GROBOGAN - Ketika melewati jalan Grobogan-Pati tepatnya di Dusun Ngrijo, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan harus ekstra hati-hati.
Jalan tersebut menanjak dan berkelok. Apalagi jalan sempit dan tidak bisa mendahului.
Tepat pas ditikungan tajam turunan dan tanjakan itu ada petilasan batu. Namanya Watu Getuk.
Para sopir dan pengendara lewat jalan itu, melempar uang recehan. Mulai dari seribu, dua ribu sampai lima ribu.
Ada warga sekitar dari Dusun Ngrijo, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan yang bergantian menunggu di sekitar Watu Bobot.
Uang yang dilempar tersebut sebagai sedekah bagi para sopir yang lewat agar diberikan keselamatan.
Konon bagi sopir atau pengendara yang tidak berhati-hati atau tidak sedekah maka akan terjadi kecelakaan.
Kendaraan yang lewat jalan itu, tidak boleh menyepelekan tentang adanya penunggu daerah tersebut.
”Banyak warga yang lewat berikan sedekah setiap hari. Tidak pernah putus sehari semalam. Ini untuk talak balak dan berkah,” kata Suloyo warga Ngrijo yang menunggu daerah tikungan tersebut sambil duduk diangkruk sebelah Watu Bobot.
Menunggu dari tempat dilakukan bergantian dengan warga Dusun lainya. Pergantian shif dilakukan dua jam sekali bergantian dengan warga lainya.
Saat Jawa Pos Radar Kudus ini ikut menunggu dan mengambil foto beberapa sopir yang lewat melemparkan uang pecahan dua ribu ke jalan.
Baik dari kedaraan dari arah Grobogan maupun dari arah Pati.
”Dari warga yang menunggu bergantian untuk menunggunya,” terang dia.
Hal sama juga diungkapkan Wijaya pemilik warung tidak jauh dari lokasi. Bahwa lokasi jalan Watu Bobok dikenal mistis atau horor.
Saat berjualan ditempat itu, dia beberapa kali ditemui dan diganggu mahluk penunggu tersebut.
Bahkan ada beberapa warga yang memberikan sedekah dengan melempar uang recehan bisa sukses.
”Ada orang datang kesana dan memberikan bancaan tempat itu, karena usaha sukses karena setiap hari lewat situ dan bersedekah tempat itu sukses,” kat Wijaya pemilik warung yang sudah berjualan sejak tahun 2005 sila.
Selain memberikan berkah, tempat itu juga mistis. Sebab, tempat jualanya tersebut ada seorang sedang mampir dan tidak percaya adanya mitos mistis itu, Terus bilang sambil menyepelekan dengan bilang.
”Kabeh iku ya takdire Gusti Allah,” kata dia.
Terus dia jawab apa jenengan Salat nyembah Syetan. Semua ada tempatnya sendiri. Sehingga harus percaya ada alam gaib dan alam nyata.
”Seketika mobilnya jalan sendiri dan menabrak kios warung saya Mas. Lach dia bingung mobil belum nyala kok jalan sendiri,” kenangnya dia dengan meminta ganti rugi pada sopir tersebut.
Menurutnya warga lewat harus sopan dan tidak ugal-ugalan serta tertib di jalan raya. Sehingga tidak menyalip dan terjadi kecelakaan.
Rata-rata kecelakaan terjadi karena pengendara ugal-ugalan dan tidak sopan saat lewat dengan menyepelekan tempat Watu Pawon.
”Disini sering terjadi kecelakaan karena pengendara ugal-ugalan menyalip padahal jalanya sempit. Kebanyakan orangya menyepelekan,” aku dia.
Pengalaman saat berjualan di tempat itu, dirinya juga didatangi oleh sosok mahluk halus dengan menyamar orang tua, rambutnya putih, bawa tongkat. Dari orang tua itu bilang.
”Kamu boleh berjualan disitu gak papa saya gak makan nasi,” kata sambil mengenang kejadian itu.
Dia juga beberapa kali diminta oleh anaknya tidak berjualan di tempat itu. Namun, pihaknya tidak takut karena berniat bekerja.
Kejadian lainya juga diganggu dengan dimatikan listrik, saluran radio dirubah dan yang lainya.
Selain itu, dirinya juga bercerita bahwa ada beberapa para normal juga datang untuk mengambil pusaka di tempat itu.
Dari perburuan itu, berhasil membawa beberapa akik, cincin dan yang lainya.
Kemudian dirinya meminta dari paranormal itu salah satu cincin ya. Tetapi ada syarat yang harus dipenuhi. Dia menjajal salah satunya.
”Malam harinya saya ditemui mahluk besar hitam dan sosoknya menakutkan. Terus bilang saya tidak mau ambil,” terang perempuan yang berasal dari Blitar Jawa Timur dapat suami orang Desa Sumberjatipohon.
Dia mengaku, bahwa ditempat tersebut sering terjadi kecelakaan. Saat itu, ada truk bawa muatan batu.
Kemudian dari truk tersebut tidak bisa menanjak dan mundur terkena kendaraan beruntung di belakangya.
Banyak juga kejadian orang meninggal dunia ditempat itu juga karena kecelakaan.
”Sering kecelakaan karena kendaraan mepet kendaraan di depanya dan mobil depanya mundur tergencet. Ada juga yang mencoba menyalip dan terjadi tabrakan karena kendaraan di depanya,” tandasnya.
Sementara itu, Watu Getuk yang mempunyai lokasi jalur Purwodadi-Pati, tepatnya di tanjakan Alas Guwomanik, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan.
Saat melewati lokasi tersebut akan melihat sejumlah orang duduk-duduk di tepi jalan.
Mereka bukan pengemis yang meminta-minta di jalanan. Mereka warga Dukuh Ngrijo, Desa Jatipohon, Kecamatan Grobogan yang memanfaatkan kepercayaan orang terhadap mitos Mbah Watugethuk.
Wujud Mbah Watugethuk adalah seonggok batu. Karena dipercaya sebagai penjaga kawasan itu, ia dikeramatkan.
Pengguna jalan melempar uang receh untuk beroleh keselamatan. Watu gethuk merupakan salah satu situs budaya yang dimiliki Perum Perhutani KPH Purwodadi, masuk dalam kawasan hutan petak 106c RPH Ngrijo BKPH Jatipohon KPH Purwodadi.
Kisah-kisah yang dituturkan warga makin memperkuat mitos Mbah Watugethuk. Konon menurut Suwarti, sesuai namanya, batu itu berasal dari gethuk (penganan dari ketela pohon).
Arkian seorang pedagang gethuk dari Sukolilo Pati berjalan menuju Purwodadi. Sampai di tanjakan Alas Guwomanik, dagangannya tumpah dan seketika berubah menjadi batu. Sejak itu orang mengeramatkan batu tersebut.
Tak berbilang cerita berbau mistik yang disampaikan warga. Tentang pengendara mobil yang mengalami kecelakaan karena meremehkan Mbah Watugethuk.
Atau Mbah Watugethuk yang pindah secara ghaib usai dipindahkan ke tempat lain saat pelebaran jalan Purwodadi-Pati tahun 1977. (mun/him)
Editor : Ali Mustofa