GROBOGAN – Potensi bonsai di Kabupaten Grobogan bisa dikembangkan sampai tingkat nasional karena banyak penggemarnya.
Hal itu, diungkapkan Bupati Grobogan Setyo Hadi dalam pembukaan kontes bonsai tingkat nasional Grobogan tahun 2025 kerjasama Pemkab Grobogan bersama perkumpulan penggemar bonsai Indonesia (PBBI) Grobogan di Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Minggu (20/4) kemarin.
”Semoga pameran kedepan bisa lebih baik lagi dan pengunjungi lebih ramai. Dan kedepan akan dilakukan secara rutin setiap tahun,” kata Setyo Hadi.
Dia mengaku, sebagai tuan rumah pameran bonsai nasional di Grobogan menjadikan bangga. Sebab, dirinya juga mempunyai hobi koleksi bonsai sejak masih duduk di kelas 1 SMP.
Bupati tahu sejarahnya bonsai dari Jepang dan China. Dimana yang mempunyai bonsai itu kekaisaran dan usianya bonsai sampai ratusan tahun .
”Bonsai sebenarnya punya daya tarik sendiri. Karena ada bentuk seni luar biasa. Kelihatanya tahu sedikit. Batang akar ranting anak ranting. Penataaan bagus. Jangan sampai ada cela lubang,” ujarnya.
Setyo menambahkan, di rumah kediamanya juga ada tanaman bonsai karena senang utak utik taman. Dia menyebutkan bonsai ada dua jenis. Ada bonsai isi dan tanam.
Bahkan dirinya pernah membeli bonsai serut sampai Rp 30 juta karena sebagai dirinya juga konseptor taman.
Salah satu karyanyanya adalah taman pendopo Kabupaten yang diberikan kesan seni taman.
”Saya juga kritik pembuatan Patung Aji Saka di Bledug Kuwu. Bentuknya kecil. Kurang besar. Saya juga ikut konsep pembuatan Patung Kuda Segi Tiga Emas dan Patung di Diponegoro di Getasrejo agar bisa hidup,” terang dia.
Bupati juga memberikan apresiasi tentang adanya pameran bonsai tingkat nasional yang diikuti Seribu Satu peserta di seluruh Indonesia.
Adanya pameran ini bisa dijadikan media bertukar informasi pengukuhan, pengalaman tanaman bonsai.
”Mudah mudahan selain selenggarakan pameran dan kontes. PPBI juga lakukan pelatihan dan pembinaan pecinta bonsai. Agar punya ketrampilan merawat bonsai,” pesanya.
Panitia Pameran Bonsai Nasional Kukuh Prasetyo Rusady mengatakan, ada berbagai macam bonsai yang dilombakan yang diikuti oleh seribu satu peserta dengan empat kelas kategori.
Yakni kelas utama ada 25 pohon, madya 44 pohon, pratama ada 502 pohon dan prospek 430 pohon.
”Pameran bonsai nasional tahun ini yang kedua. Tahun lalu ada 700 peserta dan tahun ini ada 1001 peserta yang mengikuti. Ada yang dari Bali, Lombok, Kalimantan, dan Jawa,” ujarnya.
Dia mengatakan, peserta tidak hanya dari kuantitas tetapi juga kualitasnya meningkat.
Dimana dulu banyak bonsai juara sekarang hanya dapat medali hijau atau kedua. Peserta dari kualitasnya mulai meningkat.
”Juara tahun ini utama dari Bogor, kedua dari Grobogan dan ketiga dari Solo,” tandasnya. (mun)
Editor : Ali Mustofa