisak.
Puncak prosesi Waisak akan berlangsung pada Senin (12/5), bertepatan dengan Hari Raya Waisak 2569 BE, berupa arak-arakan Api Dharma dan Air Suci dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.
Bhante Subhacaro, salah satu biksu dari Majelis Theravada, menyampaikan bahwa makna utama Waisak adalah pengendalian diri yang lahir dari perhatian dan cinta kasih.
"Untuk Waisak ini kita akan laksanakan di Candi Mendut, kemudian dilanjut di Borobudur. Untuk maknanya, sebagai pengendalian diri dari wujud perhatian dan cinta kasih," jelasnya.
Ia pun berharap dengan adanya api Mrapen ini dapat munculkan dalam diri kita.
"Dengan ditimbulkan dalam diri kita, bisa untuk membangkitkan sifat-sifat yang baik pada diri. Membangkitkan semangat kita dalam menghadapi kehidupan. Kemudian selalu semangat menjalani hidup. Semoga makna atau tujuan dan api ini dibawa, biar kita selalu semangat dalam menjalani hidup ini. Sampai tercapainya ke-baqi-an yang sesungguhnya," jelasnya. (Int)
Editor : Ali Mustofa